Tag Archives: sejarah lirboyo

Kiai Anwar: Pesantren Tak Pernah Ketinggalan Memperjuangkan Kemerdekaan

“(Lirboyo) ini adalah pusat kegiatan gerilya di Jawa Timur. Jadi, santri-santri Lirboyo tidak lepas, artinya tetap ikut berjuang mempertahankan negara kita Republik Indonesia. Banyak santri-santri yang diberangkatkan ke Surabaya. Malah Mbah Kyai Mahrus (KH. Mahrus ‘Ali) sebagai pimpinan Hizbullah Jawa Timur. Sering beliau berangkat ke Surabaya untuk mengantarkan santri-santri yang berangkat ke sana. Dan seluruh pondok pesantren, kyai-kyai yang ada di Jawa Timur, itu berangkat ke Surabaya untuk memutlakkan (kedaulatan) NKRI, negara Republik Indonesia. Jadi, perjuangan pondok pesantren tidak kecil. Semua kyai, santri pondok pesantren berangkat. Dari pondok-pondok yang kecil, kyainya berangkat semua. Jangan dianggap kita diam saja. Tapi sesudah berjuang (selesai) ya sudah, kyainya kembali ke pondok pesantren, santrinya kembali ke pondok pesantren.  Yang meneruskan (perjuangan) banyak, tapi yang kembali ke pondok pesantren lebih banyak, sebab memiliki tanggung jawab untuk membina masyarakat Indonesia untuk betul-betul menjadi masyarakat yang sempurna hidupnya. Utamanya dalam masalah agama. Ini, jadi perjuangannya, pada waktu berjuang prei (libur) semua.

Malah pernah dulu Mbah Kyai Abdul Karim wiridan di dalam, Belanda di sini (sekitar area masjid) mencari Mbah Kyai Mahrus. Ketemu sebenarnya, tapi tidak tahu. Belanda tidak tahu, sebab Kyai Mahrus di lih (ganti) namanya, Rusydi (nama kecil beliau). Jadi ,tidak tahu, (malah) yang dicari Kyai Mahrus. Tapi sebetulnya, Mbah Kyai Mahrus itu sudah ketemu sendiri dengan  Belanda. Ketemu, betul itu. Tapi ditanya, namanya Rusydi, bukan Mahrus.

Lha, Mbah Kyai (Abdul Karim) itu tidak pernah pulang dari masjid. Terus wiridan sama santri. Sebanyak empat puluh santri, itu yang mengikuti wiridan Mbah Kyai (Abdul Karim). Kalau waktu serangan ke Surabaya itu, menghadapnya ke sana, ke Surabaya. Santri-santri diajak wiridan menghadap ke sana (Surabaya) untuk menghancurkan Belanda.

Alhamdulillah, dengan perjuangannya para kyai, Allah memberikan pertolongan, kita diberikan aman sampai sekarang. Jadi ini sejarah Lirboyo, tidak ketinggalan memperjuangkan Republik Indonesia. Termasuk Haji Syafi’ Sulaiman, itu yang masuk menjadi tentara. Banyak yang menjadi pimpinan tentara. Tapi begitu selesai, ya pulang sendiri-sendiri dan tidak diteruskan. Ini adalah perjuangan, demi untuk kemerdekaan tanah negri kita.

Kemudian peristiwa yang kedua, tahun empat puluh delapan, peristiwa Madiun, waktu itu Mbah Kyai (Abdul Karim) akan dibunuh. Sudah masuk di ndalem situ (ndalem KH. Abdul Karim). Sore itu saya bal-balan (bermain sepak bola) –saya maih kecil, masih umur delapan tahun- bal-balan disitu dengan anak Banyuwangi namanya Mahfudz. Mbah Kyai (Abdul Karim) datang ke pondok membawa lampu, supaya diisi minyaknya. Minyaknya habis. Jam satu malam Mbah Kyai (Abdul Karim) mbengok (berteriak),

Coo! Maling! Iki maling nyowo duduk maling bondo!’ (Coo! Ada maling! Ini maling nyawa bukan maling harta!)

