Lirboyo, (22/10/2026 M) — Madrasah Murottilil Qur’an (MMQ) Pondok Pesantren Lirboyo telah usai merampungkan pelaksanaan Takhtiman Al-Qur’an ke-46 yang bertempat di Aula Al-Muktamar. Tahun ini, sebanyak 182 peserta dinyatakan mengikuti rangkaian takhtiman yang terbagi dalam empat kategori, yakni 129 peserta bin nadzor, 2 peserta bil ghoib, 29 peserta sab’ah, serta 22 peserta bil ghoib dan sab’ah.
Jumlah peserta yang terus bertambah membuat panitia melakukan persiapan lebih ekstra dibandingkan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya. Meski secara umum tidak terdapat perubahan besar dalam kesiapan teknis, panitia tahun ini menghadapi tantangan lebih dalam menangani peserta dari setiap kategori yang jumlahnya meningkat.
Selain penanganan peserta, Takhtiman MMQ ke-46 juga akan mengusung konsep yang berbeda dari pelaksanaan sebelumnya. Salah satu perubahan tersebut terlihat pada penataan barisan khotimin serta pembacaan maqra’ yang melibatkan imam Qira’ah Sab’ah.
Perubahan konsep tersebut disiapkan agar pelaksanaan takhtiman dapat berlangsung lebih tertata sekaligus memberikan pengalaman yang berbeda bagi para khotimin dan jamaah yang hadir.
Baca juga: Nasihat Menyentuh Habib Hasan Al Muhdor pada Takhtiman Al-Qur’an ke-46 Lirboyo
Seleksi Ketat Sebelum Menjadi Khotimin
Di balik 182 peserta yang mengikuti Takhtiman MMQ ke-46, terdapat rangkaian seleksi yang harus dilalui calon khotimin. Setiap kategori memiliki persyaratan dan tahapan tersendiri untuk memastikan peserta benar-benar memenuhi standar bacaan dan hafalan Al-Qur’an yang ditetapkan lembaga.
Untuk kategori bin nadzor, calon peserta terlebih dahulu harus menyelesaikan khataman mengaji bin nadzor Juz 1–29 kepada ustadz yang telah ditentukan oleh lembaga. Mereka juga diwajibkan mengkhatamkan Juz 30 beserta sejumlah surah tambahan, seperti Yasin, Al-Waqi’ah, dan Al-Mulk, dengan hafalan.
Setelah memenuhi persyaratan tersebut, calon khotimin baru diperbolehkan mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi Takhtiman bin Nadzor.
Dalam proses seleksi, peserta menyetorkan hafalan Juz 30 beserta surah-surah tambahan kepada beberapa asatidz yang berbeda pada setiap harinya. Hafalan tersebut diperiksa secara teliti, mulai dari makhraj, sifat huruf, hingga penerapan tajwid.
Tidak berhenti pada ujian hafalan, calon khotimin juga harus mengikuti ujian tulis dengan materi yang bersumber dari buku-buku karya al-Maghfurlah al-Ustadz KH Maftuh Basthul Birri. Seluruh rangkaian seleksi berlangsung kurang lebih selama satu setengah bulan sebelum dilakukan evaluasi terhadap nilai yang diperoleh peserta.
Peserta yang belum mencapai standar nilai yang ditetapkan lembaga harus kembali mengikuti seleksi pada tahun berikutnya. Sebaliknya, peserta yang memenuhi standar dinyatakan lulus dan berhak mengikuti Takhtiman Al-Qur’an tahun ini.
Baca juga: Haul Mbah Kyai Lirboyo dan Takhtiman Al-Qur’an ke-46 Ponpes Murottilil Qur’an Lirboyo
Bertahap dari Juz 30 hingga Khatam 30 Juz
Sementara itu, peserta kategori bil ghoib harus melalui tahapan yang lebih panjang sebelum diperbolehkan menyetorkan hafalan Juz 1–30.
Tahap awal dimulai dengan marhalah i’dadiyah, yakni menghafalkan Juz 30 beserta surah-surah lain yang telah ditetapkan oleh Al-Ustadz KH Maftuh Basthul Birri. Setelah dinyatakan lulus, santri baru diperbolehkan melanjutkan setoran hafalan Juz 1–30.
Setiap menyelesaikan kelipatan 10 juz, peserta diwajibkan mengikuti ujian marhalah. Tahapannya terdiri atas marhalah ula, marhalah tsaniyah, dan marhalah tsalis. Setelah seluruh tahapan tersebut dinyatakan lulus, peserta harus mengikuti marhalah kubro, yaitu ujian menyetorkan hafalan Juz 1–30 dalam batas waktu yang telah ditentukan.
Peserta yang belum mampu menyelesaikan setoran dalam waktu tersebut dinyatakan belum lulus dan harus mengikuti kembali ujian marhalah kubro pada kesempatan berikutnya. Adapun peserta yang berhasil menyelesaikannya dinyatakan lulus dan diperbolehkan mengikuti Takhtiman Al-Qur’an.
Baca juga: Semarak Istighotsah Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri
Menempuh Qira’ah Sab’ah
Adapun peserta kategori bil ghoib dan sab’ah mengikuti ketentuan yang sama dengan peserta bil ghoib. Setelah dinyatakan lulus dalam seleksi bil ghoib, mereka diwajibkan mengikuti pengajian Qira’ah Sab’ah yang diselenggarakan Pondok Pesantren Madrasah Murottilil Qur’an (PPMMQ).
Pengajian tersebut dibimbing oleh ustadz yang dipilih langsung oleh pengasuh.
Sementara itu, peserta kategori sab’ah memiliki ketentuan tersendiri. Sebelum mengikuti rangkaian Qira’ah Sab’ah, peserta harus terlebih dahulu mengikuti Takhtiman Al-Qur’an, baik dalam kategori bin nadzor maupun bil ghoib.
Setelah itu, mereka mengikuti pengajian Qira’ah Sab’ah yang diselenggarakan PPMMQ dengan bimbingan ustadz yang telah dipilih langsung oleh pengasuh.
Baca juga: Memperingati Hari Santri Nasional, Pondok Lirboyo Gelar Apel di Depan Gedung Yayasan
46 Tahun Menjaga Tradisi Pembelajaran Al-Qur’an
Takhtiman ke-46 ini menjadi bagian dari perjalanan panjang MMQ dalam membidangi pendidikan Al-Qur’an di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo.
Cikal bakal MMQ bermula sekitar 1397 H/1977 M, ketika Al-Ustadz KH Maftuh Basthul Birri merintis pengajian Al-Qur’an dengan sistem sorogan. Seiring bertambahnya santri yang mengikuti pengajian, sekitar tahun 1979/1980 M, pengajian tersebut berkembang menjadi MMQ sebagai lembaga pendidikan Pondok Pesantren Lirboyo yang secara khusus membidangi Al-Qur’an.
Kepengurusan MMQ kemudian mulai dibentuk pada 1990. Bertambahnya jumlah siswa mendorong lembaga untuk menyusun jenjang pendidikan yang lebih terstruktur, yakni tingkat Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, dan Aliyyah.
Sekitar 1997, MMQ juga membentuk sebuah jam’iyyah sebagai wadah ta’aruf antarsantri sekaligus media pendidikan ekstrakurikuler. Salah satu kegiatannya adalah mengembangkan bakat santri dalam bidang seni baca Al-Qur’an.
Kini, setelah melewati perjalanan panjang tersebut, Takhtiman MMQ kembali digelar untuk yang ke-46 kalinya. Di balik pelaksanaannya, ratusan khotimin telah melewati proses panjang—dari setoran, ujian, evaluasi, hingga persiapan akhir—sebelum akhirnya berdiri dalam satu majelis untuk menyempurnakan rangkaian pembelajaran Al-Qur’an mereka.
Referensi:
- Wawancara bersama Bpk. Abdul Mufid Cirebon, salah satu panitia takhtiman
- Arsip
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
