Majalengka (06/11/2026) – Perjalanan sebuah lembaga pendidikan tidak selalu dimulai dengan fasilitas yang lengkap dan jumlah peserta didik yang melimpah. Hal itu pula yang mewarnai perkembangan Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka. Berawal dari puluhan santri dengan sarana pendidikan yang terbatas, kini pondok tersebut telah berkembang menjadi tempat pendidikan bagi ratusan santri.
Baca juga: Sambut Haul dan Haflah Ke-117, Pesantren Lirboyo Gelar Festival Ilmiah Santri
Berdirinya Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka sebagai zonasi
Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka resmi berdiri sebagai pondok zonasi pada 2021 melalui peresmian yang dipimpin Romo Kiai Kafabihi Mahrus bersama para masyayikh dan dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo kediri. Pada masa awal pendiriannya, pondok ini hanya menerima santri kelas III dan IV Ibtidaiyah. Jumlah santri pada rombongan pertama berkisar 50–60 orang yang datang menggunakan bus.
Hingga penutupan penerimaan santri pada tahun tersebut, jumlahnya mencapai sekitar 110 santri. Seiring berjalannya waktu, jumlah santri tercatat mencapai 356 orang, bahkan mengalami penambahan sekitar 18 santri menjelang kuartal IV.
Baca juga: Penampilan ISHARI Lirboyo Meriahkan Majelis Sholawat Kubro Pamungkas
Sekilas tentang pondok zonasi Lirboyo
Pondok zonasi kerap dipersepsikan sebagai tempat pembinaan sementara bagi santri yang belum memenuhi kriteria tertentu untuk menempuh pendidikan di pondok pusat. Melalui sistem ini, santri memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperdalam ilmu, serta mematangkan kesiapan diri sebelum melanjutkan pendidikan ke pondok induk.
Di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, kebijakan zonasi juga mempertimbangkan asal daerah calon santri. Santri baru yang hendak mendaftar pada jenjang maksimal kelas VI Ibtidaiyah atau I’dadiyah I (SP 1) dapat diarahkan ke pondok cabang sesuai wilayah zonasinya. Adapun bagi calon santri yang berasal dari Jawa Barat dan Jabodetabek, Pondok Cabang V Lirboyo Majalengka menjadi pilihan tempat untuk menempuh pendidikan tersebut. Sedangkan apabila daerah asal tidak memiliki tempat zonasi, maka tetap mengikuti kegiatan di pondok induk.
Baca juga: Semarak Festival 1002 Bait Alfiyah Ibnu Malik Di Lirboyo
Perkembangan bangunan di Pondok Pesantren Cabang V Majalengka
Khodim Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka, KH Muhammad Mubasyarum Bih, menjelaskan bahwa perkembangan tersebut berlangsung secara bertahap. Menurutnya, kondisi pondok pada masa awal masih jauh dari kata ideal, terutama dalam hal ketersediaan sarana pendidikan.
Pada waktu itu, kegiatan belajar mengajar (KBM) masih berlangsung di masjid dengan sekat-sekat sederhana untuk membedakan setiap kelas. Sementara itu, bangunan yang tersedia masih sangat terbatas. Salah satu bangunan awal yang telah berdiri adalah asrama Al-Ikhwan, yang kemudian mendapat nama resmi dari masyayikh pada tahun 2025.
Perkembangan fasilitas mulai terlihat pada 2022. Seorang dermawan asal Cirebon, H. Mujahidin, yang juga merupakan wali santri Lirboyo, mendermakan sebagian hartanya untuk membangun sebuah gedung berwarna putih yang kini dikenal sebagai Gedung Syaikh Bayanillah. Bangunan tersebut memiliki lima ruang kelas. Sebagian aktivitas pendidikan kemudian berpindah ke gedung itu, sedangkan lantai duanya dimanfaatkan sebagai kamar santri.
Pembangunan berlanjut pada 2023 melalui pendirian Gedung Al-Ihsan yang berada di sebelah barat Gedung Syaikh Bayanillah. Bangunan berbentuk huruf L dengan konstruksi tiga lantai tersebut diselesaikan secara bertahap. Lantai pertama rampung pada 2023, lantai kedua pada 2024, dan lantai ketiga pada 2025.
Seiring bertambahnya fasilitas tersebut, kegiatan belajar mengajar akhirnya tidak lagi menggunakan masjid sebagai ruang kelas. Kondisi ini menjadi salah satu perubahan penting dalam perjalanan pendidikan di Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka.
Perkembangan jumlah tingkatan
Selain peningkatan jumlah santri dan fasilitas, perkembangan juga terlihat pada jenjang penerimaan peserta didik. Jika pada awalnya hanya menerima kelas III dan IV Ibtidaiyah, kini pondok telah menerima santri hingga kelas VI Ibtidaiyah serta I’dadiyah I (SP 1). Kebijakan tersebut mengikuti arahan mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo pusat.
Penutup
Bagi KH Muhammad Mubasyarum Bih, seluruh perkembangan itu tidak terlepas dari dukungan masyayikh, alumni, para dermawan, dan masyarakat. Ia berharap pertumbuhan tersebut terus berjalan tanpa meninggalkan ruh utama pesantren, yakni keberlangsungan kegiatan belajar mengajar dan pembinaan akhlak santri sebagaimana yang diharapkan oleh masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo.
Referensi: Hasil wawancara dengan KH Mubasyarum Bih (Khodim Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka)
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