Itu sudah masuk di ndalemnya Mbah Kyai (Abdul Karim). Alhamdulillah selamat Mbah Kyai (Abdul Karim). Itu peristiwa empat delapan.

Kemudaian peristiwa enam lima, enam enam (peristiwa PKI), ini pimpinan dari Lirboyo adalah Mbah Kyai Ma’shum (KH. Abdullah Ma’shum  Jauhari). (Beliau) tidak pernah ketinggalan. Bagian PKI yang jaduk-jaduk (sakti-sakti) itu musuhnya Mbah Ma’shum. (Sungai) Brantas itu dulu mengalirnya bukan air, tapi orang. Kiriman dari Blitar, kiriman dari Tulungagung, sampai di Kediri. Ini memang ada yang jaduk, PKI itu jaduk, dibacok tidak apa-apa. Akhirnya ada menjalin (rotan) dari Mbah Kyai Badrus. Itu (PKI) disabet menjalin Alhamdulillah bisa mati. Mandi menjaline timbang pedange.

Niki sejarah, jadi kita tidak pernah ketinggalan dalam memperjuangkan sejarah Republik Indonesia. Maka sekarang Alhamdulillah diteruskan oleh generasi muda, mudah-mudahan kita akan bisa melanjutkan perjuangan dari sesepuh kita semua. ”

 

(Disarikan dari sambutan KH. M. Anwar Manshur dalam Silaturahim Kirab Resolusi Jihad di serambi Masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo, Ahad 16 Oktober 2016 M.)

Mengenang Sosok dan Perjuangan KH. Abdul Karim

Dalam haul KH. Abdul Karim (Mbah Manab) 25 Juni 2016 kemarin, KH. M. Anwar Manshur mengungkapkan sedikit kisah mengenang kembali kehidupan dan perjuangan Mbah Manab,

 

Naliko ting Bangkalan niku tasih kasb, tasih nyambut gawe. Naliko wayah panenan dateng Jember, golek panenan ting Jember. Akhir ipun kalih Mbah Kyai Kholil dipun coba, dipenging nyambut gawe. Dadi saking wangsul saking Jember dugi Stasiun Bangkalan niku dipapak kalih Mbah Kyai Kholil. ‘Oleh beras kang?’ (Nek nyeluk niku Kang Manab.) ’Nggeh’. Nggowo beras niku rong kandi. ‘Peneran kang, pitikku luwe.’ Dijaluk, disebar ting stasiun niku. Dipangan pitik sak stasiun. Mbasan berase telas yo pitike ra enek, lajeng Mbah Kyai paham mboten angsal kasab. Lajeng dijoli. ‘Wes, berasmu tak joli wit Bentis’. Berarti geh niku. Nek dahar nggeh (menawi) mboten godonge nggeh wohe.

Ketika masih di Bangkalan (nyantri kepada Syaikhuna Kholil) beliau masih sambil bekerja. Ketika tiba waktu panen, beliau pergi ke Jember. Akhirnya oleh Kyai Kholil diuji, dilarang untuk bekerja. Sepulang dari Jember, tiba di stasiun Bangkalan di hadang oleh Kyai Kholil. “Dapat beras kang?” “Nggeh”. Beliau membawa beras dua karung. “Kebetulan kang, ayamku lapar.” Berasnya diminta, lantas di sebar di stasiun Bangkalan. Dimakan oleh ayam-ayam yang berada di stasiun. Anehnya, ketika beras tesebut habis dimakan, ayam-ayam itupun tiba-tiba menghilang. Akhirnya Mbah Manab memahami kalau beliau dilarang bekerja. Beras tersebut akhirnya ditukar, “Sudah, berasmu aku tukar mengkudu.” Berarti, yang beliau makan hanya itu. Jika tidak daun mengkudu, buahnya.

