Pada Majelis Sholawat Kubro yang digelar di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis Legi malam, 20 November 2025, Agus Izzul Maula Dliyaullah menyampaikan bahwa perjuangan santri dalam menuntut ilmu bukanlah perkara ringan. Seorang santri harus rela meninggalkan rumah, orang tua, lingkungan, bahkan orang-orang yang dicintainya demi mendapatkan ilmu.
“Perjuangan kalian ini luar biasa berat. Berangkat dari rumah, berpisah dengan orang tua, meninggalkan rumah kalian, lingkungan kalian, teman-teman kalian, lebih-lebih meninggalkan si dia yang kalian cintai,” tutur beliau.
Menurut beliau, beratnya perjuangan tersebut tidak hanya dirasakan ketika pertama kali meninggalkan rumah. Selama berada di pondok, seorang santri juga kerap diliputi rasa khawatir terhadap keadaan orang tua dan teman-temannya di rumah.
“Ketika kalian di sini, kalian jauh dari orang tua, kalian selalu merasa was-was bagaimana keadaan orang tua di rumah. Ini kan berat cobaannya,” jelas Agus Izzul.
Baca juga: Pentingnya Ilmu, Adab, dan Cinta kepada Rasulullah
Namun, berbagai kesulitan tersebut hendaknya tidak menjadi alasan bagi santri untuk kehilangan fokus dalam belajar. Sebaliknya, segala kesulitan yang dihadapi dalam perjalanan menuntut ilmu dapat menjadi bagian dari perjuangan yang bernilai pahala.
Ganjaran Orang yang Menuntut Ilmu
Beliau kemudian mengingatkan bahwa Allah Swt. memberikan ganjaran kepada hamba-Nya sesuai dengan kesulitan yang dihadapinya.
“Allah ini akan memberikan ganjaran kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan masyaqqah-nya (kesulitannya). Semakin berat cobaan yang kalian terima di sini, maka semakin besar pahala yang kalian dapatkan dari Allah Swt.,” dawuh beliau.
Karena itu, para santri hendaknya tidak larut dalam berbagai kekhawatiran selama berada di pondok. Fokus utama seorang santri adalah belajar dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.
“Jangan berpikir macam-macam, fokus pada ilmu, fokus belajar. Jangan khawatir. Insya Allah, sampean di sini mencari ilmu, insya Allah orang tua kalian juga dijaga Allah Swt. Jangan khawatir,” pesan beliau.
Baca juga: Membaca Sejarah Nabi, Menumbuhkan Kecintaan kepada Kanjeng Nabi
Beliau juga mengingatkan agar santri tidak kehilangan fokus hanya karena memikirkan orang yang dicintainya. Masa belajar di pondok merupakan kesempatan untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan.
“Sampean di sini mencari ilmu, bertahun-tahun belajar, jangan khawatir dan berpikir macam-macam, terlebih mikir si dia yang kalian cintai,” lanjut beliau.
Lebih lanjut, beliau menggambarkan kehidupan santri di pondok sebagai masa yang dapat mereka gunakan sepenuhnya untuk menuntut ilmu. Selama berada di pondok, kebutuhan santri masih ditopang oleh orang tua dan keluarga.
“Santri itu, di pondok hidupnya itu terjamin. Kalian semua di pondok tidak usah memikirkan kerja, tidak perlu memikirkan mencari rezeki dan mencari nafkah, karena ada orang tua kalian, ada keluarga kalian yang siap untuk menafkahi kalian selama di pondok,” dawuh beliau.
Baca juga: Mencintai Rasulullah dengan Akhlak dan Menebar Rahmat
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa menjadi santri merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Jarak dari keluarga, rasa rindu, kekhawatiran, dan berbagai kesulitan yang dirasakan hendaknya tidak dipandang sebagai beban semata, tetapi sebagai bagian dari perjuangan yang semoga menjadi sebab bertambahnya pahala di sisi Allah Swt.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
