Bukan Ahlinya, Mengapa Masih Gemar Berkomentar? Ini Alasan Ulama Kredibel Kerap Dihina

Di tengah derasnya arus informasi digital, bukan hal aneh jika kita menemukan ulama menjadi sasaran komentar pedas. Ironisnya, penilaian tersebut terkadang datang dari orang yang tidak memiliki latar belakang keilmuan agama yang memadai, bahkan tidak pernah mendalami ilmu-ilmu keislaman secara serius di pesantren.

Persoalan semacam ini ternyata bukan fenomena baru. Jauh sebelum media sosial hadir, para ulama telah membahas bagaimana orang-orang yang tidak memahami persoalan agama dapat memandang keliru sikap para pewaris nabi. Lantas, mengapa ulama yang memiliki kredibilitas keilmuan justru kerap mendapat hinaan dan penolakan?

Baca juga: Ingin Hidup Selalu Bahagia? Inilah Resep dari Syekh Ihsan Jampes

Menjawab dengan logika sederhana

Dalam logika sederhana, orang yang paling layak menilai kesalahan seorang dokter adalah orang yang memahami ilmu kedokteran. Seorang pasien tentu boleh menyampaikan keluhan, tetapi untuk memastikan apakah tindakan dokter itu benar atau keliru, diperlukan orang yang memiliki kompetensi di bidang yang sama.

Demikian pula dalam persoalan keagamaan. Seseorang boleh bertanya, berbeda pendapat, bahkan menyampaikan kritik. Namun, ketika yang dipersoalkan adalah fatwa, hukum fikih, atau keputusan keagamaan seorang ulama, penilaiannya tidak semestinya hanya didasarkan pada apa yang tampak benar menurut logika pribadi. Persoalan tersebut perlu dikaji dengan ilmu dan kaidah yang menjadi dasar seorang ulama dalam mengambil keputusan.

Baca juga: Inilah Mazhab Fikih yang Terakhir Punah Menurut Ahli Kasyaf

Ketika Ulama Dianggap Keliru

Seorang ulama yang kredibel tidak semestinya bertindak berdasarkan selera pribadi. Dalam menghadapi suatu persoalan, ia berusaha tunduk pada ketentuan syariat dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kemaslahatan dan kemudaratan yang mungkin ditimbulkan.

Karena itu, sesuatu yang menurut orang awam tampak salah belum tentu benar-benar salah dalam perspektif fikih. Ada pertimbangan keilmuan yang mungkin tidak terlihat oleh mereka yang tidak mengetahui proses pengambilan hukum dan pertimbangan para ulama.

Gambaran tentang sikap manusia yang demikian dapat ditemukan dalam QS. Az-Zukhruf ayat 8. Allah Swt. berfirman:

فَاَهْلَكْنَآ اَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًا وَّمَضٰى مَثَلُ الْاَوَّلِيْنَ ۝٨

Artinya, “Oleh karena itu, Kami membinasakan orang-orang yang lebih kuat dari mereka (kaum musyrik Quraisy) dan telah berlalu contoh (kehancuran) umat-umat terdahulu.”

Baca juga: Sejarah Lengkap Pembangunan Ka’bah

Tafsir dari Syaikh al-Harari

Dalam menjelaskan ayat tersebut, Syekh al-Hararī memberikan gambaran menarik tentang tabiat manusia yang kerap menampakkan sifat tercela terhadap para pembawa kebenaran. Ia menulis:

إِشَارَة إِلَى كَمَالِ ظَلُومِيَّةِ نَفْسِ الْإِنْسَانِ وَجَهُولِيَّتِهِ، وَكَمَالِ حِلْمِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَكَرَمِهِ، وَفَضْلِ رُبُوبِيَّتِهِ. بِأَنَّهُمْ وَإِنْ بَالَغُوا فِي إِظْهَارِ أَوْصَافِهِمُ الذَّمِيمَةِ، وَأَخْلَاقِهِمُ اللَّئِيمَةِ، بِالاِسْتِهْزَاءِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَالاِسْتِخْفَافِ بِهِمْ إِلَى أَنْ كَذَّبُوهُمْ. وَسَعَوْا فِي قَتْلِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ. وَكَذَلِكَ يَفْعَلُ أَهْلُ كُلِّ زَمَانٍ مَعَ وَرَثَةِ الْأَنْبِيَاءِ، مِنَ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ النَّاصِحِينَ لَهُمْ، وَالدَّاعِينَ إِلَى اللَّهِ.

“(Ayat ini) merupakan isyarat tentang betapa sempurnanya kezaliman dan kebodohan jiwa manusia, serta betapa sempurna kesabaran dan kemurahan Allah Swt. dan keutamaan pemeliharaan-Nya. Mereka, meskipun telah berlebihan dalam menampakkan sifat-sifat tercela dan perangai buruk mereka dengan mengolok-olok para nabi dan rasul, serta meremehkan mereka hingga mendustakan dan berusaha membunuh mereka, baik dari kalangan umat terdahulu maupun umat yang datang kemudian, demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang di setiap zaman terhadap para pewaris nabi, yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya, memberikan nasihat kepada mereka, dan mengajak manusia kepada Allah.” (Muḥammad al-Amīn bin ‘Abdullāh al-Armī al-‘Alawī al-Hararī al-Syāfi‘ī, Tafsīr Ḥadā’iq al-Rūḥ wa al-Raiḥān fī Rawābī ‘Ulūm al-Qur’ān, juz. 26 [Beirut: Dār Ṭauq al-Najāh, 1421 H/2001 M], hlm. 194.)

Baca juga: Kisah Tanggapan Rasulullah Kepada Pemimpin yang Menyuruh Rakyatnya Bermaksiat

Kritik harus berdasarkan adab dan ilmu

Dengan demikian, hinaan atau penolakan terhadap ulama bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah manusia. Para pewaris nabi pun dapat menghadapi perlakuan serupa ketika menyampaikan kebenaran yang tidak sesuai dengan keinginan atau pemahaman sebagian orang.

Namun, tentu saja, hal ini tidak berarti setiap orang yang mengkritik ulama otomatis termasuk dalam golongan yang tercela. Kritik tetap memiliki tempat dalam tradisi keilmuan Islam. Persoalannya adalah apakah kritik tersebut lahir dari ilmu dan adab, atau sekadar dari ketidaktahuan, prasangka, dan keberanian berbicara di luar kapasitas keilmuan. Dalam tradisi NU sendiri, santri mendebat dan mengkritik ulama mempunyai wadah sendiri, yakni dalam forum Bahstul Masail.

Baca juga: Belajar Bersyukur dari Mereka yang Tetap Rida di Tengah Ujian

Pesan kepada pengkritik ulama

Sebab, tidak semua hal yang tampak sederhana di mata awam benar-benar sederhana di hadapan ilmu. Ada persoalan yang telah melewati kajian dalil, kaidah fikih, pertimbangan maslahat-mafsadat, serta pandangan para ulama. Maka, sebelum terburu-buru menghakimi, barangkali pertanyaan yang lebih tepat adalah: sudahkah kita memahami persoalan tersebut sedalam orang yang kita kritik?

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses