Dalam penutupan Majelis Sholawat Kubro Pondok Pesantren Lirboyo tahun 1446–1447 H., Kamis (25/12/2025), di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Agus H. Reza Ahmad Zahid Imam, menyampaikan dawuh mengenai lima martabat keimanan dalam kitab Kasyifatus Saja, syarah dari kitab Safinatun Najah.
Mengutip keterangan maratibul imani khamsatun, Gus Reza menjelaskan bahwa keimanan memiliki lima martabat, mulai dari imanut taqlid, imanul ilmi, imanul iyan, haqqul yakin, hingga al-fana.
Keimanan yang Wajib Dimiliki
Dua martabat pertama menjadi keimanan yang harus dimiliki setiap orang, termasuk kalangan awam. Gus Reza menjelaskan, imanut taqlid merupakan keyakinan yang tumbuh dari kepercayaan terhadap informasi yang diterima dari orang lain.
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus: Mencari, Mengamalkan, dan Mengajarkan Ilmu
“Iman taklid itu adalah ketika kita mendapatkan kabar tentang satu pengetahuan dari seseorang, kita langsung percaya. Itu namanya adalah imanut taqlid,” jelas beliau.
Keimanan tersebut kemudian meningkat ketika seseorang tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mempelajari dasar dan dalil yang menguatkannya. Inilah yang disebut imanul ilmi.
“Ada iman yang lebih atas lagi, yaitu imanu ilmi. Kita mempelajari sesuatu, dapat dalil, dapat ibarat, kemudian kita percaya. Maka, itu dikatakan sebagai imanu ilmi.”
Gus Reza menegaskan bahwa kedua martabat tersebut perlu dimiliki oleh setiap orang. Keimanan tidak cukup hanya dengan menerima suatu keterangan, tetapi juga perlu disertai pengetahuan yang menjadi landasan keyakinan.
Baca juga: Lima Malam yang Mustajab untuk Berdoa
“Dua iman ini kita semuanya harus punya. Orang awam harus punya dua perkara ini, yaitu imanu taqlidin dan imanu ilmin,” ungkap beliau.
Tiga Keimanan di Atasnya
Lebih lanjut, Gus Reza menerangkan martabat keimanan berikutnya, yaitu imanul iyan. Jika sebelumnya keyakinan diperoleh melalui informasi dan pengetahuan, pada martabat ini seseorang meyakini sesuatu setelah menyaksikannya secara langsung.
“Ketika kita melihat sesuatu, kemudian kita langsung percaya, maka ini dinamakan dengan imanu iyan.”
Adapun martabat selanjutnya adalah haqqul yakin, yakni keyakinan yang semakin mendalam ketika seseorang tidak hanya mengetahui, tetapi juga merasakan kebenaran yang diyakininya.
“Kalau kita sudah mengetahui sesuatu dan merasakannya, maka itu kemudian dinamakan dengan imanu hakin. Sering orang mengatakan dengan haqqul yakin.”
Baca juga: Kesungguhan Menuntut Ilmu Harus Dibuktikan dengan Prestasi
Puncak dari kelima martabat tersebut adalah al-fana. Gus Reza menggambarkannya sebagai keadaan ketika seseorang begitu kuat dalam perhatian dan kecintaannya kepada Allah Swt. hingga melupakan segala sesuatu selain-Nya.
Melalui penjelasan ini, Gus Reza mengingatkan bahwa keimanan memiliki tahapan kedalaman. Keyakinan yang semula tumbuh dari kepercayaan perlu disertai ilmu, kemudian semakin kuat melalui penyaksian dan penghayatan, hingga mengantarkan seseorang pada kedekatan spiritual dengan Allah Swt.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
