Pentingnya Ilmu, Adab, dan Cinta kepada Rasulullah

pentingnya ilmu adab dan mencintai rasulullah

Dalam Majelis Sholawat Kubro yang berlangsung di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis Legi, 3 Dzulhijjah 1446 H./29 Mei 2025 M., Agus Dahlan Ridlwan menyampaikan bahwa keselamatan seseorang di dunia dan akhirat tidak dapat dilepaskan dari ilmu. Menurut beliau, setiap amal perbuatan yang menjadi jalan keselamatan harus diawali dengan ilmu.

“Semua dari amal-amal perbuatan kita, yang akan mengantarkan selamat kita di dunia dan akhirat itu harus dimulai dari ilmu,” tutur beliau.

Karena itu, Agus Dahlan Ridlwan menegaskan bahwa tempat yang digunakan untuk mempelajari ilmu memiliki kedudukan yang mulia.

“Di mana tempat itu diajarkan ilmu, maka itu adalah tempat yang paling mulia,” jelas beliau.

Baca juga: Membaca Sejarah Nabi, Menumbuhkan Kecintaan kepada Kanjeng Nabi

Kemuliaan tersebut, lanjut beliau, juga menuntut penghormatan melalui perilaku yang baik. Perbuatan tercela yang dilakukan di tempat yang dimuliakan dapat menjadi sebab datangnya murka Allah Swt.

“Kalau di tempat yang paling mulia itu dilakukan kenistaan, perbuatan yang nista, perbuatan yang tercela, itu mengundang godob Gusti Allah.”

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa besarnya azab juga berkaitan dengan keadaan dan kemuliaan tempat terjadinya suatu perbuatan. Oleh sebab itu, para santri diingatkan untuk senantiasa menjaga perilaku, terlebih ketika berada di lingkungan pesantren yang menjadi tempat menuntut ilmu.

“Jadi jaga perilaku kita di manapun,” pesannya.

Cinta kepada Rasulullah Bukan Sekadar Penampilan

Dalam kesempatan tersebut, Agus Dahlan Ridlwan juga mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah saw. harus benar-benar tumbuh di dalam hati. Kecintaan tersebut tidak cukup hanya ditampakkan melalui penampilan atau ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Beliau mengutip sabda Rasulullah saw. ketika seorang A’rabi menyampaikan kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah saw., meskipun ia merasa tidak memiliki banyak bekal amal.

Baca juga: Mencintai Rasulullah dengan Akhlak dan Menebar Rahmat

Rasulullah saw. kemudian bersabda:

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”

Hadis tersebut, menurut beliau, menunjukkan betapa pentingnya cinta yang benar-benar tertanam di dalam hati.

“Itu cinta yang sedalam-dalamnya dalam hati. Ora mung penampilan saja, tapi dalamnya busuk,” tegasnya.

Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah saw. semestinya tidak berhenti pada memperbanyak bacaan sholawat. Sholawat harus menjadi jalan untuk menghadirkan keteladanan Rasulullah saw. dalam kehidupan.

Sholawat Harus Dibarengi Keteladanan

Agus Dahlan Ridlwan mengajak para santri untuk terus memperbanyak sholawat sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah saw. Namun, beliau juga menekankan bahwa kecintaan tersebut perlu dibuktikan dengan meneladani akhlak dan perilaku Rasulullah saw.

“Jadi saya ingatkan bersholawatlah kalian, itu pasti akan dapat pahala kalian. Tapi itu tidak akan sempurna, tidak akan memberikan keberkahan bagi mondok kalian, kalau kalian juga tidak wujudkan rasa cinta berselawat itu dengan meneladani keindahan akhlak perilakunya Rasulullah saw.”

Baca juga: Membaca Maulid, Wujud Melestarikan Tradisi Guru Kita

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi sholawat di lingkungan pesantren tidak hanya bertujuan memperbanyak pahala, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw. yang kemudian tercermin dalam akhlak dan perilaku para santri.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses