Kediri – Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf mengungkapkan kecintaan mendalamnya kepada Pondok Pesantren Lirboyo dalam acara Lirboyo Bersholawat di Lapangan Barat Aula Muktamar, Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (08/10/26). Di hadapan para jama’ah, beliau mengenang kedekatannya dengan Lirboyo sekaligus mengungkapkan kebanggaannya terhadap pesantren yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya tersebut.
“Saya ke mana pun selalu membanggakan Lirboyo. Saya sangat cinta dengan Lirboyo. Lirboyo adalah kekasihku,” dawuh beliau di hadapan para jemaah.
Bagi Habib Syekh, Lirboyo bukan sekadar tempat untuk bersholawat bersama. Lebih dari itu, Lirboyo menjadi tempat yang menghadirkan rasa kekeluargaan dan kedekatan batin. Beliau mengungkapkan bahwa keberadaan orang tua di Lirboyo membuatnya merasa memiliki ikatan tersendiri dengan pesantren tersebut.
Baca juga: Persiapan Acara 10.000 Canting Batik Dalam Rangka Festival Santri Nusantara 2026 M. di Lirboyo
Kenangan Saat Di Lirboyo
Kecintaan itu juga tumbuh dari kenangan awal kedatangannya ke Lirboyo bersama Habib Mundzir Al-Musawa, yang saat itu membawa rombongan pemain terbang dari Irian. Kedatangan mereka mendapat sambutan KH. Imam Yahya Mahrus, yang kala itu sedang dalam keadaan sakit.
Kenangan tersebut menjadi salah satu bagian yang membekas dalam ingatan Habib Syekh. Kedekatan dengan para masyayikh dan sambutan yang beliau terima semakin menguatkan perasaan bahwa Lirboyo merupakan rumahnya sendiri.
Dalam kesempatan itu, Habib Syekh juga menyampaikan harapannya agar kebersamaan para jama’ah dalam melantunkan sholawat di tempat tersebut menjadi wasilah memperoleh syafaat Nabi Muhammad saw. pada hari kiamat.
“Di tempat ini, Lapangan Barat Aula Muktamar Lirboyo, sudah sekian kali ada kumandang sholawat, sehingga tempat ini akan menjadi saksi kelak di akhirat bahwa semua yang pernah duduk di sini akan mendapat syafaat Nabi Muhammad,” dawuh beliau.
Baca juga: Kisah KH Mahrus Aly Saat Diminta Menjadi Menantu KH Abdul Karim
Dua Syair Jawa Go International
Habib Syekh turut menceritakan pengalamannya ketika bersholawat di Hadramaut. Menurut penuturannya, lagu yang jadi permintaan di sana justru Padang Bulan dan Turi Putih, dua selawat yang akrab di kalangan jama’ah di Indonesia.
Beliau kemudian menirukan gaya pengucapan dengan logat Arab untuk menggambarkan permintaan tersebut, “Ya Syekh, Fadang Bulan, Fadang Bulan.”
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana lantunan sholawat yang akrab di kalangan masyarakat Indonesia juga terkenal di luar negeri.
Melalui dawuh dan kenangan yang disampaikannya, Habib Syekh memperlihatkan bahwa hubungan dengan Lirboyo bukan hanya sebatas kehadiran dalam sebuah acara, melainkan juga ikatan cinta, penghormatan kepada para masyayikh, dan kerinduan untuk terus bersholawat bersama. Bagi beliau, Lirboyo tetap menjadi rumah yang selalu dibanggakan, ke mana pun langkahnya pergi.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
