Dalam Majelis Sholawat Kubro Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis Legi, 3 Dzulhijjah 1446 H/29 Mei 2025 M, di Aula Al-Muktamar, Agus Dahlan Ridlwan, salah satu mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) Lirboyo, menyampaikan bahwa sholawat kepada Nabi Muhammad saw. memiliki keistimewaan yang luar biasa. Bahkan, sebelum Rasulullah saw. dilahirkan, nama beliau telah memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah Swt. Hal ini sebagaimana tergambar dalam kisah Nabi Adam a.s. dan seorang pendosa pada masa Nabi Musa a.s.
Beliau juga menyampaikan bahwa keutamaan bersholawat hendaknya tidak berhenti pada lantunan semata. Sholawat juga perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari dengan meneladani akhlak dan kehidupan Rasulullah saw.
“Sholawat kepada Rasul itu memang mempunyai kesaktian yang luar biasa. Tetapi jangan berhenti hanya pada sholawat saja. Sholawat itu juga harus dilanjutkan dengan yang tadi (red: meneladani Rasulullah saw.).” Tegas Agus Dahlan
Baca juga: Lima Martabat Keimanan dalam Kitab Kasyifatus Saja
Untuk menggambarkan keistimewaan sholawat, beliau mengisahkan bagaimana Nabi Adam AS memperoleh ampunan Allah Swt. setelah bertawasul dengan menyebut nama Nabi Muhammad saw. Kisah tersebut menunjukkan bahwa nama Rasulullah saw. telah memiliki keutamaan bahkan sebelum beliau diutus sebagai nabi dan rasul.
Pendosa pada Masa Nabi Musa
Keistimewaan itu juga tergambar dalam sebuah kisah pendosa yang diampuni oleh Allah karena sholawat. Dahulu terdapat seorang penduduk yang dikenal sebagai pendosa oleh masyarakat sekitar pada masa Nabi Musa a.s. Ia sering mengganggu dan menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Karena perilakunya tersebut, masyarakat tidak menyukainya.
Ketika orang itu meninggal dunia, tidak seorang pun dari penduduk desa yang bersedia mengurus jenazahnya. Masyarakat bahkan membuang jasadnya ke tempat sampah karena menganggapnya sebagai orang yang tidak pantas mendapatkan penghormatan.
Namun, Allah Swt. justru memerintahkan Nabi Musa a.s. untuk mendatangi orang tersebut. Melalui wahyu-Nya, Allah meminta Nabi Musa a.s. agar mengurus jenazahnya, mulai dari memandikan, mengafani, hingga mengebumikannya.
Nabi Musa a.s. kemudian mendatangi desa tersebut. Di sana, beliau mendapati masyarakat hanya menceritakan keburukan orang yang telah meninggal itu. Tidak ada seorang pun yang memberikan kesaksian baik tentang dirinya.
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus: Mencari, Mengamalkan, dan Mengajarkan Ilmu
Hal itu membuat Nabi Musa a.s. bertanya kepada Allah Swt. mengenai alasan di balik perintah tersebut. Bagaimana mungkin seseorang yang sepanjang hidupnya dikenal buruk oleh masyarakat justru mendapatkan perhatian khusus dari Allah hingga Nabi Musa a.s. diperintahkan untuk mengurus jenazahnya?
Allah Swt. kemudian menjelaskan bahwa di balik keburukan orang tersebut, tersimpan sebuah amalan yang menjadi sebab datangnya ampunan-Nya.
Suatu ketika, orang itu pernah membuka kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Saat membaca kitab tersebut, ia menemukan nama Nabi Muhammad saw. yang tertulis di dalamnya. Mengetahui hal itu, ia pun berdoa kepada Allah dengan bertawasul melalui nama Nabi Muhammad saw.
Baca juga: Kesungguhan Menuntut Ilmu Harus Dibuktikan dengan Prestasi
Amalan itulah yang menjadi sebab Allah Swt. mengampuni dosa-dosanya. Karena itu, Allah memerintahkan Nabi Musa a.s. untuk mengurus jenazahnya, meskipun masyarakat selama ini hanya mengenalnya sebagai orang yang berperangai buruk.
Kisah tersebut menjadi gambaran tentang keistimewaan Nabi Muhammad saw. sekaligus besarnya rahmat dan ampunan Allah Swt. Seseorang yang dipandang buruk oleh manusia ternyata masih memiliki amalan tersembunyi yang mendatangkan rahmat Allah.
Melalui kisah ini, Agus Dahlan Ridlwan mengingatkan bahwa sholawat tidak cukup hanya dilafalkan, tetapi juga harus diikuti dengan upaya meneladani Rasulullah saw. Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. tidak hanya terucap melalui lisan, melainkan tercermin pula dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
