Khutbah Jumat Perihal Hari Santri Nasional

Khutbah hari santri Nasional

Tulisan khutbah baik untuk khatib sampaikan di hari Jum’at yang berdekatan dengan perayaan Hari Santri (22 Oktober). Tulisan ini mengajak kita untuk sejenak menengok lembaran sejarah kebangsaan, merenungi setiap tetes keringat dan darah para ulama serta santri yang telah mewakafkan jiwanya demi kemerdekaan bangsa. Di balik kedamaian dan kemerdekaan yang kita nikmati hari ini, terukir keteguhan iman dan jiwa pengabdian yang tak lekang oleh waktu. Mari kita simak khutbah berikut:

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ. وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ.   قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ هِيَ الزَّادُ الحَقِيقِيُّ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.

Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Membahagiakan Hati Sesama Manusia

Hadirin rahimakumullah,

Kedamaian yang kita genggam hari ini bukanlah hadiah gratis dari waktu, melainkan buah dari benih keikhlasan, pengorbanan, dan keteguhan iman para pendahulu kita.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari rida) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,

Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa ini kembali diingatkan pada satu tonggak sejarah yang amat monumental: Hari Santri Nasional. Sebuah momentum untuk mengenang dan meneladani pautan cinta tanah air yang terpatri dalam jiwa kaum santri dan para ulama.

Penetapan hari bersejarah ini merupakan wujud pengakuan negara atas sumbangsih tak terhingga dari bilik-bilik pesantren dalam meretas jalan kemerdekaan serta mengabdi untuk kemaslahatan umat.

Jika kita memutar kembali jarum sejarah ke tanggal 22 Oktober 1945, tatkala awan kelam ancaman penjajahan kembali membayangi negeri yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya, bertiuplah angin perlawanan yang digelorakan oleh Mahaguru kita, Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari rahimahullah.

Beliau meletupkan seruan monumental yang kita kenal sebagai Resolusi Jihad.Seruan suci itu memanggil seluruh umat Islam, para ulama, dan santri untuk bangkit membela tanah air. Bagi mereka, mempertahankan Indonesia yang merupakan bagian utuh dari jihad fi sabilillah.

Baca juga: Khutbah Jum’at: Menjadi Muslim yang Bertakwa dan Berakhlak Mulia

Maka renungkanlah, hadirin:

Keteguhan para santri masa lalu mengajari kita bahwa cinta tanah air (hubbul wathan) dan keimanan tidaklah berseberangan, melainkan dua sisi mata uang yang saling menguatkan. Mereka berjuang tanpa mengharap tanda jasa, tanpa mengincar kursi kekuasaan, melainkan murni didorong oleh keikhlasan demi ridha Allah Swt.

Hadirin rahimakumullah,

Di pertengahan Oktober tahun 2026 ini, peringatan Hari Santri mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Antusiasme dan rasa syukur yang kita gaungkan hari ini bukanlah bentuk kesombongan kelompok, melainkan pancaran rasa syukur (tahadduts bin ni’mah) atas warisan perjuangan yang sangat berharga.

Allah Swt. mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ  

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)  

Baca juga: Khutbah Jumat: Kembali kepada Allah Sebelum Kesempatan Tertutup

Wahai para bapak, para pemuda, dan jamaah sekalian,

Keikhlasan para pendahulu telah menanamkan pondasi yang kokoh. Kini giliran kita—khususnya generasi muda—untuk merawat dan membangun di atas pondasi tersebut. Hanya dengan memadukan kedalaman ilmu keagamaan, keluhuran akhlak, dan semangat pengabdian kepada bangsa, cita-cita luhur menuju Indonesia yang adil, makmur, berakhlak mulia, dan diridhai Allah Swt. akan semakin dekat dalam genggaman.

Maka dari itu, mari kita jadikan momentum shalat Jum’at ini untuk mengetuk hati kita masing-masing. Mari kita kirimkan doa terbaik untuk para ulama, para pejuang, dan para pahlawan bangsa yang telah mendahului kita, seraya memohon agar semangat jihad mereka terus membara dalam dada kita untuk mengisi kemerdekaan ini dengan kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Wahai para pemuda dan generasi penerus bangsa, jadikanlah masa mudamu penuh dengan karya dan pengabdian. Pelajarilah agama dengan mendalam, tuntutlah ilmu setinggi-tingginya, dan jadilah penerang di tengah masyarakat.

Wahai para orang tua, bimbinglah anak-anak kita agar memiliki keterikatan hati dengan nilai-nilai pesantren dan Al-Qur’an. Tanamkan dalam jiwa mereka rasa cinta kepada agama dan tanah air, agar mereka tumbuh menjadi benteng kokoh bagi masa depan bangsa ini.Mari kita bersama-sama berdoa memohon kepada Allah Swt., agar negeri kita Indonesia senantiasa dilindungi, diberkahi, dan dipenuhi dengan ketenteraman serta kesejahteraan.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.   اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.   اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا.اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيْسِيَا. وَاجْعَلْهُ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses