All posts by Niqo Maimun Mahera

Kunjungan Pondok Pesantren Rahmatul Asri

Lirboyo.net, Kediri – Siang Ahad (22/12) wajah kelelahan tampak mengendap pada raut muka sekitar seratus santri yang siang tadi berkunjung ke Lirboyo. Mereka berasal dari jauh, Sul-Sel. Dari Pondok Pesantren Rahmatul Asri, Berkunjung ke sini dalam rangka Rihlah Ilmiyah.

Acara diadakan di kantor al-Muktamar, hadir sebagai perwakilan pondok Agus Zulfa Laday Rabbi dan segenap sie penerangan, juga perwakilan khusus dari pondok unit Madrasah Murottilil Quran, Agus Husai Syafi’i.

Dimulai dengan sambutan dari salah satu pembina rombongan “kami berjumlah sekitar seratus dua puluh santri, santri-santri yang kami bawa ke sini keseluruhannya merupakan santri berprestasi, sepuluh besar dari masing-masing kelas dijenjang pendidikan yang ada di pesantren kami, mereka kami ajak ke Jawa agar tau bagaimana kondisi pesantren yang ada di Jawa.” Tuturnya

Ternyata kunjungan mereka ke sini sudah dihari ke-7 perjalanan ribuan kilo meter dari kampung halamannya. Sebelumnya mereka transit di Jakarta, Bogor, Bandung dan Jogjakarta, baru kemudian ke Lirboyo.

Dengan bertujuan menyerap ilmu pengelolaan pesantren, mulai dari sistem pendidikan hingga ekonomi kepesantrenan.

Sambutan sebagai perwakilan pondok oleh Agus Zulfa, beliau memaparkan tentang sistem pengajaran, jumlah pondok unit di Lirboyo, hingga tidurnya santri yang berdesakan.

Sambutan khusus dari Unit Murottilil Quran, Agus Husain. Beliau berbagi mengenai pengelolaan pesantren quran, kegiatan selama sehari semalam bahkan kenapa kok pondok Murottilil Quran begitu getol menggunakan Mushaf Utsmani sebagai pegangan dalam kaitannya tentang membaca al-Quran.

Acara selanjutnya sesi tanya jawab dari santri-santri dan juga pembimbingnya tentang hal-hal yang perlu ditanyakan langsung.

Penyerahan kenang-kenangan dari kedua belah pihak sebagai pamungkas acara disusul kemudian foto bersama. [ABNA]

Penyakit Hati

Al-Quran menegaskan bahwa orang-orang munafik adalah orang-orang yang hatinya sakit. Bahkan setiap hari bertambah sakit. Tidak bertambah sembuh, justru malah semakin bertambah parah. Yaitu ketika orang yang hatinya ada penyakitnya, diingatkan malah tidak mengakuinya.

Ketika ditegur oleh seseorang bahwa kita memiliki penyakit semisal; sombong, kita justru tidak mengakui itu. Berbeda dengan ketika kita diingatkan soal kesehatan jasmani. Kita akan khawatir dan berusaha untuk mengobatinya. Dengan demikian, penyakit hati adalah penyakit orang-orang munafik. Jelas dalam Al-Quran tertera sebuah ayat:

 فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah oleh Allah penyakitnya.

Ad-Dahhak mengungkapkan dari Ibnu Abbas bahwa, Fi qulubihim maradun adalah nifaq, dan fazadahumullahu maradan yakni nifaq (munafik) pula. Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan pula bahwa fi qulubihim maradun artinya penyakit dalam masalah agama, bukan penyakit pada tubuh. Mereka yang mempunyai penyakit ini adalah orang-orang munafik, sedangkan penyakit ini adalah keraguan yang merasuki hati mereka terhadap Islam. Fazadahumullahu maradan artinya “lalu ditambah oleh Allah kekafirannya.” Selanjutnya, Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam membacakan sebuah ayat:

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

“Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124-125).