 

Dadi ting Lirboyo niku ceritane ngeten, dadi riyen niku mantan lurah Lirboyo niku wong Solo tiang sae. Nyuwun dateng Mbah Yai Soleh supados salah setunggale putrane dipun panggenaken Lirboyo. Akhir ipun Mbah Soleh dateng mriki, di istikhorohi, sae. Jane Mbah Kyai niku nyuwune ting Kemuning. Tapi mergo gersang niku mboten angsal. Gersang, saestu. Mboten kenek damel pondok. Akhire dipun seleh mriki. Wong mriki niku taseh mboten karu-karuan polahe. Lirboyo niku ngoten asale. Lajeng dipun boyong mriki, didamel aken omah. Omahe niku gedek, sing digedeki mung separo, sing separo dereng. Mbah Kyai Abdul Karim dipun pindah mriki. ‘Wes kang, niki umah sampean’ Digawani sego sak cething. Niku nembe telung ndino Mbah Nyai dipun boyong mriki. Niku sak ngertos kulo ngoten. Critane ibu kulo ngoten. Telung dino Mbah Nyai dipun boyong mriki, niku nggeh namung ngoten niku thok. Omahe niku dereng onten napa-napane namung gedeke separo. Nggeh mpun namung ngoten niku.”

Jadi sejarah beliau di Lirboyo itu ceritanya seperti ini, dahulu mantan lurah Lirboyo adalah orang Solo dan termasuk orang salih. Meminta kepada Mbah Soleh (Banjarmelati) agar salah satu putranya ditempatkan di Lirboyo. Akhirnya Mbah Solehpun berkunjung ke Lirboyo, di istikhorohi, hasilnya baik. Sebenarnya Mbah Manab meminta ditempatkan di Kemuning. Tapi karena tempatnya gersang jadi tidak diperbolehkan. Tanahnya gersang, tidak bisa didirikan pondok. Akhirnya ditempatkan di sini (Lirboyo). Warga Lirboyo ketika itu masih tidak karu-karuan kelakuannya. Akhirnya di pindahkan di sini dan dibuatkan rumah. Rumahnya terbuat dari gedek, dan yang digedeki hanya separuh saja. Yang separuh tidak diapa-apakan. KH. Abdul Karim dipindahkan disini, “Wes kang, ini rumah anda” dibekali nasi satu cething. Tiga hari kemudian barulah Bu Nyai Dhomroh dipindahkan kesini. Setahu saya seperti itu. Sesuai cerita ibu saya. Tiga hari Bu Nyai dipindahkan ke sini rumahnya belum ada apa-apanya. Hanya rumah gedek separuh. Hanya seperti itu saja.

 

Dadi ting Lirboyo niku ontene namung ngaji thok, mboten ngertos nopo-nopo. Mbah Kyai Abdul Karim niku kalih duit mawon mboten ruh. Ngertos kulo ngaten, kulo niku taseh cilik, niku kulo saking Jombang asale, ting Lirboyo niki mangke nek ajeng wangul pamitan Mbah Kyai Abdul Karim niku mangke dituduhi. ‘Iki piro?’ Taseh enggal-enggale duit Republik Indonesia. Nek sek abang niku sak rupiah, nek sing biru niku sak ringgit. Rong Rupiah setengah. Kulo matur, ‘Niki setunggal rupiah, niki sak ringgit’ Dadi mboten ngertos, namung didekeaken Dalalil niku. Sing abang di wor abang. Sing biru di wor biru. Niku Mbah Yai Abdul Karim, ora ngerti blas karo duit.”

Di Lirboyo (Mbah Manab) hanya mengaji saja. Tidak tahu menahu apa-apa. KH. Abdul Karim dengan uang saja tidak tahu, setahu saya ketika masih kecil. Saya asalnya dari Jombang. Di Lirboyo ketika hendak pulang berpamitan dengan KH. Abdul Karim diperlihatkan (ditanyai), “Ini (uang) berapa?” ketika itu masih baru keluar uang Republik Indonesia, yang berwarna merah nilainya satu rupiah, dan yang berwarna biru nilainya satu ringgit, dua setengah rupiah. Saya jawab, “Ini satu rupiah, yang ini satu ringgit”. Jadi beliau tidak faham dengan uang. Uangnya disisipkan dalam kitab Dalail, yang berwarna merah dicampur merah, dan yang berwarna biru dicampur dengan biru. KH. Abdul Karim tidak tahu sama sekali dengan uang.

