Tiga Tingkatan Sholawat Saat Berdoa

Membaca sholawat saat berdoa Membaca sholawat saat berdoa

Setiap muslim pasti mengharapkan agar Allah segera mengabulkan setiap doanya. Oleh karena itu, kita harus selalu memperhatikan adab berdoa supaya harapan kita lekas terwujud.Dan salah satu rahasia besar dari cara berdoa agar terkabul adalah membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw. Lebih lanjut, dalam kitab Futuhat ar-Rabbaniyyah, Syekh Muhammad bin Allan as-Shiddiqi menjelaskan tingkatan membaca shalawat saat berdoa menjadi tiga martabat. Maka dari itu, pada tulisan kali ini kita bahas ketiga tingkatan adab berdoa tersebut.

Baca juga: Doa untuk Keamanan Negeri: Refleksi Hari Santri Nasional 2026

Membaca Shalawat Sebelum Berdoa

Untuk tingkatan pertama, seseorang hendaknya mengucapkan puji-pujian kepada Allah lalu membaca shalawat sebelum ia memanjatkan doanya. Terkait hal ini, sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memberikan nasihat yang sangat berharga. Sebagaimana beliau berkata:

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: إذا أراد أحدكم أن يسأل الله شيئًا فليبدأ بمدحه والثناء عليه بما هو أهله ثم يصلى على النبي – ﷺ – ثم يسأل فإنه أجدر أن ينجحه أو يصيب رواه عبد الرزاق والطبراني في الكبير

“Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Jika salah seorang dari kalian ingin meminta sesuatu kepada Allah, maka hendaknya ia memulai dengan memuji-Nya dan menyanjung-Nya dengan pujian yang pantas bagi-Nya. Kemudian ia bershalawat kepada Nabi ﷺ, lalu ia meminta. Sebab sesungguhnya hal tersebut lebih berpotensi untuk mensukseskan harapannya atau lebih tepat sasaran.” (Riwayat Abdurrazzaq dan At-Thabrani dalam kitab Al-Kabir).

Mengapit Doa dengan Sholawat di Awal dan Akhir

Selanjutnya, kita beralih pada tingkatan kedua. Pada tahap ini, seseorang mengucapkan sholawat pada awal dan akhir doanya. sehingga ia meletakkan segala permintaannya tepat berada di tengah-tengah antara kedua sholawat tersebut. Bahkan, Imam Al-Ghazali mengutip dari Abu Sulaiman Ad-Darani mengenai hal ini:

قال الغزالي عن أبي سليمان الداراني إنما استحب الدعاء بين الصلاتين لأنها لا ترد والكريم لا يناسبه قبول الطرفين ورد الوسط

“Al-Ghazali berkata dari Abu Sulaiman Ad-Darani: Sesungguhnya seseorang sangat dianjurkan berdoa di antara dua shalawat karena kedua shalawat itu tidak akan tertolak. Dan Dzat Yang Maha Pemurah tidak pantas jika Dia menerima kedua ujungnya namun menolak bagian tengahnya.”

Baca juga: Wirid Setelah Sholat Lima Waktu

Menyertakan Shalawat pada Awal, Tengah, dan Akhir Doa

Sementara itu, pada tingkatan ketiga ini, kita membaca shalawat pada awal, tengah, dan akhir doa kita secara terus-menerus. Mengenai hal ini, sahabat Jabir r.a. menceritakan sebuah teguran sekaligus pesan langsung dari Rasulullah saw. Beliau bersabda:

عن جابر رضي الله عنه قال: قال لنا رسول الله – ﷺ – لا تجعلوني كقدح الراكب أن الراكب إذا علق معاليقه أخذ قدحه فملأه الماء فإن كان له حاجة في الوضوء توضأ وإن كان له حاجة في الشرب شرب وإلّا أهراق ما فيه اجعلوني في أول الدعاء وفي أوسط الدعاء وفي آخر الدعاء رواه البزار في مسنده والبيهقي في شعبه 

“Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami: Janganlah kalian menjadikan diriku seperti gelas seorang penunggang. Karena sesungguhnya seorang penunggang itu, apabila ia telah menggantungkan barang bawaannya, ia mengambil gelasnya lalu mengisinya dengan air. Kemudian jika ia memiliki hajat untuk berwudhu, maka ia berwudhu, dan jika ia memiliki hajat untuk minum, maka ia meminumnya. Namun jika tidak, maka ia menumpahkan isinya. Jadikanlah aku pada awal doa, dan pada pertengahan doa, serta pada akhir doa.” (Riwayat Al-Bazzar dalam Musnadnya, dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman).

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses