Kebahagiaan Hakiki

Oleh: KH. Ahmad Idris Marzuqi السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَاطِرِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَبَاسِطِ الْأَرْزَاق. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَالرَّسُوْلِ الْعَظِيْمِ الْمَبْعُوْثِ لِإِتْمَامِ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ التَّلَاق. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ…

Lanjutkan
maulid nabi

Kiai Anwar: Ilmu Harus Dizakati

الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله سيدنا ومولانا محمد ابن عبدالله وعلى اله وصحبه ومن واله. رب اشرح لى صدري ويسر لى أمري واحلل عقدة من لساني يفقه قولي. أما بعد Anak-anakku, alhamdulillah, kita sudah sampai pada fase pertama dalam belajar, yaitu mulai Syawal sampai Maulud. Kita libur sementara untuk menyegarkan pikiran kita….

Lanjutkan

Mengenang Kiai Abdul Aziz Manshur

KH. Ahmad Mustofa Bisri menulis dalam akun Facebooknya, “Usianya kira-kira sepantaran denganku. Pernah sebentar akrab di Pesantren Lirboyo Kediri, sebelum aku pulang dan pindah ke Krapyak Yogja. Orangnya ganteng. Pintar. Lembut. Belakangan sering ketemu sudah menjadi tokoh ulama yang kiprahnya tidak terbatas sekitar pesantren. Terakhir menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB. Hari ini aku kaget mendengar…

Lanjutkan

Mari Bertaubat Sebelum Kiamat

Oleh: KH. Abdullah Kafabihi Mahrus الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوْ عَنِ السَّيِّئَاتِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نالْهَادِيْ جَمِيْعَ الْمَخْلُوْقَاتِ إِلَى أَحْسَنِ الطُّرُقَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:   Pembaca yangdimuliakan Allah … Usia dunia saat ini sudah sangat tua. Gempa bumi, banjir, gunung meletus, dan berbagai bencana terjadi di bumi…

Lanjutkan

Pesan dan Harapan KH. A. Idris Marzuqi

Harapan saya, setelah Pondok Pesantren Lirboyo mencapai usia satu abad ini mudah-mudahan para keluarga tetap menjaga keharmonisan dan keberlangsungan pondok. Selain itu, semoga mereka mampu menjaga apa yang diwariskan oleh sesepuh dahulu. Yang dimaksud warisan di sini berupa ilmu pengetahuan, bukan bentuk fisik pondok. Salah satu alasan mengapa Lirboyo tetap mempertahankan metode salafiyahnya hingga saat…

Lanjutkan

Tiga Macam Panggilan Haji

Saat memberikan ijazahan santri tamatan, almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus dawuh dengan gaya khasnya, “Panggilan haji itu ada tiga. Pertama, yang paling mandi atau paling ampuh, ini adalah panggilannya Nabi Ibrahim. Berangkat haji, kemudian pulang dengan haji mabrur. Ada lagi haji panggilan iblis. Begitu haji, pulang, tambah remuk. Yang sebelumnya jarang salat, malah gak pernah…

Lanjutkan

Belajar Memegang Prinsip

Listrik pertama kali masuk ke Pondok Pesantren Lirboyo pada tahun 1971 M, yang merupakan sumbangan dari pemerintah Orde Baru. Tepat tiga bulan sebelum PEMILU 1971, Presiden Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri memberikan bantuan listrik untuk menggantikan cahaya teplok dan petromak di Pesantren Lirboyo. Setelah selesai pemasangan, diadakan acara serah terima dan peresmian oleh Mayjen TNI Wahono,…

Lanjutkan

Konsep Dakwah Kiai Mahrus

“Kita harus pandai berdakwah di masyarakat. Dakwah harus bisa mengikuti gerak dan denyut kehidupan masyarakat. Mengikuti arus tidak berarti terbawa arus. Kita mengikuti, tetapi untuk menarik mereka”. * * * Singkatnya, kita harus bisa merayu masyarakat. Zaman sudah berubah. Yang tidak menyimpang dari syar’i kita ikuti, sementara yang melenceng kita rubah sedikit demi sedikit. Jangan…

Lanjutkan

Ilmu yang Bermanfaat

KH. Marzuqi Dahlan (1906-1975) pernah dhawuh, “Yang dinamakan santri yang manfaat ilmunya, adalah santri yang ilmunya bisa menuntun mereka meraih ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Masalah keadaan tiap-tiap santri di rumahnya kelak terserah gusti Allah.” *Disampaikan oleh KH. Abdul Aziz Manshur dalam penutupan bahtsul masail LBM PP. Lirboyo.

Lanjutkan

Takut Jadi Kiai dan Orang Kaya

Saat mengaji kitab Nashaihuddiniyyah di hadapan para santri KH. Mahrus Ali dhawuh, “Santri-santri, aku biyen neng pondok gak pernah mbayangke iso dadi kiai. Gak pernah mbayangke iso dadi wong sugih lan mulyo. Akhire dadi koyo ngene iki aku wedi, ojok-ojok bagianku iki thok, akherat ga entuk.” (Santri-santri, saya dulu waktu di pondok tidak pernah membayangkan…

Lanjutkan