Panduan Salat Istisqa

Salat Istisqa Salat Istisqa

Musim kemarau panjang sering kali menyebabkan kekeringan di berbagai wilayah, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Oleh karena itu, tak heran apabila salat istisqa mulai banyak didirikan. Tak lain tujuannya adalah meminta turunnya air hujan kepada Allah Swt. Dalam kitab Fath al-Qarib karya Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi terdapat panduan salat istisqa yang akan kita uraikan pada tulisan kali ini.
Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi menyatakan bahwa hukum melaksanakan ibadah ini adalah sunah bagi umat Islam, baik yang menetap di suatu wilayah maupun yang sedang bepergian (musafir). Kita sangat membutuhkan ibadah ini ketika hujan tidak kunjung turun atau sumber mata air mulai mengering. Apabila hujan belum juga turun, umat Islam boleh mengulang salat istisqa kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya sampai Allah Swt. mengabulkan permohonan tersebut.

Baca juga: Sembilan Tuntunan Sebelum Melakukan Perjalanan Jauh

Langkah-langkah Sebelum Salat Istisqa


Sebelum masyarakat melaksanakan salat istisqa, pemimpin wilayah atau imam hendaknya mengajak segenap masyarakat untuk melakukan beberapa persiapan penting. Hal ini bertujuan agardoa yang mereka panjatkan segera terkabul di sisi Allah Swt. lantaran hati yang telah bersih.
Kitab Matan Taqrib menyebutkan hal ini secara jelas:


فيأمرهم الإمامُ بالتوبة والصدقة، والخروج من المظالم ومصالحة الأعداء، وصيام ثلاثة أيام

“Maka imam memerintahkan mereka untuk bertaubat, bersedekah, melepaskan diri dari kezaliman (terhadap sesama hamba), berdamai dengan musuh, dan berpuasa tiga hari.”


Sehingga, selama tiga hari berturut-turut sebelum jadwal pelaksanaan salat, setiap muslim hendaknya bertaubat dari segala dosa. Selain itu, mereka harus memperbanyak sedekah, mengembalikan hak orang lain yang pernah mereka ambil secara zalim, serta berdamai dengan orang-orang yang bermusuhan dengan mereka. Kemudian, mereka melaksanakan puasa selama tiga hari tersebut.
Selanjutnya, pada hari keempat, masyarakat berangkat menuju tempat salat. Ketika mereka keluar rumah menuju lapangan, mereka harus tetap dalam keadaan berpuasa. Lebih lanjut, para jama’ah ketika berangkat hendaknya memakai pakaian kerja sehari-hari yang sederhana (bithlah). Mereka tidak perlu memakai wewangian dan tidak pula menghias diri. Bahkan, saat berjalan pun hendaknya dengan penuh kekhusyukan dan rasa tunduk kepada Allah. Tak lupa, mereka juga dianjurkan membawa anak-anak kecil, orang-orang tua renta, hingga hewan-hewan ternak ke tanah lapang.

Praktik Salat Istisqa dan Khutbahnya


Setelah semua orang berkumpul di lapangan, imam atau wakilnya memimpin praktik salat istisqa sebanyak dua rakaat. Tata cara salat meminta hujan ini sangat mirip dengan salat Idulfitri atau Iduladha. Untuk niatnya adalah sebagaimana berikut:


أُصَلِّيْ سُنَّةَ الاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا /إِمَامًا لِلهِ تَعَالَى

“Aku berniat shalat sunnah minta hujan dua rakaat sebagai makmum (atau imam), karena Allah Swt.”


Pada rakaat pertama, imam membaca takbir sebanyak tujuh kali setelah takbiratul ihram.
Selanjutnya, pada rakaat kedua, imam membaca takbir sebanyak lima kali seraya mengangkat kedua tangannya.
Setelah imam dan jemaah menyelesaikan salat dua rakaat, khatib langsung berdiri dan menyampaikan dua khutbah. Sebagai catatan, rukun khutbah ini sama dengan rukun khutbah hari raya, tetapi khatib mengganti takbir pembuka dengan bacaan istighfar.
Khatib membaca istighfar sebanyak sembilan kali pada awal khutbah pertama dan tujuh kali pada awal khutbah kedua.
Bacaan istighfar tersebut berbunyi:


أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ.

Astaghfirullahal ‘adzim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih


“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi Yang Maha Berdiri Sendiri (mengurus seluruh makhluk), dan aku bertobat kepada-Nya.”
Kemudian, di tengah prosesi khutbah, khatib melakukan sebuah gerakan simbolis, sebagaimana penjelasan kitab Fath al-Qarib:


ويُحَوِّل الخطيب رداءه؛ فيجعل يمينه يساره، وأعلاه أسفله، ويُحَوِّل الناس أردِيتهم مثل تحويل الخطيب

“Dan khatib memutar (membalik) posisi selendangnya; ia menjadikan bagian kanannya ke kiri, dan bagian atasnya ke bawah, dan orang-orang (jemaah) memutar selendang mereka seperti putaran khatib.”

Baca juga: Lafal Sayyid al-Istighfar, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya secara Sempurna

Doa Salat Istisqa


Saat menyampaikan khutbah, khatib hendaknya memperbanyak bacaan doa salat istisqa dan istighfar. Khatib bisa membaca doa secara pelan maupun dengan suara keras. Ketika khatib mengeraskan suaranya, maka jemaah mengucapkan amin bersama-sama. Selain itu, khatib juga membaca Surat Nuh ayat 10-11 yang berisi janji Allah untuk menurunkan hujan lebat bagi hamba-Nya yang beristighfar.
Sebagai tambahan, kitab Fath al-Qarib menukil bacaan doa salat istisqa yang cukup panjang dari Rasulullah saw.:


اللهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلاَ تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلاَ مَحْقٍ، وَلاَ بَلاَءٍ، وَلاَ هَدْمٍ. وَلاَ غَرقٍ؛ اللهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ وَالآكَامِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ، وبُطُونِ الأَوْدِيَةِ؛ اللهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اللهُمَّ اسْقِنا غَيْثًا مُغيثًا. مَرِيئًا مَرِيعًا، سَحَّا عَامًّا، غَدَقًا طَبَقًا, مُجَلِّلًا دَائِمًا إلَى يَوْمِ الدِّينِ؛ اللهُمَّ اسْقِنَا الغَيْثَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ. اللهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالبِلاَدِ مِنَ الْجُهْدِ وَالْجُوعِ وَالضَّنْكِ مَا لاَ نَشْكُو إِلاَّ إِلَيكَ. اللهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ. وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا لاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ؛ اللهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا

Terjemah Doa

“Ya Allah, jadikanlah ini siraman rahmat, dan jangan Engkau jadikan siraman azab, kebinasaan, bala, kehancuran, dan tenggelam. Ya Allah, (turunkanlah hujan) di atas bukit-bukit, dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan perut-perut lembah. Turunkanlah hujan di sekitar kami dan jangan membahayakan kami. Siramilah kami dengan hujan yang menolong, yang menyegarkan, yang menyuburkan, yang lebat dan merata. Yang deras menutupi bumi, yang senantiasa turun hingga hari kiamat. Berilah kami hujan dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang putus asa.

Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan, yang kami tidak mengadu kecuali kepada-Mu. Tumbuhkanlah tanaman untuk kami, perbanyaklah air susu perahan untuk kami. Turunkanlah kepada kami berkah dari langit, tumbuhkanlah untuk kami berkah dari bumi. Dan singkirkanlah dari kami bencana yang tidak ada yang bisa menyingkirkannya selain Engkau. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, maka turunkanlah hujan yang lebat dari langit kepada kami.”

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses