Amalan untuk Meredam Emosi Menurut Hadis Nabi

Marah adalah salah satu sifat manusia. Namun, Islam mengajarkan agar setiap Muslim mampu mengendalikan emosinya dengan baik. Karena itu, Rasulullah saw. memberikan tuntunan berupa dzikir dan amalan tertentu ketika seseorang sedang marah.

Menariknya, Nabi Muhammad saw. tidak hanya memerintahkan umatnya menahan amarah, tetapi juga menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang mampu mengendalikan diri ketika emosi sedang berusaha menguasai. Selain itu, Rasulullah saw. Juga mengajarkan doa dan cara praktis agar kemarahan tidak berlarut dan berubah menjadi dosa.

Baca juga: Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan bagi Panitia Kurban

Keutamaan Menahan Marah Menurut Hadis

Dalam hadis riwayat Mu’ad bin Anas Al-Juhani, Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

“Barang siapa menahan marah padahal ia mampu meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat hingga Allah mempersilakannya memilih bidadari surga yang ia kehendaki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan bahwa menahan marah bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, kemampuan mengendalikan emosi justru menjadi bukti kekuatan iman dan kematangan akhlak seseorang.

Selain itu, orang yang mampu meredam amarah akan lebih mudah menjaga hubungan sosial, menghindari permusuhan, dan memperoleh ketenangan hati.

Baca juga: Mbah Kiai Mahrus Sosok yang Dermawan

Bacaan Dzikir Saat Marah

Ketika melihat seseorang marah hingga wajahnya memerah, Rasulullah saw. pernah mengajarkan sebuah dzikir pendek namun sangat agung.

Dalam hadis riwayat Sulaiman bin Surad disebutkan:

عن سليمان بن صردٍ الصحابي رضي الله عنه، قال: كنتُ جالسًا مع النبيّ ﷺ ورجلان يَسْتَبَّان، وأحدُهما قد احمرّ وجهُه وانتفختْ أوداجهُ، فقال رسولُ الله ﷺ: “إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ”، فقالوا لهُ: إن النبيَّ ﷺ قال: “تَعَوَّذْ باللهِ منَ الشَّيْطانِ الرَّجِيم”، فقال: وهل بي من جنونٍ؟

“Aku sedang duduk bersama Nabi saw., sementara ada dua orang saling mencaci. Salah seorang dari keduanya memerah wajahnya dan urat lehernya tampak menegang. Maka Rasulullah saw. bersabda:

‘Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat yang apabila ia mengucapkannya, niscaya akan hilang apa yang sedang ia rasakan. Seandainya ia mengucapkan:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

‘Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk,’

maka akan hilang darinya apa yang ia rasakan.’

Lalu para sahabat berkata kepadanya:

‘Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: ‘Berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.’’

Namun orang itu menjawab:

‘Apakah aku ini gila?'” (HR. Bukhori Muslim)

Rasulullah saw. bersabda bahwa jika orang yang marah membaca dzikir tersebut, ta’awudz, maka kemarahannya akan mereda.

Hal ini menunjukkan bahwa marah sering kali berkaitan dengan godaan setan. Karena itu, dzikir menjadi sarana penting untuk menenangkan hati dan menjaga akal tetap jernih.

Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi Mahrus : “Carilah Kawan yang baik”

Mengapa Marah Berkaitan dengan Setan?

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. menjelaskan asal kemarahan dan cara meredakannya. Hadis riwayat Atiyyah bin Urwah as-Sa’di menyebutkan:

عن عطيةَ بن عروةَ السعديّ الصحابي رضي الله عنه، قال: قال رسول الله ﷺ: “إن الغَضَبَ مِنَ الشيطانَ، وَإِنَّ الشيطانَ خلقَ مِنَ النارِ، وإنَّمَا تُطْفأُ النارُ بالماءِ، فإذَا غَضِبَ أحدُكُم فليتوضأ”.

“Sesungguhnya marah berasal dari setan. Setan diciptakan dari api, sedangkan api dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud)

Penjelasan ini mengandung hikmah yang sangat dalam. Ketika marah, emosi manusia sering memanas seperti api. Karena itu, wudhu membantu menenangkan tubuh sekaligus hati.

Selain menjadi ibadah, wudhu juga memberi jeda agar seseorang tidak terburu-buru melampiaskan emosinya.

Hikmah Mengamalkan Dzikir Saat Marah

Dzikir saat marah merupakan tuntunan penting dalam Islam yang sering terlupakan. Padahal, Rasulullah saw. telah mengajarkan bacaan dan cara praktis agar seorang Muslim mampu meredam emosinya dengan baik.

Karena itu, ketika amarah mulai muncul, seorang Muslim sebaiknya segera mengingat Allah, membaca dzikir, dan mengambil wudhu agar hati kembali tenang. Dengan begitu, kemarahan tidak berkelanjutan berubah menjadi dosa maupun penyesalan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses