All posts by Niqo Maimun Mahera

Penguatan Nilai Pesantren

LirboyoNet, Kediri – Rabu (02/10) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Direktorat Sejarah mengadakan kegiatan penguatan nilai kebangsaan di Pondok Pesantren Lirboyo.

Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Triana Wulandari mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan di 5 daerah yakti Pulau Jawa, Lombok, Kalimantan, Banjarmasin, dan Sulawesi.

Sebelum bersua dengan para santri, KH. Agus Sunyoto, Dr. Zawawi Imran, dan Ibu Triana Wulandari beramah tamah ke kediaman Romo KH. M. Anwar Manshur.

Acara tersebut resmi dibuka pukul 10.23 WIB bersama para santri dan masyayikh lirboyo di Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo.

Tujuan dari kagiatan ini menguak tentang sejarah mengenai peran serta para santri yang dulunya memiliki kontribusi dalam masa pembentukan bangsa Indonesia.

“Selain itu, kami juga ingin kegiatan di pondok pesantren itu juga diketahui sekolah-sekolah umum,” katanya.

Setelah dibukanya acara, teman-teman santri diajak untuk melihat pameran sejarah di gedung yayasan sebelah utara al-Hasan.

Sesuai dengan rundown acara yang telah disusun panitia, setelah dzuhur Halaqoh Kebangsaan berjalan dengan lancar hingga ashar tiba, Dr. Zawawi Imran yang membacakan puisi Resolusi Jihad terlihat sempurna ketika KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menutup acara dengan do’a.

Semoga Pesantren selalu menjaga Indonesia agar tetap utuh, dan para santri diharapkan memiliki kesadaran akan slogan nahdlatul ulama bahwa nasionalisme adalah sebagian dari iman.[]

Santri Mendunia: Tradisi, Eksistensi dan Perdamaian Global

LirboyoNet, Jakarta- Minggu siang (29/09) diskusi panel bertajuk “Santri Mendunia: Tradisi, Eksistensi dan Perdamaian Global” menjadi salah satu rangkaian acara Muktamar Pemikiran Santri Nasional (MPSN) 2019 Kementerian Agama RI.

Beberapa tokoh dan aktivis menjadi pembicara dalam acara yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assiddiqiyyah Jakarta ini, seperti Prof. Nadhirsyah Hosen, Ph.D (Rois Syuriah PCI NU Australia-Selandia Baru), Dr. Muhbib Abdul Wahab, MA (Pengurus Pusat Muhammadiyah), Tengku Faizasyah (Kementrian Luar Negeri RI), Prof. Dr. Oman Fathurrahman (Staf Ahli Menteri Agama), Dr. Ahmad Zayadi (Dirjen PD Pontren Kemenag RI), dan Gus Candra Malik (Budayawan Pesantren).

Semua pemateri memberikan wawasan dan wacananya mengenai konsep perdamaian pesantren, dengan pembawaan yang khas, diselingi gojlokan ala santri., Prof. Nadhirsyah Hosen, Ph.D mengajak kembali pada tradisi turats pesantren.

“Saat ini ada lagi yang mengartikan kembali pada Alquran dan Hadis diartikan sebagai kembali pada terjemahan Alquran dan Hadis. Inilah yang harus kita lawan dengan tetap berpegang teguh dengan tradisi pesantren sejak dulu.” tegas Gus Nadhir. []

Pembukaan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2019

Jakarta, LirboyoNet- Sebagai rangkaian acara menyambut Hari Santri Nasional 2019, hari ini Muktamar Pemikiran Santri Nasional (MPSN) resmi dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Drs H. Lukman Hakim Saifuddin.

Acara yang berlangsung di Pondok Pesantren ash-Shiddiqiyyah Jakarta ini dihadiri oleh ratusan kiai, ustadz, santri, aktivis, dan peneliti. Dalam tiga hari ke depan, 28-30 September 2019, para kiai, ustad, santri, peneliti, dan peserta lain dari seluruh penjuru Indonesia.

Dalam sambutannya, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Kamarudin Amin, Pesantren harus menjadi penggagas perdamaian dunia.

“Dalan upaya menggagas perdamaian dunia, acara ini memiliki dua kegiatan utama, yaitu Call for Papers yang merupakan sesi presentasi dari seleksi nasional makalah para kiai dan santri dan Panel Session dan salah satunya adalah bedah buku Nasionalisme Religius dan Fikih Kebangsaan 2 karya santri Pondok Pesantren Lirboyo.” terang Kamarudin.

