Sembilan Tuntunan Sebelum Melakukan Perjalanan Jauh

Tuntunan Sebelum Melakukan Perjalanan Jauh Tuntunan Sebelum Melakukan Perjalanan Jauh

Bepergian merupakan kegiatan yang sering kita lakukan. Baik perjalanan jauh maupun dekat. Namun, seorang muslim tetap perlu memperhatikan adab dan tuntunan sebelum melakukan perjalanan jauh. Seperti dalam kitab Majmu’ Syarh al-Muhazzab misalnya. Dalam kitab tersebut Imam an-Nawawi menjelaskan sembilan tuntunan yang perlu kita perhatikan sebelum melakukan perjalanan jauh.

Bermusyawarah Sebelum Bepergian

Ketika hendak melakukan perjalanan, sunah bagi kita bermusyawarah dengan orang yang kuat agamanya, pengalamannya, dan pengetahuannya. Terutama, orang yang memahami kondisi perjalanan pada waktu itu.

Orang yang kita mintai pertimbangan juga hendaknya mau memberikan nasihat. Ia perlu menghindari kepentingan pribadi dan hawa nafsu ketika memberikan saran.

Allah Swt. berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”

Melaksanakan Salat Istikharah

Setelah cukup memantapkan niat untuk bepergian, maka sunah bagi kita melakukan istikharah kepada Allah Swt.

Caranya, adalah dengan melaksanakan dua rakaat salat sunah. Setelah itu membaca doa istikharah.

Baca juga: Bacaan Doa Setelah Tasyahud Akhir, Teks Arab, Latin, dan Terjemahnya

Bertaubat dan Menyelesaikan Hak Orang Lain

Ketika kita telah memantapkan niat untuk melakukan perjalanan, seperti untuk haji maupun keperluan lainnya, hendaknya kita memulai persiapannya dengan bertaubat.

Jadi, kita perlu bertaubat dari seluruh maksiat dan perkara makruh yang telah lampau.

Selain itu, kita perlu menyelesaikan berbagai hak orang lain yang jadi tanggungan. Seperti membayar utang yang masih mampu kita lunasi.

Intinya, kita perlu meminta kehalalan kepada setiap orang yang memiliki hubungan muamalah atau pertemanan dengan kita.

Tidak hanya itu. Kita juga perlu meninggalkan nafkah yang cukup bagi keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggungan. Nafkah tersebut kita berikan sampai nanti kembali dari perjalanan.

Meminta Kerelaan Orang Tua

Selanjutnya, kita juga perlu memperhatikan kerelaan kedua orang tua. Bukan hanya itu saja, tapi juga perlu memperhatikan orang-orang yang wajib kita taati. Seperti seorang istri kepada suami misalnya.

Baca juga: Login Medsos bagi Wanita yang sedang Berkabung, Bolehkah?

Memastikan Bekal Berasal dari Harta yang Halal

Kemudian, ketika kita bepergian untuk haji, atau keperluan lainnya, maka bekal bawaan kita harus berasal dari harta halal. Bahkan kita juga perlu memastikan harta tadi bersih dari perkara syubhat.

Sebab, apabila seseorang menggunakan harta hasil rampasan untuk bepergian, ia telah melakukan maksiat.

Memperbanyak Bekal dan Memberikan Sebagian kepada Orang yang Membutuhkan

Seorang musafir yang melakukan perjalanan, terutama perjalanan yang membutuhkan bekal, disunahkan melebihkan bekal dan biaya perjalanan.

Sebab, sebagian bekal tersebut dapat kita gunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan di perjalanan.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan.”

Maksud dari sesuatu yang baik dalam ayat tersebut adalah sesuatu yang bagus. Sedangkan sesuatu yang buruk berarti sesuatu yang tidak baik.

Baca juga: Dzikir Setelah Subuh

Tidak Berlebihan Menawar Barang untuk Perjalanan Ibadah

Seorang muslim disunahkan meninggalkan sikap terlalu memperdebatkan harga ketika membeli kebutuhan perjalanan.

Hal tersebut berlaku ketika kita membeli perlengkapan untuk perjalanan. Terutama untuk perjalanan dalam rangka ibadah atau semacamnya. Anjuran ini juga berlaku pada berbagai bentuk ibadah dan kebaikan lainnya.

Tidak Menggabungkan Bekal Bersama Orang Lain

Anjuran berikutnya adalah tidak menggabungkan bekal, kendaraan, dan biaya perjalanan bersama milik orang lain. Sebab, kerja sama dalam perbekalan dapat membuat kita tidak leluasa menggunakan harta untuk sedekah dan kebaikan lainnya.

Kendati orang yang menjadi mitra mengizinkan, kita tetap tidak dapat memastikan bahwa izin tersebut akan terus berlaku.

Mempelajari Tata Cara Perjalanan yang Akan Dilakukan

Hal ini berlaku apabila kita hendak melakukan perjalanan untuk haji, atau keperluan lainnya. Maka, kita wajib mempelajari tata cara perjalanan tersebut. Hal ini penting karena ibadah tidak akan sah dari seseorang yang tidak mengetahui tata cara pelaksanaannya.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses