Di Tengah Budaya Viral, Jam’iyyah Nahdliyyah Tegaskan Pentingnya Otoritas Ulama

otoritas ulama

Di tengah derasnya arus informasi dan budaya viral di media sosial, otoritas keilmuan ulama menjadi salah satu hal penting yang perlu diteguhkan kembali. Pesan inilah yang mengemuka dalam Seminar Jam’iyyah Nahdliyyah II Badan Pengelola (BP) Ekstrakurikuler Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis malam Jumat (29/10/2026).

Mengusung tema “Otoritas Ilmu dan Keteladanan di Era Disrupsi: Menghidupkan Kembali Otoritas Ulama sebagai Kompas Peradaban”, kegiatan yang berlangsung di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, ini diikuti seluruh santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam sambutannya, Mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Agus Aminulloh Mahin, mengingatkan para santri agar tidak menjadikan popularitas di media sosial sebagai tolok ukur dalam menentukan sosok yang layak diteladani.

Baca juga: Mu’tamad 2026 di Ma’had Aly Lirboyo Resmi Buka Gerbang Internasionalisasi Pesantren

Beliau menyoroti fenomena ketika sesuatu yang sebelumnya dianggap baik dapat dipandang buruk, sedangkan sesuatu yang buruk justru mendapat pembenaran hanya karena viral. Menurut beliau, fenomena tersebut juga dapat memengaruhi cara santri memandang dirinya sendiri dan orang lain.

Di media sosial, misalnya, santri yang tampil necis dengan sarung bermerek dan gaya berjalan tertentu bisa mendapat banyak perhatian. Sebaliknya, santri yang berpenampilan sederhana kerap luput dari sorotan. Padahal, popularitas semacam itu tidak serta-merta mencerminkan kualitas ilmu maupun akhlak seseorang.

Karena itu, beliau mengajak para santri untuk berhati-hati dalam memilih sosok panutan. Alih-alih mengikuti standar popularitas di media sosial, santri hendaknya menjadikan guru, kiai, dan masyayikh sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Sanad Keilmuan dan Keteladanan Guru

Materi utama seminar disampaikan oleh KH. Nur Machin Chudlori. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya peran guru dalam proses pendidikan di pesantren. Menurut beliau, pendidikan pesantren tidak hanya bertujuan mencerdaskan murid, tetapi juga membentuk akhlak serta memberikan ketenangan hati.

Beliau menjelaskan bahwa proses mencari ilmu harus melalui bimbingan guru. Sebab, sanad merupakan bagian penting dalam menjaga otentisitas keilmuan. Tanpa bimbingan dan sanad yang jelas, seseorang berisiko memahami ajaran agama hanya berdasarkan penalarannya sendiri yang terbatas.

Di tengah kemudahan mengakses informasi melalui telepon genggam, beliau mengingatkan bahwa belajar agama tidak cukup hanya dengan membaca atau menonton konten di media sosial. Terlebih, tidak semua orang yang tampil memberikan penjelasan keagamaan di ruang digital memiliki latar belakang pendidikan yang memadai.

Baca juga: KH Athoillah S. Anwar Resmi Buka Bahtsul Masail Kubro Pondok Pesantren Lirboyo

Menurut beliau, kepercayaan diri seseorang dalam menyampaikan pendapat tidak selalu sejalan dengan kebenaran ilmu yang disampaikannya. Oleh karena itu, santri perlu memastikan sumber pengetahuan dan merujuk kepada guru yang memiliki otoritas keilmuan.

Lebih lanjut, KH. Nur Machin menjelaskan bahwa pendidikan pesantren juga berorientasi pada pembentukan karakter. Karakter yang baik, menurutnya, tercermin dalam kebiasaan melakukan kebaikan tanpa harus mempertimbangkannya berulang kali. Beliau mencontohkan kebiasaan menggunakan tangan kanan ketika minum sebagai salah satu bentuk karakter yang baik.

Beliau juga menegaskan bahwa pendidikan akhlak tidak cukup disampaikan melalui nasihat. Pendidikan tersebut perlu diwujudkan melalui uswah hasanah atau keteladanan nyata dari seorang guru. Selain itu, perhatian dan doa guru kepada murid menjadi bagian penting dalam memberikan ketenangan hati selama proses pendidikan.

Apresiasi Karya Santri

Selain seminar, kegiatan tahunan yang diselenggarakan dua kali dalam setahun ini juga diisi dengan sejumlah rangkaian acara. Kegiatan diawali dengan Gema Kalam Ilahi yang dilantunkan oleh Isa Muhammad, kemudian dilanjutkan dengan penampilan para pemenang lomba Mading Hidayah, yakni Hilmi Zauhari yang membawakan syair Arab dan Muhammad Fadhilah Fahad yang membawakan puisi Indonesia.

Panitia juga menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba dalam kategori esai, puisi, cerpen, syair, dan karikatur. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan karya literasi para santri.

Acara dipandu oleh pembawa acara yang menggunakan tiga bahasa, yakni Indonesia, Arab, dan Inggris. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Nur Machin Chudlori.

Baca juga: Kuliah Umum Ma’had Aly Lirboyo: Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Berbasis Turats

Melalui seminar ini, para santri diharapkan semakin memahami bahwa kemajuan teknologi dan kemudahan memperoleh informasi perlu diimbangi dengan kehati-hatian dalam menerima pengetahuan. Di tengah derasnya arus informasi, otoritas keilmuan, sanad, dan keteladanan ulama tetap menjadi pijakan penting dalam membangun karakter serta menjaga tradisi keilmuan pesantren.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses