Refleksi: Indonesia dan Doa Nabi Ibrahim
Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam dan budaya. Namun, tantangan seperti korupsi, ketimpangan sosial, dan eksploitasi asing masih menjadi penghalang utama.
Apakah Indonesia sudah menjadi negeri yang aman dan makmur seperti dalam doa Nabi Ibrahim? Atau justru masih bergulat dengan konflik sosial dan ketergantungan pada negara lain?
Sebagai warga negara dan umat beragama, kita memiliki tanggung jawab untuk menjadikan negeri ini lebih baik. Membela negara bukan hanya tindakan patriotisme, tetapi juga bagian dari ibadah.
Kesimpulan: Mencintai Negeri sebagai Bagian dari Iman
Seperti kata Syekh Adnan al-Afayuni:
“Kalau kita kehilangan emas, kita bisa mencarinya lagi. Tapi jika kita kehilangan tanah air, ke mana kita akan menemukannya?”
Doa Nabi Ibrahim adalah pelajaran bagi kita tentang pentingnya keamanan dan kemakmuran. Negeri yang aman bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga fondasi keimanan. Maka, mari kita jaga tanah air ini, karena mencintai negeri adalah bagian dari iman.
Penulis: Muhammad Jazilunnazal
Referensi:
- Addifa’ Anil Wathan Min Ahammi al-Wajibati ‘Ala Kulli Wahidin Minna, karya Agus Sa’id Ridlwan.
- Lentera Kegelapan, Tim Atsar Purna Siswa, 2010.
- Konsensus Konferensi Ulama’ Thoriqoh, “Urgensi Bela Negara dan Nasionalisme,” Jum’at, 15 Januari 2016, Pekalongan.
- Tabloid Media Ummat, edisi 261.Hasil Keputusan Bahtsul Masa’il P2L, “Urgensi Bela Negara dan Nasionalisme.”
- Tafsir Murah Labid, Nawawi al-Bantani.
Baca Juga: Peradaban Islam Indonesia Terbangun Dari Pesantren?
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
