Sebanyak 10.476 santri Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri mengikuti kegiatan membatik bersama dalam rangkaian Festival Santri Nusantara 2026, Kamis (8/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Barat Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo tersebut berhasil mencatatkan rekor MURI sebagai kegiatan membatik dengan peserta terbanyak.
Sejak pukul 08.30 WIB, para santri telah memenuhi area kegiatan. Dengan antusias dan penuh semangat, mereka mengikuti proses membatik bersama yang menjadi bagian dari pencatatan rekor dunia tersebut.
Baca juga: Acara 10.000 Santri Membatik Bukti Pesantren Ikut Andil Menjaga Tradisi
Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, Agus Zulfa Ladai Robbi dan Agus Adibussholeh Anwar, turut serta membatik bersama para santri. Dalam sambutannya, Agus Adibussholeh Anwar menyampaikan bahwa tradisi membatik juga pernah dilakukan oleh Ibu Nyai Dlomroh, istri pendiri Pondok Pesantren Lirboyo.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Rolupat Batik Nusantara dalam rangka Festival Santri Nusantara 2026. Sebelumnya, rangkaian festival telah dimeriahkan dengan Bazar Santri yang berlangsung selama lima hari, mulai Ahad hingga Kamis.
Festival Santri Nusantara 2026 akan ditutup dengan malam puncak yang diramaikan melalui acara Lirboyo Bersholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf.
Pengesahan Rekor MURI Santri Membatik Terbanyak
Dalam kesempatan tersebut, Ari Andriani, Kepala/Senior Representative Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) Wilayah Semarang dan Jawa Tengah, menyampaikan bahwa Rolupat Batik Nusantara sebelumnya telah berhasil melakukan dua kali pencatatan rekor MURI dalam bidang membatik. Kali ini, Pondok Pesantren Lirboyo menjadi pihak ketiga yang turut mencatatkan rekor dengan jumlah peserta yang melampaui pencatatan-pencatatan MURI sebelumnya.
Baca juga: Persiapan Acara 10.000 Canting Batik Dalam Rangka Festival Santri Nusantara 2026 M. di Lirboyo
Sementara itu, Ari Andriani menyampaikan alasan Henny Christiningsih, Pemilik PT Rolupat Kriya Indonesia, memilih santri sebagai peserta kegiatan membatik. Menurutnya, para santri telah terbiasa menulis menggunakan tinta bak dalam kegiatan pembelajaran di pesantren sehingga memiliki keluwesan dalam menggoreskan alat membatik.
Ari Andriani juga menjelaskan bahwa MURI didirikan oleh Jaya Suprana pada 27 Januari 1990. MURI berperan dalam mencatat berbagai prestasi superlatif serta karya kreativitas masyarakat Indonesia.
Kegiatan membatik bersama ini tidak hanya dikukuhkan sebagai rekor nasional, tetapi juga tercatat sebagai rekor dunia. Penghargaan MURI diberikan kepada Pondok Pesantren Lirboyo sebagai pelaksana kegiatan, sementara Rolupat bertindak sebagai penyelenggara.
Baca juga: 63 UMKM Ramaikan Bazar Santri dalam Rangka Festival Santri Nusantara 2026
Meskipun kegiatan diselenggarakan oleh Rolupat, seluruh pelaksanaan dan jalannya kegiatan di lapangan dilakukan secara penuh oleh Pondok Pesantren Lirboyo bersama para santri.
Dengan pencatatan tersebut, kegiatan membatik bersama 10.476 santri menjadi salah satu rangkaian penting dalam Festival Santri Nusantara 2026. Selain menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya batik, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi para santri untuk turut memperkenalkan kreativitas santri sekaligus menorehkan prestasi di tingkat dunia.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
