Proyek Syariat yang Maslahat

Menurut syekh Abdul Wahab Khalaf dalam kitabnya, ‘Ilmu Ushul Al-Fiqhi, kehadiran syariat sebagai norma kehidupan tidak terlepas dari tujuan yang telah digariskan oleh Allah Swt. Dalam konteks ini, Allah Swt memproyeksikan syariat sedemikian rupa demi terciptanya kemaslahatan dalam kehidupan. Frasa semacam ini sejak dulu telah didengungkan oleh para ulama, salah satunya dalam kitab Qowaid Al-Ahkam…

Lanjutkan

Sejak Dini, Menanamkan Akhlak Sang Buah Hati

Realita  mengatakan bahwa masa kanak-kanak menjadi periode  yang sangat penting dalam siklus kehidupan manusia. Karena di masa itulah, seluruh pengetahuan dasar yang akan menjadi pondasi dirinya mulai terbangun. Karena pada hakikatnya terbangun untuk menerima kebaikan dan keburukan, bisa disimpulkan bahwa masa kanak-kanak dapat dikatakan sebagai masa yang berada di antara dua kemungkinan tersebut. Sebagai lingkungan…

Lanjutkan

Refleksi Waktu

Syaikh ‘Ishomuddin bin Yusuf al-Balkhy tiba-tiba sangat buru-buru. Pakar fikih kenamaan madzhab Hanafiyyah ini baru saja mendengar sebuah permasalahan tentang ilmu yang baru diketahuinya. Spontan beliau membeli sebuah pena. Karena beliau sadar waktu terus berjalan tak akan kembali. Dan kesempatan yang sama untuk mencatat faidah tersebut hampir mungkin tak akan terulang. Sepenggal kisah tersebut mengingatkan…

Lanjutkan

Ngaji Tafsir: Tanggung Jawab Keluarga

Pada zaman Rasulullah Saw, pernah terjadi pertikaian dalam sebuah keluarga dari sahabat Anshor. Pertikaian tersebut berujung pada penamparan seorang suami kepada istrinya. Setelah kejadian itu, sang istri bersama orang tuanya hendak melaporkan kejadian yang menimpanya kepada baginda Rasulullah Saw. Mendengar pengaduan itu, Rasulullah Saw memutuskan hukuman Qishas (balasan) untuk sang suami. Ketika sang istri dan…

Lanjutkan

Mengapa Harus Fiqih Muamalah?

Sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, manusia tidak pernah terlepas dengan kehidupan yang ada di sekitarnya. Dalam teori ilmu sosial, interaksi antar sesama manusia tidak akan pernah terlepas selama manusia tidak mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Sudah diketahui bersama bahwa Islam adalah agama yang universal dan paripurna. Di dalamnya mengatur seluruh tatanan…

Lanjutkan

Gema Suara Tarhim

Di kalangan masyarakat umum, mereka tidak asing lagi dengan istilah yang disebut Tarhim. Biasanya, suara Tarhim bergema melalui radio maupun kaset yang diputar dengan pengeras suara di masjid atau surau sekitar enam sampai tujuh menit sebelum adzan subuh. Di bulan Ramadhan, gema Tarhim dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tanda permulaan waktu Imsak (menahan dari makan dan…

Lanjutkan

Ngaji Tafsir; Memberdayakan Masyarakat

Berbicara soal peradaban, tentu akan membuka ruang dialog yang begitu intensif. Pasalnya, sebuah peradaban merupakan hal yang paling penting dalam tatanan dan perjalanan roda kehidupan. Sebuah masyarakat yang memiliki nilai peradaban akan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik daripada golongan masyarakat yang yang tidak beradab. Dan satu hal yang perlu dicermati, peradaban dalam pengaplikasiannya tidak…

Lanjutkan

Dualisme Pemikian As-Syafi’i

Dalam bidang fiqih, Ahlussunnah wal Jama’ah mengikuti 4 madzhab, yakni Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Di Indonesia, mayoritas umat Islam menganut madzhab Syafi’i. Meskipun demikian, bagi sebagian besar masyarakat, istilah Qoul Qodim dan Qoul Jadid masih terasa asing di telinga mereka. Namun bagi kalangan pemerhati kajian madzhab fiqih, kedua istilah tersebut adalah hal yang sangat…

Lanjutkan

Bermaulid dengan Kemunkaran

Sejarah mencatat, perayaan ini secara riil  pertama kali diprakarsai dan digagas oleh Raja Mudhoffar Abu Sa’id Kukuburi bin Zainuddin Ali Ibnu Buktikin, penguasa Arbil (salah satu kota di Irak).[1] Dan sejak saat itulah perayaan maulid Nabi Muhammad Saw yang diselenggarakan setiap tanggal 12 robiul awwal menurut kalender Hijriyah tersebut menjadi sebuah tradisi tahunan agung umat…

Lanjutkan

Maulid Tidak Ada di Zaman Sahabat: Kenapa?

Budaya Maulid Nabi, dalam beberapa statemen yang ditulis para pakar sejarah, dipelopori oleh al-Muzhafar Abu Said (549-630 H/1154-1233 M) Raja Irbil, Baghdad. Ia adalah adik ipar panglima besar perang salib, Shalahuddin al-Ayyubi (532-589 H/ 1137-1193 M). Sampai sekarang, perayaan ini menjadi rutinitas tahunan di berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara tercinta. Para sahabat tentu waktunya banyak…

Lanjutkan