 

Mbah Yai Abdul Karim termasuk qona’ahe, niku. Kepingin tempe niku, tempe niku regane mung sak cetheng. Niku dipertahankan ngantos telung tahun nembe tumbas tempe goreng. Mergo nopo? Ngeker syahwat. Ojo sampe kekarepane dituruti. Jane umpamane tuku geh kuat, tapi di mpet. Ojo sampe kekarepane nafsu dituruti. Niku sampe telung tahun nembe tumbas tempe.”

KH. Abdul Karim termasuk sangat qona’ah. Pernah menginginkan makan tempe tapi tidak dilakukan sampai tiga tahun baru membeli tempe goreng. Padahal tempe harganya hanya satu cetheng. Karena apa? Mengekang syahwat. Jangan sampai keinginannya dituruti. Sebetulnya, beliau mampu membelinya, namun ditahan. Jangan sampai keinginan nafsu dituruti.

 

Qona’ah ipun mbah Kyai Abdul Karim niku, nek kaleh dunyo mboten sumerap. Nek dahar niku, kulo taseh sumerap, kulo menangi sekedap. Mbok bilih Bu Fathimah ibune Gus Huda niku taseh menangi katah (Sore itu KH. Nurul Huda Ahmad hadir di majlis haul). Dadi namung disediani sak piring, kulo kelingan niku. Jangane ting mangkok niku, lajeng sukani tempe kaleh tahu. Niku mboten di dahar sedoyo, di dahar sebagian lajeng mangke lintune diparingake kendil disukani tuyo dipakakne weduse. Sebab weduse niku wedus poan. Dadi poane di unjuk lajeng segane sebagian di wehne ting weduse. Niku taseh kelingan kulo. Riyen gadah kurungan ageng niko, damel ngurungi wedus.

Sifat qona’ah KH. Abdul Karim, beliau tidak mengerti dengan dunia. Kalau makan,-Dulu saya pernah melihat- disediakan piring, saya ingat. Sayurnya diletakkan di mangkok, lantas diberi tempe dan tahu. Tidak dimakan semuanya. Dimakan sebagian, yang sebagian diberikan kepada kambing beliau. karena kambing beliau kambing perah, air susunya di minum, dan nasinya sebagian untuk memberi makan kambing. Saya masih ingat. Dulu beliau mempunyai kurungan besar untuk mengurung kambing.

 

“Dados ting mriki niku namung sedino sewengi, ngopeni santri, ngaji. Sing ngatur ma’isyah Mbah Nyai Dhomiroh. Ngantos tumbas tanah-tanah sing sak niki dipanggeni Mbah Kyai Marzuqi, Mbah Kyai Mahrus, Gus Imam, niku sedoyo Mbah Nyai. Mbah Kyai mboten ngertos nopo-nopo. Entene namung ngopeni santri. Mulai subuh ngantos dhuhur niku ngaji. Mangke dawuhe mak niku jam rolas nopo jam pinten wangsul, ganti mulang anake ting ngomah. Sonten mantun dhuhur terus budal maleh ting masjid ngaji, ngantos ashar. Ba’da ashar wangsul. Mari isya’ ngaji ngantos jam rolas ndalu. Ontene namung ngoten. Dawuhe Mbah Mahrus nalikone anyar-anyare dados mantu niku nate mirsani, dados Mbah Kyai Abdul Karim niku kundur saking masjid jam rolas niku mboten sare, lajeng tahajjud ngantos subuh. Dadi mboten nate sare.”

