Lirboyo – Ribuan santri tingkat III Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi’in (MHM) memadati Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Selasa (20/10/2026). Mereka mengikuti agenda Pelatihan Kepenulisan bertajuk “Dari Gagasan Menjadi Tulisan: Belajar Menulis Feature, Opini, dan Kolom”. Kegiatan ini digelar sebagai langkah strategis membekali santri agar mampu menuangkan pemikiran keagamaan dan sosial ke dalam karya tulis yang berbobot.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik, KH. Ahmad Chuvav Ibriy, hadir sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya keberanian santri dalam memulai langkah menulis tanpa perlu menunggu sempurna.
“Jangan menunggu pandai menulis untuk memulai tulisan, harus nekat,” tegas KH. Ahmad Chuvav Ibriy di hadapan seluruh peserta.
Beliau juga membagikan tiga prinsip utama yang harus dipegang oleh seorang penulis. “Membaca membuat kita mengetahui. Kemudian, menulis membuat kita berpikir. Dan menulis terus-menerus membuat kita berkembang,” lanjutnya.
Baca juga: TRANS7 Mengajar Jilid XV di Lirboyo, Ajak Santri Berdakwah di Ruang Digital
Menulis Opini Harus Ilmiah dan Bertanggung Jawab
Dalam sesi penyampaian materi, KH. Ahmad Chuvav Ibriy mengingatkan para santri akan bobot moral di balik sebuah karya. Menurut beliau, gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan opini harus tetap berpijak pada fakta dan keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Secara moral, kita akan mempertanggungjawabkan apa yang ada dalam tulisan kita.” Jelas beliau.
“Opini memang subjektif, tetapi bukan berarti tanpa dasar, apalagi karepe dewe (semaunya sendiri),” ujar beliau menegaskan.
Mudir MHM: Santri Harus Lihai Mengolah Gagasan Lewat Tulisan
Kelancaran dan kekhidmatan acara pelatihan ini mendapat apresiasi penuh dari pimpinan madrasah. Mudir MHM, Bpk. Fathurrohman Mudhoffar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang untuk mengenalkan para santri lebih dekat dengan dunia literasi dan media modern.
“Acara ini sangat penting, karena merupakan salah satu upaya madrasah menyediakan program untuk mengenalkan panjenengan lebih dekat ke dunia penulisan. Saya kira sudah saatnya siswa MHM kemampuannya bukan hanya di public speaking,” tutur Bpk. Fathurrohman.
Beliau menambahkan bahwa kemahiran menyampaikan argumen secara lisan belum tentu selaras dengan kemampuan merangkai tulisan, sehingga pelatihan ini menjadi sarana pengasahan bakat yang sangat krusial. “Belum tentu orang yang bisa ngomong dan memahami ibarot serta (bisa) i’tirad dapat dengan baik menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan,” imbuhnya.
Baca juga: Kapolda Jatim Sowan ke Kediaman KH Anwar Manshur, Meminta Doa agar Amanah Menjalankan Tugas
Sambutan Menulis sebagai Media Dakwah dan Ukuran Kompetensi
Senada dengan hal tersebut, Agus M. Aminulloh Mahin turut menekankan bahwa tradisi menulis di lingkungan pesantren memiliki peran vital dalam menunjang syiar Islam di tengah masyarakat.
“Menulis ini penting sebagai media dakwah di masyarakat. Ukuran kompetensi seseorang salah satunya adalah dilihat dari tulisan yang ia buat,” jelas Agus Muhammad Aminullah Mahin.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
