Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan dalam hidupnya. Oleh karena itu, ketika seorang hamba ingin kembali memohon ampunan kepada Allah, ia sangat perlu memperbanyak bacaan istighfar. Dari sekian banyak lafal ampunan, kita mengenal satu doa dan dzikir yang paling mulia. Bahkan, ulama menyebut lafal ini sebagai Sayyid al-Istighfar atau rajanya istighfar. Selanjutnya, artikel ini membahas seluk-beluk Sayyid al-Istighfar secara lengkap. Oleh sebab itu, mari kita pelajari lafal Sayyidul Istighfar, keutamaan, dan cara mengamalkannya dengan sempurna.
Baca juga: Wirid Setelah Sholat Lima Waktu
Lafal Bacaan Sayyid al-Istighfar
Para ulama sangat menganjurkan kita untuk menghafal serta merutinkan lafal Sayyid al-Istighfar ini. Karena, bacaan ini mengandung makna pengakuan tauhid dan kelemahan manusia yang sangat mendalam. Berikut ini adalah teks doa dan dzikir Sayyid al-Istighfar beserta tulisan Latin dan terjemahannya:
اللَّهُمَّ أنْتَ رَبّي لا إِلهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ، وأنا على عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا صَنَعْتُ، أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عليَّ وأبُوءُ بِذَنْبي، فاغْفِرْ لي فإنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أنْتَ
Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa-anā ‘abduka, wa-anā ‘alā ‘ahdika wa-wa‘dika mā istaṭa‘tu, a‘ūdhu bika min sharri mā ṣana‘tu, abū’u laka bini‘matika ‘alayya wa-abū’u bidhanbī, faghfir lī fa-innahū lā yaghfiru al-dhunūba illā anta.
“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang teguh pada janji dan perjanjian-Mu semampuku. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui segala nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosa-dosaku. Maka, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
Baca juga: Sembilan Tuntunan Sebelum Melakukan Perjalanan Jauh
Keutamaan Membaca Sayyid al-Istighfar
Banyak umat Islam sering bertanya mengenai keutamaan doa dan dzikir yang satu ini. Mengenai hal ini, Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkaar meriwayatkan sebuah hadis yang menjelaskan keutamaan Sayyid al-Istighfar secara gamblang.
Perhatikan riwayat berikut ini:
وروينا في صحيح البخاري أيضًا، عن شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبيّ ﷺ قال: سَيِّدُ الاسْتغْفارِ أنْ يقُولَ العَبْدُ: اللَّهُمَّ أنْتَ رَبّي لا إِلهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ، وأنا على عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا صَنَعْتُ، أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عليَّ وأبُوءُ بِذَنْبي، فاغْفِرْ لي فإنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أنْتَ؛ مَنْ قَالَهَا بالنَّهارِ مُوقِنًا بِها فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ موقِن بها فَمَاتَ قَبْلَ أنْ يُصْبحَ فَهُوَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ.
Artinya: “Dan kami riwayatkan dalam Shahih Bukhari juga, dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda: Sayyid al-Istighfar adalah ketika seorang hamba mengucapkan: ‘Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku… (hingga akhir doa)’. Barangsiapa mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal pada hari itu sebelum sore hari, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal sebelum pagi hari, maka ia termasuk penghuni surga.”
Melalui hadis tersebut, kita mengetahui jaminan surga bagi siapa saja yang merutinkan membaca Sayyid al-Istighfar. Namun, kita harus membacanya dengan hati yang penuh keyakinan. Sehingga, doa dan dzikir ini benar-benar meresap ke dalam jiwa pembacanya.
Baca juga: Bacaan Doa Setelah Tasyahud Akhir, Teks Arab, Latin, dan Terjemahnya
Meraih Istighfar Yang Sempurna
Setelah mengetahui lafal dan keutamaan Sayyid al-Istighfar, kita juga harus mengerti cara meraih kesempurnaan dalam beristighfar. Dalam hal ini, Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Fath al-Mubin Syarh Arbain memberikan penjelasan mengenai adab beristighfar.
Beliau menjelaskan:
والحاصل أنه يطلب للمستغفر بلسانه أن يكون ملاحظًا لهذه المعاني بجنانه ليفوز بنتائج الاستغفار فإن لم يتيسر له ذلك فيستغفر بلسانه ويجاهد نفسه على ما هنالك فالميسور لا يسقط بالمعسور ولعل ببركة المداومة على الاستغفار باللسان مع المجاهدة أن يفوز بالكمال
“Kesimpulannya, orang yang beristighfar dengan lisan, hendaknya menuntut agar hatinya senantiasa menyadari makna-makna tersebut, sehingga ia memperoleh buah dan hasil dari istigfar. Apabila hal itu belum dapat dilakukan, hendaknya ia tetap beristigfar dengan lisannya seraya berusaha sungguh-sungguh melatih dirinya untuk menghadirkan makna-makna tersebut. Sebab, sesuatu yang masih dapat dilakukan tidak gugur hanya karena adanya sesuatu yang sulit dilakukan. Barangkali, dengan keberkahan membiasakan istigfar dengan lisan disertai kesungguhan melatih diri, ia akan memperoleh kesempurnaan.”
Berdasarkan penjelasan Imam Ibnu Hajar tersebut, seorang hamba wajib menyelaraskan ucapan lisan, tindakan, dan kesadaran hatinya. Meskipun hati kita kadang masih sulit fokus, kita tidak boleh berhenti mengucapkan doa dan dzikir ini. Sebab, lisan yang terus memanjatkan Sayyid al-Istighfar perlahan-lahan akan membimbing hati menuju kesempurnaan bertaubat.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
