Dalam acara Haul Mbah Kyai Lirboyo dan Takhtiman Al-Qur’an PPMQ ke-46, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyampaikan pentingnya mensyukuri nikmat ilmu agama dengan mengamalkan serta mengajarkannya kepada orang lain. Acara tersebut dilaksanakan di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo pada Kamis malam Jumat, 22 Oktober 2026 M., pukul 19.00 WIB.
Beliau mengawali dawuh dengan mengingatkan bahwa kesempatan untuk mempelajari ilmu agama dan Al-Qur’an merupakan nikmat agung (ni‘matun ‘azhimah) yang diberikan Allah Swt. Oleh karena itu, nikmat tersebut harus disyukuri, salah satunya dengan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dan mengajarkannya kepada orang lain.
Keutaman Mencari, Mengamalkan, dan Mengajarkan Ilmu
Mengutip perkataan Nabi Isa a.s., beliau menyampaikan:
“Man ‘alima wa ‘amila wa ‘allama, yud‘a fi malakūtis-samā’i ‘azhīman.”
Beliau menjelaskan: orang yang berilmu, mengamalkan ilmunya, dan mengajarkannya akan disebut sebagai orang yang agung di alam para malaikat. Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan orang yang tidak hanya memiliki ilmu, tetapi juga mengamalkan dan menyebarkannya.
Baca juga: Lima Malam yang Mustajab untuk Berdoa
KH. Abdulloh Kafabihi kemudian menjelaskan bahwa ilmu tidak cukup hanya diamalkan untuk diri sendiri. Seseorang yang memiliki ilmu hendaknya juga mengajarkannya agar dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Sebab, salah satu ukuran kebaikan seseorang adalah sejauh mana ia memberikan manfaat bagi sesama, sebagaimana ungkapan “khairukum anfa‘uhum linnās”.
Sebaliknya, orang yang mengajarkan ilmu agama tanpa mengamalkannya sendiri menghadapi risiko yang besar. Beliau mengingatkan bahwa ancaman bagi orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya lebih berat daripada orang yang tidak berilmu. Karena itu, mengamalkan dan mengajarkan ilmu harus berjalan beriringan.
Dalam dawuh selanjutnya, beliau mengutip hadis Rasulullah Saw.:
“Man yuridillāhu bihi khairan yufaqqihhu fid-dīn.”
Baca juga: Kesungguhan Menuntut Ilmu Harus Dibuktikan dengan Prestasi
Artinya, barang siapa dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama. Hadis ini menjadi isyarat bahwa orang yang diberi kesempata untuk memahami ilmu agama merupakan tanda dia dikehendaki baik oleh Allah Swt.
Al-Qur’an sebagai Kesibukan yang Utama
KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus juga menekankan keutamaan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Beliau mengutip sabda Rasulullah Saw.:
“Khairukum man ta‘allamal-Qur’āna wa ‘allamahu.”
Artinya, sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Beliau menjelaskan bahwa dalam hal belajar, mempelajari Al-Qur’an merupakan amalan yang utama. Demikian pula dalam hal mengajar, mengajarkan Al-Qur’an memiliki keutamaan tersendiri.
Baca juga: Keutamaan Bersholawat kepada Nabi Muhammad
Atas dasar itu, beliau menegaskan bahwa salah satu kesibukan terbaik adalah menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.
Menyatukan Syariat, Tarekat, dan Hakikat
Selain menjelaskan kewajiban mengamalkan dan mengajarkan ilmu, beliau juga menegaskan tiga aspek ilmu yang mengantarkan seseorang menuju Allah Swt., yaitu syariat, tarekat, dan hakikat. Syariat berkaitan dengan fikih, tarekat berkaitan dengan tasawuf, sedangkan hakikat merupakan pemahaman batin yang tumbuh seiring perjalanan spiritual seseorang.
Beliau mengingatkan pentingnya keseimbangan antara fikih dan tasawuf. Seseorang yang mendalami fikih tanpa disertai tasawuf berisiko terjerumus dalam kesombongan. Sebaliknya, menempuh jalan tasawuf tanpa berpegang pada fikih dapat mengarah pada penyimpangan atau kezindikan.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
