Dalam penutupan Majelis Sholawat Kubro Pondok Pesantren Lirboyo tahun 1446–1447 H., Kamis (25/12/2025), di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Agus H. Reza Ahmad Zahid Imam menyampaikan kisah Khaizuran, seorang perempuan yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pada masa Dinasti Abbasiyah.
Pada abad ke-2 Hijriyah, ada seorang perempuan yang bernama Khaizuran, atau dikenal juga dengan nama Jurasyiyah. Beliau adalah istri Khalifah Abbasiyah yang bernama al-Mahdi bin al-Manshur al-Abbas.
Khaizuran merupakan salah satu tokoh perempuan yang tercatat dalam sejarah. Beliau memiliki peran penting dalam menyatukan masyarakat pada masa Dinasti Abbasiyah.
Baca juga: Kisah Nabi Adam dan Seorang Pendosa pada Masa Nabi Musa
Beliau memiliki kontribusi luar biasa dalam mewujudkan ittihad ar-ra’iyyah, yaitu persatuan masyarakat. Salah satu bentuk kontribusinya adalah melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, khususnya majelis sholawat.
Khaizuran sangat memperhatikan kegiatan majelis sholawat, terutama ketika memasuki bulan Rabiul Awal, saat umat Islam memperingati kelahiran Rasulullah SAW.
Ketika bulan tersebut tiba, Khaizuran berangkat ke Madinah. Beliau mengumpulkan masyarakat Madinah dan mengajak mereka untuk bersholawat bersama. Setelah kegiatan sholawat selesai, masyarakat yang hadir diberi hidangan makanan.
Dari Madinah, Khaizuran kemudian melanjutkan perjalanan ke Makkah. Di sana, beliau mengumpulkan masyarakat di Masjidil Haram dan mengajak mereka untuk bersholawat bersama. Setelah itu, masyarakat juga diajak makan bersama dan diberi hidangan.
Baca juga: Lima Martabat Keimanan dalam Kitab Kasyifatus Saja
Kisah ini tercatat dalam sejarah Dinasti Abbasiyah. Khaizuran menjadi salah satu perempuan yang memiliki kontribusi luar biasa dalam menggerakkan masyarakat melalui kegiatan keagamaan.
Maka, semangat dalam pelaksanaan majelis-majelis sholawat adalah semangat ittihad, yaitu semangat persatuan. Sebagaimana yang pernah terlaksana pada masa Dinasti Abbasiyah.
Oleh karena itu, ketika kita menghadiri majelis sholawat, hendaknya kita juga membawa semangat persatuan tersebut.
Melalui kisah Khaizuran, Gus Reza mengingatkan bahwa majelis sholawat tidak hanya menjadi tempat untuk melantunkan pujian kepada Rasulullah SAW. Di dalamnya juga terdapat semangat kebersamaan dan persatuan yang perlu terus dijaga oleh umat Islam.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