Dari sini bisa diartikan bahwa dalam hatinya orang-orang munafik, adalah beberapa penyakit yang dia sendiri tidak sadar bahwa itu penyakit. Bahkan merasa sehat. Lalu bagaimana kita menyelamatkan hati kita? Jawabannya tentu kita harus mengenali penyakit-penyakit tersebut. Seorang yang melakukan dosa, contoh minum arak. Apakah dilakukan setiap saat? Tidak. Tetapi orang takabur, sombong, iri dan dengki, dimanapun berada mereka akan selalu begitu. Dengan demikian dosa lahir akan timbul dari penyakit hati atau dosa dari hati terlebih dahulu.

Ada lagi sebuah ayat dalam Al-Quran yang berbunyi:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-hadid: 16).

Kalau sedikit saja kita mau merenungkan, ayat diatas jangan-jangan ditujukan kepada kita. Bukan untuk mereka-mereka yang belum mengerti agama islam sama sekali. Jangan-jangan kita yang banyak penyakitnya. Jangan-jangan kita yang sudah Islam, sudah punya Al-Quran dan hadis sebagai pegangan, sudah punya Nabi Muhammad SAW yang kita jadikan teladan, tetapi tidak ada efek apa-apa bagi kita. Berarti kita mempunyai penyakit yang sangat parah.

Maka dari itu, marilah bersama-sama kita berkaca pada diri kita. Pelajari kembali Al-Quran dan hadis dengan baik. Menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan, sebagai teladan, agar kita tidak menjadi orang yang mempunyai penyakit hati yang parah. Agar tidak menjadi orang yang bermaksiat tapi kita tidak menyadarinya. Naudzubillah min dzalik.[]

Baca Juga: Ketika Habib Ali Al-Jufri dan Kiai Anwar Manshur Berbagi Berkah melalui Air Minum

Study Comparative di Pondok Pesantren Lirboyo

LirboyoNet, Kediri—Sabtu (23/11) Study Comparative dilaksanakan di Gedung Bahtsul Masail. Pondok Pesantren Lirboyo mendapatkan kunjungan dari Pondok Pesantren al-Bidayah. Kegiatan yang diikuti oleh santri-santri al-Bidayah ini berlangsung dengan lancar. Mereka begitu antusias bertanya, menyerap dan memahami tentang konsep pendidikan yang berlangsung di Lirboyo.

Sambutan pertama dari pengasuh Pondok Pesantren al-Bidayah yakni KH. Abdul Haris yang berharap agar pengurus bahtsul masail Pondok Lirboyo memberikan sambutan yang memotivasi anak didik beliau agar semangat dalam berbahtsul masail. Sambutan dan paparan panjang mengenai konsep berbahtsul masail yang baik dan benar dibeberkan oleh Ustadz Mubasyarum Bih, Selaku pengurus LBM Lirboyo.

Beliau berpesan agar semangat santri dalam dunia tulis menulis lebih konsisten ditingkatkan, lebih-lebih persaingan yang terjadi di jagat maya. Beliau memaparkan juga mengenai trik dan tips agar santri itu produktif dalam hal tulis menulis.

Sambutan beliau mendapatkan ruang khusus di mata audien dengan semangat bertanya utamanya menyangkut kepenulisan dan rahasia sukses kenapa produktifitas santri Lirboyo lestari terjaga.

Sebagai penulis freeline di NU.online, dengan mudah beliau memompa semangat audien untuk mulai belajar menulis.

Pondok Pesantren al-Bidayah merupakan salah satu pesantren formal yang mengembangkan teknik baca kitab secara cepat, dengan metode yang diberi nama al-Bidayah juga, metode ini terbilang sukses mencetak generasi pembaca kitab dengan lancar. Bahkan santrinya dengan usia yang masih belia sudah banyak yang menjadi juara lomba membaca kitab skala regional maupun nasional.

Sesi sambutan berikutnya dibawakan oleh Agus H. Sa’id Ridlwan, yang juga tak kalah piawai untuk memompa semangat pendengarnya agar konsisten dalam belajar.

Menjadi mubahits (pebahtsu) yang handal tidak semudah membalikkan tangan, namun butuh keuletan, keistiqamahan dan proses yang panjang. Agus H. Sa’id Ridlwan menyambut bahagia kedatangan rombongan, apalagi semangat mereka mengunjungi Lirboyo agar menumbuhkan benih pebahtsu yang handal dikalangan santri al-Bidayah.

