Tag Archives: Bus

Bus yang Membawa Kerinduan (Bagian 2)

Dirogohnya ponsel dari saku bajunya, dilihatnya layar ponsel, didekatkannya alat komunikasi tesebut di telingannya. Mulailah ia bergumam menjawab panggilan yang ia terima. “Ya, mah ini baru sampai terminal tirtonadi…Pasti dibawain…Ya dong…Papa juga…Dah…”

Si penelpon itu pasti istrinya, bukan yang lain-lain. Melalui kata “papa juga” kodektur itu membalas dengan ucapan “I love you mamah” dengan nada yang penuh kerinduan. Hey, seorang kondektur juga berhak ber “papa-mamah” dengan mesra kepada istrinya bukan? Apalagi—berbeda dengan sopir—kondektur boleh bertugas dua atau lebih secara berturut-turut. Jelas alasannya; jika sopir harus segar sepanjang jalan, kondektur boleh sekali tidur di perjalanan. Bukan tidak mungkin kondektur ini sudah meninggalkan istri dan anak-anaknya seminggu lebih. Tahu kan bagaimana rasanya memendam kerinduan selama itu?

Seorang lelaki membawa buntalan muncul dari belakang, lalu berdiri di ujung depan lorong, menghadap penumpang. Usianya 20-an dengan toleransi sampai 36 tahun. Dari dalam buntalan yang tidak terlalu besar tersebut, dirogohnya sesuatu yang kemudian ia perlihatkan kepada para penumpang. Wajahnya lelah, tapi ia samarklan dengan senyum dan sura yang mapan. “Ini suatu paket Berisi pulpen, pensil penggaris, penghapus dan lain-lain. Sangat cocok buat anak sekolah. Kalau bapak dan ibu beli barang ini satu-satu, dijamin harganya lebih dari Rp. 10.000, berhubung langsung ambil dari agen, saya tawarkan satu paketnya cukup Rp. 5.000 perak. Maaf saya bagikan satu-satu. Kalau tertarik, silahkan. Kalau tidak, barang akan saya ambil kembali.“ Ucapnya menarik minat para penumpang bus.

Dibagikannya alat paket tulis itu kepada semua penumpang kecuali penumpang yang tidur dan yang pura-pura tidur. Setelah membagikan dagangannya, ia kembali ke deret bangku terdekat mengambil lagi satu persatu paket alat tulisnya. Baik kepada yang membeli maupun yang tidak, ia mengucapkan terimakasih. Bedanya kepada yang membeli, ia tambahkan ucapan alhamdulilah disertai doa semoga mendapat limpahan rezeki.

Ia turun lewat pintu belakang saat bus menepi sejenak. Dan di luar sana ia akan menunggu bus dengan arah sebaliknya, menawarkan kembali barang yang tidak laku kepada para penumpang di bus tersebut, lalu turun di tempat ia naik bus ini, untuk kemudian naik bus lagi dengan arah yang sama dengan bus ini. Begitu seterusnya sampai ia berjualannya di malam itu dirasa telah cukup, lalu pulang ke rumah menemui istri dan anaknya yang mungkin masih kecil. Ia akan disambut istrinya dengan penuh harap dan rindu.

Seorang perempuan menyelinap sedikit bergegas di lorong bus sambil menenteng ukulele. Tercium bau parfum bercampur keringat ketika ia lewat.. Punggungnya disandarkan di tepi sandaran jok depan sisi kiri. Ia berkaos abu-abu lengan panjang dan celana jeans biru, dengan rambut sebahu yang disisir ke belakang dengan wajah yang dipoles bedak tipis. Kutaksir usianya 30-an. Tapi kalau ia jenis wanita yang punya beban hidup berat, bisa saja usianya baru 25 tahun.

Ia mulai petik ukulelenya. Lewat alat musik itu, keluarlah nada-nada intro yang dinamis. Lalu mengalun dari bibirnya yang berpola merah “kalau hatiku sedang rindu pada siapa ku mengadu, karena hati bertanya selalu, bertenanglah air mataku.”

Perlahan celotehan penumpang bus mereda, lalu senyap. Yang terdengar kemudian hanya suara jernih sang pengamen dan genjrengan ukulelenya. Bahkan sopir sengaja melepaskan injakan gas sehingga deru mesin bus nyaris tak terdengar. Mungkin inilah yang disebut, seluruh bus terkena sihir nyanyian sang pengamen.

Suaranya sangat merdu untuk ukuran pengamen biasa. Cengkok dangdutnya pas, lengkingannya jernih, mengingatkanku kepada diva terkenal Ike Nurjannah. Tunggu, apakah ia ternyata penyanyi dangdut betulan? Atau ia mengamen hanya sebagai sampingan di tengah sepinya orderan pangguang.

Tak seperti kepada pengamen umumnya, para penumpang memberikan tepuk tangan ketika pengamen itu menyelesaikan lagunya, seakan-akan mereka baru saja menonton konser dangdut. Hampir semua penumpang memberikan rupiah kecuali mereka yang tidak menghargai indahnya nyanyian. Kurelakan dengan ikhlas selelmbar 10 ribuan kepada bungkus permen yang disodorkan perempuan itu, “terimah kasih mas” desaknya, sambil tersenyum tulus.

Ia turun di Cileunyi ketika bus berhenti. Ia menyebrang jalan dan pasti menunggu bus ke arah semula. Setelah bolak-balik dua atau tiga kali, mungkin ia akan pulang. Bisa saja ia mengamen untuk membantu suaminya yang baru kena PHK. Mungkin juga ia janda dengan seorang bocah yang menunggu di rumahnya. Bagaimanapun, ia akan pulang dengan penuh rasa rindu dan segumpal uang saku yang cukup buat makan beberapa hari ke depan.

Lepas dari Jatinangor, bus memasuki jalan raya yang menanjak, berliku dan lenganang. Sopir masih sesekali menyandungkan tembang cianjuran. Aih, jangan-jangan sopir itu punya pekerjaan sampingan sebagai juru pawil.

senandung sopir itu membuatku—begitu juga penumpang lain—mengantuk. Apakah sopir sengaja membuat penumpang mengantuk dan tertidur lelap? Beberapa saat sebelum kehilangan kesadaran, yang kudengar hanyalah deru mesin bus dan desis samar angin yang menyelinap lewat kaca sebelah kanan sopir. Selebihnya, kami lelap.

Pastilah tidurku sangat nyenyak. Dua jam berikutnya, diantara sayup-sayup, aku hanya mendengar suara pedagang menawarkan tahu sumedang. Setelah itu, aku juga setengah sadar ketika bus melaju kencang di jalan tol. Sudah melewati Cikande rupanya. Tak sampai lebih dari 3 jam lagi, kami akan sampai di kota yang dituju. Masih kurasakan guncangan-guncanagn kecil bus dan senandung cianjuran dari bibir sopir. saat aku terlelap lagi…

Ketika ku buka mata, kondisi badan terasa segar. Jam di atas kaca bus hampir menunjukan angka 9. Beberapa puluh menit lagi, bus akan tiba di tujuan. Namun suasana begitu lengang kurasakan.

Tak ada suara, selain deru mesin bus yang melaju di jalan lurus tengah hutan. Gelap sekeliling, kecuali sorot lampu jauh bus. Tunggu, di mana ini? aku tak pernah mengenal tempat seperti ini selain jalan tol, jalan yang biasa kutempuh adalah jalan berliku. Aku celingukan, semua penumpang masih terlelap. “Pak sopir, kita sudah sampai mana?” Ucapku sambil berdiri. Tak ada jawaban. “Pak sopir…” lirihku lagi.

Tak ada siapapun di bangku sopir. Bus melaju kencang sendiri. Membawa rindu kami entah menuju kemana.()