Dalam kesempatan ini, Menteri Agama Republik Indonesia,  Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, memberikan apresiasi atas disahkannya RUU tentang Pesantren menjadi UU. “Dengan diundang-undangkan pesantren, pesantren tidak seperti yang dipahami sebagian orang bahwa pesantren lembaga pendidikan semata. Namun pesantren memegang tiga peran sekaligus, yakni lembaga pendidikan, lembaga dakwah dan lembaga pemberdayaan masyarakat. Adanya undang-undang ini ditujukan dalam upaya rekondisi, afirmasi dan fasilitasi pesantren dalam meneguhkan perannya sebagai roda penggerak perdamaian.” pungkas Lukman Hakim.

Acara Muktamar Pemikiran Santri Nasional 2019 memiliki banyak agenda, di antaranya malam kebudayaan, Call for Papers, Panel Session, Bedah Buku, diskusi panel, deklarasi perdamaian dan acara lain.[]

Cangkruk bareng Cak Hids

LirboyoNet, Kediri – Jumat (27/09), bersama Tim Website lirboyo(dot)net dan Staf Ahli lainnya, Crew Mading Hidayah melaksanakan cangkruk bersama teman-teman santri yang dilaksanakan di gedung Rusunawa lantai I Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.

Acara yang dihadiri lebih dari seratus santri ini diisi dengan teori-teori dasar seputar membuat esai, cerpen, opini, dan artikel.

Pemateri yang ikut menyemarakkan cangkruk itu antara lain; saudara Ackyl Mustavid, Hisyam Syafiq, Arif Rahman Hakim, Tubagus Godhonfar, serta Niqo Maimun Mahera.

“Menulis itu ga perlu bagus, untuk permulaan. Karena kalau mikirin bagus, tentu tidak akan bisa membuat karya,” Kata Ackyl saat menjelaskan seputat cerpen.

“Andrea Hirata karya yang terkenal adalah Laskar Pelangi, itu yang terkenal. Yang buruk sebelum itu apakah ada? Jelas banyak. Dan tidak dipublikasikan.” Pungkasnya.

Tujuan dilaksanakannya cangkruk ini tidak lain untuk menumbuhkembangkan, serta memancing semangat teman-teman santri untuk menulis. kegelisahan teman-teman mading seputar pentingnya diadakan cangkruk melihat banyaknya teman-teman santri yang antusias akan adanya Mading Hidayah dari tahun ke tahun, membuat Crew perlu bertemu dan paling tidak, memberikan mereka sesuatu yang bermanfaat selain doorprize buku.

Acara tersebut berakhir setelah adzan waktu Isya berkumandang, harapan dari acara cangkruk ini tidak lain adalah munculnya embrio menulis bagi teman-teman yang mengikuti cangkruk bersama mading hidayah.

Ikhlas dalam beribadah

“Semua manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu. Semua orang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang yang ikhlas. Mereka yang ikhlas masih dalam kekhawatiran yang agung.”

-Ahli Hikmah

Sudah menjadi keharusan bahwa mendapatkan pengetahuan tujuan utamanya adalah mengamalkannya. Seperti dalam beribadah, kita senantiasa mencari pengetahuan yang pasti untuk melengkapi apa saja yang dibutuhkan dalam menjalankan ibadah tersebut.

Sebagian dari syarat beribadah adalah ikhlas, seperti yang sudah tertera dalam firman Allah Swt. yang berbunyi:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ… الاية

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…” (QS. Al-Bayyinah:05)

Dalam menjalankan ibadah, sudah menjadi keharusan bagi kita kaum muslimin agar selalu ikhlas. Dalam hal ini, niat adalah hal pertama yang harus diperhatikan dalam menjalankan amal apapun. Perlu kita ketahui pula, ikhlas mempunyai definisi sebagai berikut:

اَلْإِخْلاَصُ هُوَ تَجْرِيْدُ قَصْدِ التَّقَرُّبِ اِلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ جَمِيْعِ الشَّوَاهِبِ

Artinya: “Ikhlas adalah memurnikan tujuan taqarrub kepada Allah ta’âlâ dari segala hal yang mencampurinya.”

Dengan demikian, cocok kiranya jika kita benturkan pengertian ikhlas diatas dengan niat yang tertanam di hati kita saat menjalankan ibadah. Begitu pentingnya niat hingga menentukan amal apakah yang akan kita laksanakan, benar-benar ikhlas atau malah menjadi riya’.

Oleh karena itu, ikhlas dalam niat menduduki posisi kunci dalam semua kegiatan kita. Mari kita selalu berusaha dan berdoa kepada Allah, semoga kita dipermudah oleh Allah dalam beribadah dengan balutan ikhlas lillâhi ta’âlâ.[]