Tidak semua kebaikan datang dalam bentuk yang menyenangkan. Ada kalanya sesuatu yang kita anggap sebagai kehilangan justru menjadi jalan keselamatan. Ada pula musibah yang baru kita pahami hikmahnya setelah waktu berlalu. Karena itu, kemampuan untuk tetap bersyukur dan rida terhadap ketetapan Allah merupakan salah satu bentuk kedewasaan iman.
Berikut adalah dua kisah yang menunjukkan bahwa dalam keadaan terpuruk sekalipun, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak belajar bersyukur.
Baca juga: Sejarah Lengkap Pembangunan Ka’bah
Kisah pertama: lelaki yang kehilangan hartanya
Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Imam al-Ghazali menuturkan beberapa kisah yang menggambarkan sikap tersebut. Kisah-kisah itu mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak selalu mampu melihat kebaikan di balik suatu peristiwa. Namun, ia dapat meyakini bahwa Allah tidak pernah menetapkan sesuatu tanpa hikmah.
Salah satu kisah yang diceritakan adalah tentang seorang lelaki yang tinggal di pedalaman. Ia memiliki seekor ayam jantan, keledai, dan anjing. Ayam jantan membangunkan mereka untuk salat, keledai digunakan untuk membawa air dan mengangkut barang, sedangkan anjing bertugas menjaga mereka.
Suatu hari, seekor rubah datang dan membawa pergi ayam jantan miliknya. Keluarga itu bersedih. Namun, lelaki saleh tersebut justru berkata, “Semoga hal ini menjadi kebaikan.”
Tidak lama kemudian, seekor serigala menyerang keledainya hingga mati. Mereka kembali bersedih. Akan tetapi, lelaki itu tetap mengatakan, “Semoga hal ini menjadi kebaikan.”
Setelah itu, anjing mereka pun mati. Untuk ketiga kalinya ia mengatakan, “Semoga hal ini menjadi kebaikan.”
Baca juga: Kisah Tanggapan Rasulullah Kepada Pemimpin yang Menyuruh Rakyatnya Bermaksiat
Kehilangan yang menuai hikmah
Keesokan harinya, mereka mengetahui bahwa orang-orang di sekitar mereka telah ditawan. Sementara itu, mereka tetap selamat. Rupanya, suara ayam, keledai, dan anjing menjadi sebab keberadaan mereka mudah diketahui oleh para penyerang. Dengan hilangnya ketiga hewan tersebut, mereka justru terhindar dari musibah.
Di sinilah tampak bahwa sesuatu yang terlihat sebagai kehilangan belum tentu benar-benar merupakan keburukan. Bisa jadi, di baliknya terdapat kelembutan Allah yang belum mampu kita pahami.
Baca juga: Kisah KH Mahrus Aly Saat Diminta Menjadi Menantu KH Abdul Karim
Kesimpulan dari Imam al-Ghazali
Imam al-Ghazali kemudian menyimpulkan bahwa orang yang mengetahui kelembutan tersembunyi dari ketetapan Allah akan mampu menerima perbuatan-Nya dalam berbagai keadaan. Ia tidak berarti berhenti berusaha atau tidak merasakan kesedihan. Namun, di balik kesedihan itu terdapat keyakinan bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Kisah kedua: dalam keadaan sakit parah, orang beriman tetap bersyukur
Kisah lain yang juga menggambarkan keteguhan hati adalah kisah seorang laki-laki yang diriwayatkan pernah ditemui Nabi Isa as. Ia berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan: buta, terkena penyakit kusta, lumpuh, dan tubuhnya mengalami kerusakan akibat penyakit tersebut.
Namun, di tengah penderitaan itu, ia justru mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَى بِهِ كَثِيرًا مِنْ خَلْقِهِ
“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari sesuatu yang dengannya Dia menguji banyak makhluk-Nya.”
Nabi Isa kemudian bertanya kepadanya, “Wahai laki-laki, cobaan apa yang engkau lihat telah dijauhkan darimu?”
Dengan penuh keyakinan ia menjawab:
يَا رُوحَ اللَّهِ، أَنَا خَيْرٌ مِمَّنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ مَا جَعَلَ فِي قَلْبِي مِنْ مَعْرِفَتِهِ.
“Wahai Ruhullah, aku lebih baik daripada orang yang tidak Allah tanamkan dalam hatinya apa yang telah Dia tanamkan dalam hatiku berupa pengenalan kepada-Nya.”
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa kenikmatan tidak selalu berupa kesehatan, kekayaan, atau terbebas dari penderitaan. Bagi orang yang mengenal Allah, ma’rifat kepada-Nya merupakan nikmat yang jauh lebih besar. Karena itu, seseorang masih dapat menemukan alasan untuk bersyukur meskipun secara lahiriah ia berada dalam keadaan yang sangat terbatas.
Baca juga: Siapa Sebenarnya Luqman al-Hakim? Begini Penjelasan Imam Abu Hayyan
Penutup
Pada akhirnya, ukuran kebahagiaan bukan semata-mata terletak pada banyak atau sedikitnya sesuatu yang dimiliki. Yang lebih penting adalah bagaimana hati menyikapi apa yang telah Allah tetapkan.
Referensi:
Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah), juz 4, 349.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