Jadi disini (Lirboyo) sehari semalam hanya mengurusi santri, dan mengaji. Yang mengatur kehidupan sehari-hari Bu Nyai Dhomroh (Istri beliau). Sampai membeli banyak tanah yang sekarang menjadi kediaman Mbah Kyai Marzuqi, Mbah Kyai Mahrus, Gus Imam. Itu semua Bu Nyai. Mbah Kyai tidak tahu menahu apa-apa. Yang ada hanya mengurusi santri. Mulai subuh sampai dhuhur mengaji, nanti -menurut ibu saya- jam dua belas atau entah jam berapa pulang. Bergantian mengajar putra-putri beliau di rumah. Sore setelah dhuhur kembali berangkat mengaji lagi di masjid sampai asar. Setelah asar pulang. Setelah isya’ mengaji sampai jam dua belas malam. Hanya seperti itu. Menurut cerita Mbah Mahrus ketika masih baru menjadi menantu KH. Abdul Karim, beliau (KH. Mahrus ‘Aly -Red) pernah melihat, jika KH. Abdul Karim pulang dari masjid jam dua belas malam tidak lantas tidur. Akan tetapi lantas bertahajjud sampai subuh. Jadi, (Mbah Kyai Abdul Karim) tidak pernah tidur.[]

Haul KH. Abdul Karim; Sejenak Mengenang Kembali Sosok Beliau

KH. Abdul Karim yang dulu biasa dipanggil Mbah Manab, guru kita semua, beliau merupakan pendiri Pondok Pesantren Lirboyo. Beliau dilahirkan di Dusun Banar, Desa Deyangan, Kec. Mertoyudan, Magelang pada tahun 1856, dan wafat pada hari senin ba’da zuhur tanggal 21 Ramadan 1374 H, atau 1954 M. Memang sudah enam puluh dua tahun sejak beliau wafat, namun dengan digelarnya acara semacam haul ini, kita dapat mengenang kembali sosok yang kita teladani tersebut. Serasa beliau kembali hadir di tegah-tengah kita. “Mugi-mugi barokah kito haul, kito sedoyodipun paringi barokah uripe, barokah keluargane, barokah sedayane.” (Semoga dengan berkah kita mengadakan haul, kita semua diberikan kehidupan yang berkah, keluarga yang berkah, dan segalanya diberkahi.) Demikian mengutip doa KH. M. Anwar Manshur.

Sore kemarin (25/06) atau bertepatan dengan 20 Ramadan 1437 H, kembali diperingati haul KH. Abdul Karim dan dzuriyah Ponpes Lirboyo lain. Dalam haul ini hadir dzuriyah-dzuriyah KH. Abdul Karim baik putra maupun putri. Untuk dzuriyah putri disediakan tempat di serambi keramik, bawah kantor sekretariat Ponpes Lirboyo. Seperti biasanya haul dilaksanakan setelah jama’ah salat asar di Masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo. Sebelum acara haul, tak lupa digelar khataman Alquran di maqbaroh Ponpes Lirboyo. Banyak alumni dan santri yang hadir dalam acara sore kemarin. Ada santri kilatan, alumni yang sengaja datang dari rumah masing-masing, dan santri yang masih bersomisili di Ponpes Lirboyo. Mereka memadati area Masjid Lawang Songo hingga membeludak membanjiri sekitar area masjid, seperti halaman ndalem dan maqbaroh. Dari halaman ndalem sudah disediakan layar, jadi mereka yang hadir bisa tetap khidmat mengikuti jalannya prosesi haul.

