Kita sebagai seorang Muslim sudah seharusnya menjadi pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia. Ketakwaan tidak hanya tercermin dari hubungan kita dengan Allah Swt., tetapi juga dari bagaimana kita bersikap dan memperlakukan sesama. Sebab, kesempurnaan iman tidak cukup hanya diwujudkan dalam ibadah, melainkan juga dalam akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Khutbah Pertama: Menjadi Muslim yang Bertakwa dan Berakhlak Mulia
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى، وَوَعَدَ الْمُتَّقِينَ بِالْفَلَاحِ وَالنَّجَاحِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga dari bagaimana kita menjaga kejujuran, menunaikan amanah, menghormati sesama, dan menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102).
Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Membahagiakan Hati Sesama Manusia
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ketakwaan harus menjadi pedoman dalam seluruh kehidupan. Kita tidak cukup hanya terlihat baik di hadapan manusia, tetapi juga harus berusaha menjadi hamba yang baik di hadapan Allah SWT.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Salah satu tanda ketakwaan seseorang adalah akhlaknya. Ibadah yang kita lakukan hendaknya membentuk pribadi yang semakin jujur, rendah hati, sabar, dan peduli terhadap orang lain.
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Baca juga: Khutbah Jumat: Kembali kepada Allah Sebelum Kesempatan Tertutup
Hadis ini menjadi pengingat tentang pentingnya akhlak mulia dalam Islam. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi masih mudah menyakiti hati orang lain. Jangan sampai lisan kita terbiasa membaca Al-Qur’an, tetapi pada saat yang sama digunakan untuk menggunjing, memfitnah, atau merendahkan sesama. Jangan sampai kita berbicara tentang agama, tetapi perilaku kita justru jauh dari nilai-nilai agama.
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
Artinya: “Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Baca juga: Khutbah Jum’at: Menghadapi Masalah Hidup
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar menjaga lisan dan kehormatan sesama manusia. Terlebih pada zaman sekarang, ketika ucapan dan tulisan dapat disebarkan dengan mudah melalui media sosial. Satu kalimat yang kita tulis tanpa pertimbangan dapat melukai hati seseorang, menimbulkan perselisihan, bahkan merusak persaudaraan.
Oleh sebab itu, sebelum berbicara atau menulis sesuatu, hendaknya kita mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan tidak mengandung kezaliman.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketakwaan juga harus diwujudkan melalui tanggung jawab kita masing-masing. Seorang pemimpin bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Orang tua bertanggung jawab mendidik anak-anaknya. Seorang pelajar bertanggung jawab mencari ilmu dengan sungguh-sungguh. Seorang pekerja bertanggung jawab menunaikan tugasnya dengan jujur dan amanah.
Bagi para penuntut ilmu, ilmu tidak semestinya hanya berhenti pada hafalan dan pemahaman, tetapi harus diwujudkan dalam amal dan akhlak. Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin besar pula kesadarannya untuk bersikap rendah hati, menghormati guru, menyayangi sesama, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Baca juga: Khutbah Jumat: Konsep Keluarga Ideal Menurut Al-Qur’an
Janganlah kita menjadikan ilmu sebagai sarana untuk merasa lebih mulia daripada orang lain. Jadikanlah ilmu sebagai jalan untuk mengenal kebenaran, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah ibadah kita telah memperbaiki akhlak kita? Apakah ilmu yang kita pelajari telah menjadikan kita lebih rendah hati? Apakah kehadiran kita telah memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat?
Jika jawabannya belum, maka janganlah berputus asa. Pintu perbaikan selalu terbuka selama Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup dan beramal.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita memperbaiki diri mulai dari hal-hal sederhana: menjaga salat lima waktu, berkata jujur, menepati janji, menghormati orang tua dan guru, menjaga persaudaraan, serta menjauhi segala bentuk kezaliman.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan hamba-Nya yang bertakwa, berilmu, beramal saleh, dan berakhlak mulia.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua: Menjadi Muslim yang Bertakwa dan Berakhlak Mulia
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَحَسِّنْ أَخْلَاقَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِلْعَدْلِ وَالْخَيْرِ وَالصَّلَاحِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
