Category Archives: Dawuh Masyayikh

KH. M. Anwar Manshur : Maulid Nabi, Momen Meneladani Nabi

“Keagungan dan keutamaan Nabi Muhammad SAW, sungguh sangat besar, sehingga Pahala dan barokah dapat kita peroleh secara bersamaan”, itulah Petikan Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh KH. M. Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo tadi malam, dalam acara “Malam Ta’dhim Maulid Nabi Muhammad SAW” yang di helat semalam di Serambi Masjid Lawang Songo Lirboyo.

Lebih lanjut Mbah Yai Anwar menjelaskan, “Sangat Disayangkan sekali, jika waktu-waktu utama seperti ini, dibiarkan begitu saja, tanpa diperingati dan di hormati. Karena hanya dengan mempunyai krentek (kata samar-red) hati saja, itu sudah mendapatkan pahala, apalagi jika mau bersholawat, semacam ini. Insya Allah syafa’atnya akan sampai pada kita,” ujar beliau tegas.

“Banyak kitab-kitab ulama’ Salaf, yang menjelaskan dengan runtut keutamaan mencintai Nabi, salah satunya adalah dengan memperingati kelahirannya.” Riff

Mbah Yai Idris : Haji, Sebuah Ujian Dengan Semua Ujian

LirboyoNet, Kediri – Sehari setelah kedatangan KH. Ahmad Idris Marzuqi di tanah Air, beliau langsung kembali melaksanakan tugas-tugas harian beliau sebagai pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, salah satu aktifitas rutin yang beliau laksanakan dengan Istiqomah, adalah menjadi Imam Masjid Agung PP. Lirboyo. Dalam sholat Jama’ah pertama bersama para santri usai berpisah selama beberapa minggu, Mbah Yai Idris berkenan memberikan memberikan wejangan singkat kepada seluruh Jamaah sholat Magrib.

“Haji adalah Rukun Islam ingkang amrad sanget (yang sangat berat-red), didalamnya terdapat ujian demi ujian yang harus dilalui oleh setiap umat islam, baik jasmani maupun ruhani” ujar beliau dengan tegas.

Lebih lanjut Mbah Yai Idris menjelaskan, Diantara ujiannya adalah kesungguhan dalam hati, yang berwujud niat yang tulus, sebab dengan dilandasi dengan niat yang murni maka akan terbukalah pintu pertolongan Allah, melalui panggilan yang di sampaikan Nabi Ibrahim AS.

Jadi kekayaan bukanlah kunci utama bagi umat Islam untuk mampu berangkat haji. Banyak sekali orang kaya tidak mampu dan tidak mau melaksanakan Ibadah Haji, padahal sebenarnya dia mampu. Karena tidak adanya niat tulus dalam hati.

Selanjutnya kemampuan dana untuk pembiayaan diri, baik berupa biaya perjalanan dan biaya selama menjalankan ibadah di tanah suci,

Yang terakhir adalah kekuatan fisik, karena ibadah haji membutuhkan stamina yang prima dan kondisi badan yang sehat sehingga mampu menjalankan semua rukun haji dengan baik. “Kulo piyambak (saya sendiri-red) sebenarnya merasa ragu, apakah nanti mampu melaksanakan ibadah haji dengan baik, padahal kondisi saya yang masih dalam masa pemulihan, namun Alhamdulillah berkat Do’a panjenengan semua, saya mampu menjalankan semua rukun-rukun dan kesunahan Haji. Oleh karenanya saya sampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman santri semua” ujar beliau tawadlu.

Di akhir wejangan yang beliau sampaikan, Mbah yai Idris berkenan mendo’akan seluruh santri Lirboyo agar kelak dikemudian hari, bisa melaksanakan ibadah haji. “Saya do’akan panjenengan semua, akan di panggil oleh Nabi Ibrahim AS, sehingga bisa melaksanakan ibadah Haji,” ujar beliau terbata-bata seraya mengangkat kedua tangan. Setelah memberikan wejangan singkat, mbah Yai Idris melanjutkan wirid-wirid Bada sholat Magrib dan di pungkasi dengan Do’a. riff

 

Mbah Kiai Mahrus Sosok yang Dermawan

LirboyoNet, Kediri – “Sosok Mbah Kyai mahrus Aly selain dikenal sebagai figur yang tegas dan berdisiplin tinggi dalam keseharian, teryata dibalik itu semua terdapat banyak sekali suri tauladan yang dapat digali, baik oleh santri, Alumni bahkan Masyarakay sekalipun”, itulah penggalan prakata KH. Imam Yahya Mahrus dalam acara Haul Almaghfurlah KH. Mahrus Aly yang ke-26, kamis sore lalu (22/09) di Mushola PPHM Lirboyo Kediri. Dalam kegiatan rutin setiap hari kamis akhir dibulan syawal ini, hadir puluhan Kyai, Alumni, masyarakat dan ratusan Santri.

Acara berlangsung khidmat mana kala pembacaaan tahlil dimulai oleh KH. M. Anwar Manshur. Suasana yang asalnya sedikit gaduh, berganti hening seakan kembali kepada masa-masa indah bersama Mbah Yai Mahrus Aly. Usai pembacaan Tahlil, acara dilanjutkan dengan pembacaan Do’a tahlil yang dipimpin oleh Habib Abdurrohman dari Kediri. Selanjutnya KH. Imam Yahya Mahrus menyampaikan sambutan atas nama Keluarga.

Dalam Sambutannya, Rektor Institut Agama Islam Tri Bakti ini mengisahkan kenangan-kenangan indah bersama Almarhum, “Mbah Yai Mahrus itu figur yang sangat lengkap, mulai dari Rektor, Pendakwah, Imam masjid hingga penasehat Tentara.” Ujar Yai Imam tegas. Lebih lanjut, Kyai Imam juga menambahkan beberapa kisah-kisah pribadi Mbah Yai Mahrus yang jarang di ketahui oleh santri dan Alumni, salah satunya adalah kedermawanan beliau yang luar biasa.

Dalam berbagai kesempatan Mbah Yai Mahrus selalu menyempatkan diri untuk bersedekah, meskipun dalam keadaan bepergian, hingga pada saat kembali kekediaman sekalipun, beliau sempatkan tuk sekedar bertegur sapa dengan para tetangga, sembari memberikan beberapa lembar uang kepada mereka.Riff

Teladani Sifat Welas Asih Mbah Yai Sepuh

LirboyoNet, Kediri – KH. Abdul Karim merupakan sosok kyai yang sangat patut diteladani, dalam pelbagai bidang, mulai tarbiyah (Pendidikan) hingga mu’asyaroh (Interaksi) dengan masyarakat, hal ini disampaikan KH. M. Anwar Manshur di sela-sela acara Halal Bihalal pengurus dan pengajar MHM selasa malam (15/09/2011).

Lebih lanjut Mbah Yai Anwar mengisahkan bahwa sosok mbah yai sepuh adalah sosok yang welas asih (kasih sayang), terhadap para santri, hal ini ditandai dengan aktifitas beliau setiap hari yang memantau kegiatan santri, sehingga bisa dipastikan, setiap malam hari beliau selalu mengelilingi Pondok guna melihat dari dekat kegiatan harian para santri. Jika diketemukan santri yang sedang bergurau dan bermain tanpa guna beliau langsung menasehatinya dengan ungkapan yang santun, sehingga santri yang dinasehati menjadi penurut.

Bentuk lain perwujudan sifat welas asih Mbah Yai sepuh adalah, pada saat pondok mengadakan acara haflah, beliau memberikan makanan gratis kepada seluruh santri, dengan makanan yang enak-enak dan terbaik dikala itu, padahal jumlah santri saat itu ada sekitar 500-an orang, hal ini menunjukkan betapa perhatian seorang KH. Abdul Karim terhadap santrinya.

Lebih lanjut Mbah Yai Anwar berharap, dari sepenggal kisah keteladanan Mbah Yai sepuh ini, bisa menjadi inspirasi bagi seluruh pengajar dan pengurus MHM agar lebih maksimal dan optimal dalam memberikan pengajaran, namun tetap mengedepankan sifat welas asih terhadap anak didiknya, sehingga ada ikatan hati diantara keduanya. riff

KH. Abdullah Kafabihi Mahrus : “Carilah Kawan yang baik”

Dalam pergaulan, sering kali seseorang menganggap remeh etika-etika pergaulan yang dianjurkan dalam agama. Padahal etika itu dimaksudkan untuk melindungi seseorang dari akibat buruk dari pergaulan itu sendiri. Seorang kawan sangat berpengaruh terhadap pola pikir, tingkah laku, dan bahkan keyakinan seseorang. Dalam sebuah syair arab kuno yang cukup masyhur dikatakan,

عَنْ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَأَبْصِرْ قَرِينَهُ # فَإِنَّ الْقَرِينَ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِي
فَإِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْهُ سُرْعَةً # وَإِنْ كَانَ ذَا خَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَدِي

Janganlah bertanya tentang (diri) seseorang (secara langsung, namun cukup) lihatlah siapa kawannya. Sesungguhnya seorang kawan senantiasa mengikuti kawannya. Bila sang kawan adalah orang yang bersifat buruk maka jauhilah segera. (Sebaliknya) jika ia bersifat baik maka jadilah kawannya, niscaya anda akan mendapatkan petunjuk.

Dalam hal ini nabi Saw. Mengatakan,

اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِِ خَلِيْلِهِ
“Seseorang mengikuti keyakinan kawannya”

1. Tidak diragukan lagi akan pengaruh yang dibawa seorang kawan. Karena itu wejangan dari para ulama salaf sangat perlu diperhatikan. Di antara wejangan itu adalah;Berteman dengan orang yang baik fikirannya; hal ini agar kita dapat mengambil pilihan terbaik ketika menghadapi masalah. Berteman dengan orang yang bodoh (dalam arti tidak tahu diri, egois, dan mementingkan diri sendiri) hanya akan merusak tali kasih yang mempersatukan keduanya. Nabi mengatakan,

الْبَذَاءُ لُؤْمٌ ، وَصُحْبَةُ الْأَحْمَقِ شُؤْمٌ
“Berkata kotor adalah tercela, berkawan dengan orang yang tidak beres akalnya adalah kesialan”

2. Baik agamanya. Karena orang yang tidak baik agamanya hanya akan membawa kepada marabahaya, baik bahaya dalam urusan dunia maupun agama. Allah Azza Wa Jalla berfirman,

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
“jangan kau ikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan, dan mengikuti hawa nafsunya”

Ayat ini diturunkan Allah pada Nabi, agar nabi tidak mengikuti orang-orang kafir yang tidak mengindahkan ajakan dan ajaran agama Nabi. Berkawan dengan orang yang kurang baik agamanya, mungkin tidak menjadi masalah bagi orang yang kuat menahan diri dari pengaruh-pengaruh luar. Namun bagaimana dengan orang yang mudah terbawa arus.

3. terpuji perilaku dan akhlaknya. Berkawan dengan orang yang buruk akhlaknya hanya akan memancing permusuhan dan merusak akhlak baik yang sudah tertanam dalam diri. Sebagian ulama mengatakan,

مِنْ خَيْرِ الِاخْتِيَارِ صُحْبَةُ الْأَخْيَارِ ، وَمِنْ شَرِّ الِاخْتِيَارِ صُحْبَةُ الْأَشْرَارِ
“Berkawan dengan orang yang baik (akhlaknya) adalah pilihan yang baik, berkawan dengan orang yang buruk (akhlaknya) adalah pilihan yang buruk”

Melihat maraknya cara bergaul yang salah pada generasi muda kita, sudah sepatutnya kita kembali pada tatacara dan akhlak pergaulan yang dianjurkan oleh agama. Bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, melainkan untuk melindungi masyarakat secara umum.

[ads script=”1″ align=”center”]

Maraknya pelanggaran larangan-larangan agama dalam pergaulan, seperti percampuran antar lawan jenis yang bukan mahram, konsumsi barang-barang haram, dan lain sebagainya yang seringkali memicu tindak kriminal, asusila, dan mungkar, hendaknya dilihat sebagai kritik dan ukuran bagi masyarakat kita, apakah sudah menjalankan aturan syariat atau belum.

Hendaknya setiap orang benar-benar memperhatikannya. Karena jika sebuah penyimpangan telah meluas dan menjadi kebiasaan di masyarakat, yang tertimpa musibah bukan hanya para pelakunya saja. Bahkan masyarakat yang membiarkan kemungkaran itu sendiri juga akan tertimpa. Dalam sebuah hadis dikatakan,

إِذَا خَفِيَتِ الْخَطِيئَةُ لَمْ تَضُرَّ إِلا صَاحِبَهَا، وَإِذَا ظَهَرَتْ فَلَمْ تُغَيَّرْ ضَرَّتِ الْعَامَّةَ
“Ketika kesalahan (kemungkaran) tersamar maka tidak akan berbahaya kecuali bagi pelakunya, dan ketika tampak kemudian tidak ada yang merubahnya maka akan berbahaya bagi banyak orang (sekitar yang tahu)” (HR. At-Thabrani {1010})

Generasi muda adalah tiang punggung umat di masa mendatang. Oleh karena itu hendaknya kita awasi, agar tidak mudah terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan. Jangan sampai mereka benar-benar terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam dan membuat mereka putus asa. Sehingga dengan mudah mereka mengatakan, “sudah terlanjur”. Yang belum terjerumus mari kita jaga, dan yang sudah terjerumus ke dalam pergaulan yang salah mari kita sadarkan. Karena pepatah kuno mengatakan,

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الغَدِ
“Pemuda saat ini adalah generasi (yang akan mengisi kelangsungan umat) di hari esok”

Semoga negeri kita diselamatkan dari yang demikian, dan dijadikan negeri yang makmur, bersih dari berbagai penyimpangan dan kemungkaran. Amin.