Diawali dengan pembacaan Tahlil dan surat Yasin yang dipimpin oleh KH. Nurul Huda Ahmad, lalu dilanjutkan dengan mengenang sejarah kehidupan KH. Abdul Karim. KH. Anwar Manshur mengisahkan sedikit tentang riwayat KH. Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo. Di mata beliau, KH. Abdul Karim, atau Mbah Manab adalah sosok yang sangat qona’ah, dan sangat perhatian kepada santri-santrinya. Beliau mengaji sejak subuh hingga tengah malam. Dan malam beliau tidak tidur, akan tetapi beribadah kepada Allah SWT, “Dawuhe Mbah Mahrus nalikone anyar-anyare dados mantu niku nate mirsani, dados Mbah Yai Abdul Karim niku kundur saking masjid jam rolas niku mboten sare, lajeng tahajjud ngantos subuh.” (Menurut penuturan KH. Mahrus ‘Aly ketika baru saja menjadi menantu KH. Abdul Karim, beliau pernah melihat sendiri KH. Abdul Karim pulang mengaji dari masjid jam dua belas malam lantas tidak tidur. Akan tetapi bertahajjud hingga datang subuh.) Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat istiqomah, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menggambarkan sosok beliau, “Saya ingat apa yang dikatakan oleh orang tua saya, Mbah Kyai Abdul Karim itu orang yang sangat isiqomah mengaji. Mendahulukan pesantren itu luar biasa. Sampai tidak mengurusi dunia, tidak mengurusi apa-apa. Hanya santri itu, didoakan. Santri diwulang (diajar-Red) dan didoakan. Tidak diwulang saja tanpa doa, tidak didoakan saja tanpa diwulang. Tapi diwulang dan didoakan.” Beliau menambahkan, “Diantara pesan KH. Abdul Karim, beliau sangat mendorong santrinya ngaji. Mulang di rumah. Insya Allah kalau mulang, mengamalkan ilmu, insya Allah hidupnya tidak akan tersia-sia. Jadi thoriqohnya Lirboyo itu, ta’lim wa ta’allum, mulang ngaji dan mengamalkan ilmu, mengajarkan ilmu. Insya Allah kalau orang itu mengaji, mulang, mengamalkan ilmu, insya Allah barokahnya sampai ke anak turun.” KH. Marzuqi Dahlan (Mbah Marzuqi) pun demikian, di mata Kyai Anwar, Mbah Marzuqi sangat mementingkan ngopeni santri. “Dadi le ngopeni santri niku saestu. Ngungkuli ngopeni putrane. Mergo rumongso angsal amanat, ngopeni anake wong katah.” (Mbah Marzuqi dalam mendidik santri sangat bersungguh-sungguh. Lebih dari beliau mendidik putra-putranya sendiri.  Karena merasa mendapatkan amanat mengurusi anaknya banyak orang.)

Semoga kita senantiasa dapat meneladani beliau-beliau, dan mendapat ridho serta barokahnya. Tersisip dalam doa, untuk KH. Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus ‘Aly, Al-fâtihah ……. []

Kisah KH. Abdul Karim Ditempatkan Di Desa Lirboyo

Cerita ini dituturkan oleh KH. M. Abd. Aziz Manshur dalam peringatan satu abad Ponpes Lirboyo.

Satu abad yang lalu, tanah Lirboyo masih merupakan tanah rimbun, bersemak dan belum berpenghuni. Disitulah hadhratal mukarrom KH. Abdul karim ditempatkan oleh mertuanya, KH. Sholeh Banjarmelati sebagai orang yang kelak akan mendidik dan mengajar sebuah pesantren besar dengan nama Pondok Pesantren Lirboyo.

Berawal dari Tebuireng, ketika itu Kyai Manab (Nama KH. Abdul Karim sebelum beliau berangkat haji) masih berada di pondoknya Hadratussyaikh KH. Hasyim As’yari. Beliau ditawari oleh KH. Hasyim As’yari ketika KH. Sholeh Banjarmelati datang berkunjung ke Tebuireng untuk mencarikan jodoh putrinya, Kyai Manab dipanggil oleh Kyai Hasyim, “Celukno kyai Manab” (Panggilkan Kyai Manab). Beliau ditawari oleh Kyai Hasyim, “Kyai Manab niki onten tiang golek mantu. Sampeyan ajenge kulo jodoake,” (Kyai Manab, ini ada orang cari menantu. Anda akan saya jodohkan) “Nggih”. Beliau hanya menjawab dengan sepatah kata saja yang membuktikan amat patuhnya beliau.

Singkat cerita, setelah beliau Kyai Manab diambil menantu oleh KH. Sholeh selama satu tahun dan telah memiliki seorang putri, Nyai Hannah (Ibunda dari KH. Ibrahim A. Hafidz), Ketika itu pula, beliau sudah memiliki dua orang santri yang ikut mengaji di Banjarmelati, KH. Sholeh berencana menempatkan Kyai Manab di tempat lain. Persisnya di Lirboyo.

Pada mulanya, KH. Abdul Karim hanya dibuatkan sebuah “gubuk” di Lirboyo. Empat pilarnya hanya diambilkan dari batang pohon lamtoro. Dinding dan atapnyapun amat sederhana, hanya terbuat dari daun kelapa. Itupun hanya sampai setengah badan. Kemudian setelah “gubuk” tersebut berdiri sekitar satu minggu, tiba-tiba pada suatu pagi KH. Sholeh dawuh kepada Kyai Manab, “Kyai Manab, monggo nderek kulo” (Kyai Manab, ayo ikut saya.)

Kyai Manab hanya menjawab dengan sepatah kata, “Nggeh” (Ya)

KH. Sholeh mengajak serta dua santri Kyai Manab untuk turut serta menemani Kyai Manab untuk bermukim di Lirboyo. Kedua santri tersebut disuruh membawakan perbekalan Kyai Manab yang hanya berupa seekor ayam jago, tikar, dan beras satu ceting. Hanya itu kira-kira yang turut dibawa.

Menaiki sebuah dokar, perjalanan dari Banjarmelati menuju Lirboyo ditempuh. Sesampainya di Lirboyo, rombongan diajak masuk ke sebuah kebun. Kira-kira sekarang tempat itu adalah ndalem Ibu Nyai Hj. Qomariyyah.

Kyai Manab kemudian diajak masuk “gubuk” tadi oleh KH. Sholeh. KH. Sholeh menyuruh santri yang ikut untuk menata perbekalan Kyai Manab yang dibawakan.

Kene santri, klosone beberen. Pitike cencangen neng cagak kono. Berase dekek kene.” (Sini! Gelar tikarnya, ikat ayamnya di pilar sebelah sana, berasnya diletakkan disebelah sini.)

Setelah beberapa saat berbincang-bincang, KH. Sholeh dawuh  “Kyai Manab, ting mriki panggenan sampeyan.” (Kyai Manab, disinilah tempatmu.) Kyai Manab lagi-lagi hanya menjawab, “Nggeh

KH. Sholehpun kemudian pergi. Sebelum pergi, beliau berpesan kepada kedua santri Kyai Manab, “Wes ngko kyaimu nek butuh dhahar, iki berase masakne. Dene nek butuh bumbu-bumbu kono nggoleko ning kebon. Ngko nek kapan butuh, yo tukuo ‘nyo’ tak tak tinggali duit.” (Sudah. Nanti kalau kyaimu butuh makan, beras ini masaklah. Kalau memang membutuhkan, belilah. Ini saya tinggali uang.)

Kira-kira satu minggu kemudian, KH. Sholeh datang menengok dan mengunjungi Kyai Manab. Beliau amat terkejut, ternyata setelah satu minggu beras satu ceting yang beliau tinggalkan untuk Kyai Manab masih utuh tak berkurang sedikitpun. Santri yang menemani Kyai Manab tadipun dimarahi oleh KH. Sholeh,

Lho, pie to gak mbok liwetno, gak mbok masakno!” (Lho! Bagaimana ini? Kok tidak kamu nanakkan nasi? Tidak kamu masakkan?)

Santri tersebutpun tidak dapat menjawab apapun. “Kyai mboten ngantos dawuh kapurih masak aken.” (Kyai Manab tidak pernah memrintahkan kami untuk memasakkan beliau.) katanya.

Lha opo sing mbok pangan?” (Lantas apa yang dimakan Kyai Manab?) Tanya KH. Sholeh kemudian.

Namung dhahar godhong-godhongan meniko.” (Hanya makan dedaunan yang tumbuh) jawab santri tersebut.

 

Dari situlah awal mula Pondok Pesantren Lirboyo berdiri. Dengan muassisnya yang benar-benar tawakkal kepada Allah SWT.

KH. M. Abdul Aziz Manshur pernah menuturkan, “Jadi, berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo bukan didukung dengan harta yang banyak. Bukan! Bukan didukung dengan tahta yang tinggi. Bukan! Tapi hanya didukung dengan tawakkal ‘alallâh. Yakin. Mbah Kyai Abdul Karim ditempatkan digubuk yang hanya begitu saja, beliau selalu sumendhe. Pasrah kepada Allah SWT.” []