Acara tersebut diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan oleh kedua belah pihak, yang diserahkan langsung oleh Pengasuh al-Bidayah, KH. Abdul Haris dan dari Pondok Pesantren Lirboyo diwakili oleh Agus H. Sa’id Ridlwan.

Baca Juga: Hukum Bermain Catur Dalam Islam

Rekomendasi Pondok Pesantren Lirboyo untuk Menangkal Radikalisme

LirboyoNet, Kediri—Kamis, (21/11) Jenderal (Pur) Fachrul Razi selaku Menteri Agama Republik Indonesia berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo. Tiba pukul 14.00 wib. digedung Yayasan Pondok Pesantren Lirboyo, Menteri Agama disambut hangat oleh KH. M. Anwar Manshur dan para Masyayikh lainnya.

Diawali dengan foto bersama dan penyerahan buku Fikih Kebangsan dan cinderamata dari Pondok Pesantren Lirboyo, acara silaturrahim ini dilanjutkan dengan sambutan yang diwakili oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus. Dalam sambutannya, beliau KH. Abdulloh Kafabihi mahrus menyampaikan beberapa rekomendasi, diantaranya adalah merekomendasikan buku ‘Fikih Kebangsaan’ menjadi bahan ajar atau kurikulum di lembaga Pendidikan Islam yang ada dibawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Rekomendasi ini adalah wujud ikhtiar Pondok Pesantren Lirboyo untuk ikut membantu dan mengsukseskan program Kementerian Agama dalam menangkal dan memberantas radikalisme, sebagaimana pesan khusus Presiden kepada Menteri Agama saat pelantikan.

Dalam kesempatan itu pula, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus juga berpesan kepada Menteri Agama untuk secepatnya membuat peraturan turunan setelah disahkannya UU Pesantren, baik berupa PP (Peraturan Presiden) atau PMA (Peraturan Menteri Agama).

UU Pesantren disahkan dengan perjuangan dan kerja keras, tanpa adanya peraturan turunan, maka kerja keras selama ini akan sia-sia begitu saja.

Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan permintaan maaf karena dalam beberapa waktu lalu tidak bisa berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo karena rapat kerja kabinet bersama Presiden. Menteri Agama berjanji akan menindaklanjuti segala rekomendasi dan pesan dari Masyayikh Lirboyo. “Perjuangan dan visi-misi NU dan Kementerian Agama itu sama; yaitu mendukung satu sama lain untuk terciptanya kerukunan antar umat beragama.” Pungkas Fachrul Razi.

Acara silaturrahim Menteri Agama dengan Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo ditutup dengan bacaan doa oleh KH. M. Anwar Manshur dan dilanjutkan dengan makan siang dan ramah tamah.

Baca juga: Ngaji Millenial Islam Kaffah

Maulid Nabi di Yaman.

Di belahan dunia yang lain, tepatnya di Negara Yaman, peringatan Malam Ta’dzim Maulid Nabi sekaligus kirim do’a untuk Masyayikh Lirboyo pun dilaksanakan sebagai bentuk senantiasa menjalin ‘alaqoh bathiniyah (hubungan batin) dengan para guru.

Acara ini dilaksanakan oleh Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) yang berada di sektor Mukalla, Yaman.

Dilaksanakan malam Kamis pukul 20:00 KSA (waktu setempat) yang berketepatan dengan 10 Robiul awal (06/10), acara diawali dengan pembacaan Maulid Simtud Duror yang dilanjutkan dengan pembacaan tahlil.

Baca juga Kupas Tuntas Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam acara tersebut juga diadakan pemilihan Ketua Himasal sektor Mukalla.

Acara tersebut dihadiri oleh segenap Himasal Yaman sektor Mukalla yang saat ini berjumlah sekitar 20 orang, serta dalam rangka mengumpulkan anggota Himasal dalam satu wadah agar bisa tetap menjalin ukhuwah antar sesama anggota. Tahun ini adalah pertama kalinya diadakan kumpul bersama Himasal sektor Mukalla.

Lihat acara Maulid Nabi di Pondok Pesantren Lirboyo