Adab Perjalanan (Safar) Menurut Imam An-Nawawi

Adab Perjalanan (Safar)

Melakukan perjalanan jauh atau safar merupakan bagian dari ikhtiar kehidupan manusia yang menyimpan berbagai hikmah dan keberkahan. Agar perjalanan yang kita tempuh bernilai ibadah serta mendatangkan perlindungan dari Allah Swt., ulama besar Imam Muhyiddin Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi melalui karya monumentalnya, kitab Riyadh ash-Shalihin, menganjurkan kaum muslimin untuk senantiasa memperhatikan adab-adab penting sebelum dan selama di perjalanan.

Baca juga: Keteladanan Para Ulama dalam Mengatur Waktu

Berdasarkan petunjuk hadis Nabi Muhammad Saw., terdapat beberapa panduan mulia serta adab kesunahan yang hendaknya kita amalkan saat hendak bepergian:

Keutamaan dan Kesunahan Adab Perjalanan (Safar)

Memilih Waktu Keberangkatan yang Utama

Sunah untuk memulai perjalanan pada hari Kamis dan berangkat di pagi hari. Hal ini merujuk pada kebiasaan Rasulullah saw., sebagaimana riwayat Ka’ab bin Malik RA:

خَرَجَ في غَزْوَةِ تَبُوكَ يَوْمَ الخَمِيس، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَميسِ

“Bahwa Nabi SAW keluar pada Perang Tabuk pada hari Kamis, dan beliau menyukai keluar (bepergian) pada hari Kamis.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mencari Teman Perjalanan dan Mengangkat Pemimpin Group

Menempuh perjalanan seorang diri sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Kita disunahkan bepergian secara berombongan dan mengangkat satu orang pimpinan yang dipatuhi bersama. Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah saw. bersabda:

لَوْ أنَّ النَّاسَ يَعْلَمُونَ مِنَ الوَحدَةِ مَا أَعْلَمُ، مَا سَارَ رَاكبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ

“Seandainya manusia mengetahui bahaya dari bepergian sendiri sebagaimana yang aku ketahui, niscaya tidak ada seorang pengendara pun yang berani berjalan di malam hari seorang diri.” (HR. Bukhari).

Apabila rombongan terdiri dari tiga orang atau lebih, Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ في سَفَرٍ فَليُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Jika tiga orang keluar dalam perjalanan, hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpin.” (HR. Abu Dawud).

Baca juga: Hukum Membaca Shalawat Nabi: Wajib Setiap Hari atau Cukup Sekali Seumur Hidup? Ini Penjelasan Ulama!

Membantu Sesama Rekan Perjalanan

Salah satu bentuk keluhuran akhlak saat bepergian adalah saling menolong, terutama kepada rekan yang lemah atau membutuhkan bantuan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. biasa berjalan di barisan paling belakang saat bepergian demi membantu menuntun orang yang lemah, membocengkan, serta mendoakan mereka.

Membaca Doa Saat Naik Kendaraan

Ketika telah mantap duduk di atas kendaraan, kita dianjurkan untuk bertakbir tiga kali dan membaca doa keselamatan perjalanan:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى. وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى. اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ. وَالْخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ وَالوَلَدِ

Artinya: “Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan ketakwaan dalam perjalanan ini, serta amalan yang Engkau ridhai. Wahai Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya yang jauh. Ya Allah, Engkaulah kawan dalam perjalanan dan pemelihara keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan perubahan yang buruk pada harta, keluarga, serta anak.” (HR. Muslim).

Bertakbir Saat Menanjak dan Bertasbih Saat Menurun

Di dalam perjalanan, sunah membaca takbir (Allahu Akbar) ketika melewati jalanan naik atau perbukitan, serta membaca tasbih (Subhanallah) saat melintasi jalanan turun atau lembah, tanpa berlebihan dalam meninggikan suara.

Memperbanyak Doa Selama Perjalanan

Waktu safar merupakan saat-saat yang sangat membahagiakan bagi seorang hamba karena doa-doanya dikabulkan oleh Allah Swt. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Saw. bersabda:

ثلاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَات لاَ شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ المَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ المُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan) tanpa ada keraguan di dalamnya: doa orang yang terzalimi, doa seorang musafir (orang yang bepergian), dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Baca juga: Arti Till Jannah dan Syarat Unggul Pasutri Bisa Bersama di Surga Menurut Ulama

Dan Adab Lainnya

Selain di atas, masih banyak adab-adab penting lain yang perlu kita perhatikan demi meraih kesempurnaan perlindungan Allah Swt. di perjalanan. Di antaranya adalah membaca doa ketika singgah di suatu tempat agar terhindar dari segala bahaya, mempercepat kepulangan kembali ke pangkuan keluarga begitu urusan telah usai, serta mengutamakan pulang di waktu siang ketimbang tiba secara mendadak pada malam hari. Selain itu, ketika pandangan kita mulai melihat tempat tujuan atau desa tempat tinggal, disunahkan untuk senantiasa memuji Allah dengan mengagungkan nama-Nya, hingga memulakan langkah kepulangan dengan mampir terlebih dahulu ke masjid terdekat untuk melaksanakan shalat dua rakaat sebelum akhirnya sampai di rumah.

Baca juga: Lima Kondisi Makmum Sunah Menyaringkan Suara Ketika Salat

Kesimpulan

Dengan memahami dan mengamalkan adab-adab safar ini, semoga setiap langkah dan perjalanan yang kita tempuh senantiasa dilimpahi keselamatan, kemudahan, serta perlindungan dari Allah Swt.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses