Kitab-Kitab yang Sering Dibaca Saat Perayaan Maulid Nabi

Pembacaan Kitab Maulid di bulan Rabiul Awal Pembacaan Kitab Maulid di bulan Rabiul Awal

Memasuki bulan Rabiul Awal, antusiasme umat Islam dalam menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad saw. biasanya semakin terasa. Berbagai majelis sholawat pun mulai ramai diadakan di berbagai daerah. Selain itu, masyarakat juga banyak menggelar majelis pembacaan kitab-kitab maulid sebagai salah satu bentuk ungkapan cinta kepada Rasulullah saw.

Di Indonesia, terdapat sejumlah kitab maulid yang cukup populer dan sering kita bacakan. Setiap kitab memiliki karakteristik, susunan, serta latar belakang penulisan yang berbeda. Namun, semuanya sama-sama memuat kisah, pujian, dan ungkapan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw.

Lantas, kitab apa saja yang sering kita jumpai dalam perayaan Maulid Nabi? Berikut beberapa di antaranya.

Maulid Ad-Diba’i

Maulid Ad-Diba’i merupakan salah satu kitab maulid yang cukup populer di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia. Kitab ini merupakan susunan oleh Al-Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad-Diba’i Asy-Syaibani Al-Yamani Az-Zabidi Asy-Syafi’i. Beliau lebih terkenal dengan julukan Ibn Ad-Diba’i.

Ibn Ad-Diba’i lahir di kota Zabid, salah satu kota di Yaman, pada sore hari Kamis, 4 Muharram 866 H atau bertepatan dengan 8 Oktober 1461 M. Keterangan mengenai kelahiran beliau tercantum dalam kitab Maulid al-Hafidz Ibn al-Daiba’i karya Sayyid ‘Alawi al-Maliki, halaman 5.

Karena kandungannya banyak memuat pujian kepada Nabi Muhammad saw., Maulid Ad-Diba’i kemudian menjadi salah satu bacaan yang lazim dalam berbagai majelis maulid.

Baca juga: Ksatria Shalawat: Festival Shalawat Lirboyo

Maulid Al-Barzanji

Kitab maulid yang tidak kalah populer adalah Maulid Al-Barzanji. Pengarang kitab ini adalah Sayyid Zainal ‘Abidin Ja’far bin Hasan bin ‘Abdul Karim al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji, yang lebih terkenal sebagai Sayyid Ja’far Al-Barzanji.

Kitab ini mendapatkan perhatian besar dari para ulama. Salah satunya ialah Syekh Muhammad Nawawi Banten. Dalam kitab Madârijus Shu’ûd, beliau menyebut bahwa kitab maulid karya Sayyid Ja’far Al-Barzanji merupakan sarana yang dapat menjadi sebab datangnya berbagai kebaikan (sihrul halâl). Selain itu, orang yang membacanya juga memperoleh keridhaan Allah Swt. (Madârijus Shu’ûd, halaman 3).

Ungkapan tersebut menggambarkan besarnya penghargaan Syekh Nawawi Banten terhadap pembacaan Maulid Al-Barzanji. Dengan demikian, masyarakat kemudian memandang pembacaan kitab ini sebagai salah satu sarana untuk memanjatkan doa sekaligus mengungkapkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw.

Maulid Simtu Ad-Duror

Selanjutnya, ada Maulid Simtu Ad-Duror karya oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi. Beliau lahir di Qasam, sebuah daerah yang memiliki keterkaitan dengan Sayyidina Ali bin Alwi Khali’ Qasam (592 H).

Maulid Simtu Ad-Duror juga terkenal luas dalam berbagai majelis maulid di Indonesia. Selain karena susunan bahasanya yang indah, kitab ini memuat berbagai ungkapan cinta dan pujian kepada Nabi Muhammad saw.

Habib Ali al-Habsyi juga pernah menyampaikan harapan mengenai penyebaran maulid yang beliau susun. Dalam sebuah riwayat, Habib Ali ra. berkata:

Dakwahku akan tersebar ke seluruh dunia, dan maulidku ini akan tersebar ke tengah-tengah masyarakat, akan mengumpulkan mereka kepada Allah dan membuat mereka dicintai Nabi saw. Jika seseorang menjadikan kitab maulidku ini sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, maka sirri (rahasia) Nabi saw. akan tampak pada dirinya.”

Pernyataan tersebut menunjukkan harapan besar beliau agar Maulid Simtu Ad-Duror tidak hanya dibaca dalam majelis, tetapi juga menjadi sarana untuk mendekatkan masyarakat kepada Allah Swt. sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw.

Baca juga: Sholawat Munjiyat Teks Arab, Latin, dan Terjemahnya Lengkap

Qashidah Burdah

Selain kitab-kitab maulid di atas, Qashidah Burdah juga sangat populer dalam berbagai majelis yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi. Qashidah ini merupakan karya Imam Al-Bushiri yang memiliki nama lengkap Syarîfuddin Abū ‘Abdillāh Muhammad ibn Sa’īd Al-Būsīrī Al-Syadzili (610 H–695 H/1211 M–1294 M).

Salah satu bait Qashidah Burdah yang sangat familiar di tengah masyarakat adalah:

يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا ۞ وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

Wahai Tuhanku, dengan wasilah Al-Musthafa (Muhammad saw.), sampaikanlah cita-cita kami. Dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Zat Yang Maha Pemurah.”

Qashidah Burdah secara keseluruhan terdiri atas 160 bait. Di dalamnya terdapat berbagai pujian kepada Nabi Muhammad saw., ungkapan kecintaan kepada beliau, serta nasihat dan doa.

Selain itu, Imam Al-Bushiri memiliki kisah tersendiri mengenai proses penyusunan qashidah tersebut. Dalam ta’liqat mengenai qashidah yang beliau gubah, Imam Al-Bushiri menceritakan bahwa dirinya pernah mengalami kelumpuhan. Saat itu, sebagian tubuhnya tidak dapat berfungsi sehingga beliau merasa putus asa dan mendekati kematian.

Dalam keadaan tersebut, beliau kemudian tergerak untuk menyusun sebuah qashidah yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad saw. Beliau berharap qashidah tersebut menjadi sebab kesembuhan bagi dirinya. Setelah menyelesaikan qashidah itu, beliau mengaku bertemu Nabi Muhammad saw. dalam mimpi. Dalam kisah tersebut, Nabi saw. menyentuh tubuhnya dengan tangan yang penuh berkah sehingga Imam Al-Bushiri kemudian sembuh dari kelumpuhan.

Kisah inilah yang kemudian semakin memperkuat kedudukan Qashidah Burdah dalam tradisi pembacaan sholawat dan pujian kepada Nabi Muhammad saw. di berbagai wilayah.

Baca juga: Tuntunan Mencintai Tanah Air

Sarana Mengenal Sang Suri Tauladan

Karya-karya di atas merupakan beberapa kitab yang cukup sering kita jumpai dalam majelis Maulid Nabi di Indonesia. Maulid Ad-Diba’i, Maulid Al-Barzanji, Maulid Simtu Ad-Duror, dan Qashidah Burdah memiliki susunan serta gaya penulisan yang berbeda. Namun, semuanya menghadirkan tema yang dekat dengan tradisi maulid, seperti pujian kepada Nabi Muhammad saw., kisah kehidupan beliau, doa, serta ungkapan kecintaan kepada Rasulullah saw.

Karena itu, memasuki bulan Rabiul Awal, tidak mengherankan apabila pembacaan kitab-kitab tersebut semakin sering kita dengarkan di berbagai majelis. Selain menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat, pembacaan maulid juga menjadi salah satu sarana untuk mengenal sosok Nabi Muhammad saw. sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada beliau.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses