Banyak jalan menuju rida Allah Swt. Salah satunya melalui pengabdian dan kemanfaatan bagi sesama. Jalan inilah yang mengantarkan dua sahabat asal Desa Krenceng, Wonosobo, Krisdiyanto (50) dan Sudarsono (47), hingga akhirnya menjadi bagian dari sejarah berdirinya Pondok Lirboyo XIX Cabang Wonosobo.
Awal mula
Perjalanan tersebut bermula ketika keduanya memiliki keinginan untuk memperbaiki diri dengan menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Selama kurang lebih sepuluh bulan, mereka menjalani kehidupan yang lebih sederhana, berusaha memperbanyak ibadah sekaligus menebar kebaikan kepada sesama. Mereka membantu orang-orang yang membutuhkan, termasuk menolong dan menyediakan makanan bagi para musafir yang melintas.
Setelah masa tersebut berlalu, pada 2020 mereka kembali ke Desa Krenceng dan berkumpul dengan sahabat lama mereka, Giyanto. Pada tahun yang sama, kegiatan Safari Ramadan Pondok Pesantren Lirboyo menjadikan desa tersebut sebagai salah satu titik penempatan santri. Tanpa banyak pertimbangan, Krisdiyanto menawarkan diri menjadi penanggung jawab sekaligus penghubung bagi tiga santri yang akan bermukim di sana selama 24 hari Ramadan.
Baca juga: Sejarah Lengkap Berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo V Cabang Majalengka
Berkhidmah kepada orang berilmu
Kehadiran ketiga santri tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat sekitar, terutama Krisdiyanto yang menyediakan tempat tinggal bagi mereka. Interaksi selama kegiatan Safari Ramadan itu perlahan menumbuhkan kedekatan emosional dengan Pondok Lirboyo. Dari sinilah muncul keinginan untuk memberikan manfaat yang lebih luas, bukan hanya melalui bantuan sementara, melainkan dengan mewakafkan tanah untuk mendirikan pesantren.
Menariknya, sebelum mengenal Lirboyo lebih jauh, Krisdiyanto mengaku belum mengetahui banyak tentang pesantren tersebut. Keinginannya untuk mewakafkan tanah justru berangkat dari kesan baik terhadap ketiga santri yang tinggal di rumahnya. Melalui perantara mereka, ia kemudian berkenalan dengan KH Ali Ridho, alumni Lirboyo tahun 1997. Kepada beliau, Krisdiyanto menyampaikan niatnya untuk mewakafkan tanah seluas 5.200 meter persegi bagi Pondok Pesantren Lirboyo.
Tindak lanjut kepada Pengurus Himasal
Niat tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui komunikasi dengan jajaran alumni. KH Ali Ridho menghubungi Ketua PC Himasal Wonosobo saat itu, KH Fadlun Yuri. Selanjutnya, KH Fadlun menjalin komunikasi dengan Pondok Lirboyo pusat untuk menyampaikan rencana pendirian pondok cabang di Wonosobo.
“Kiai Ali kemudian berkomunikasi dengan Ketua PC Himasal Wonosobo yang pada waktu itu diketuai oleh KH Fadlun Yuri. Kiai Fadlun ini yang kemudian berkomunikasi dengan Pondok Lirboyo pusat dan alhamdulillah semuanya lancar sampai hari ini,” ungkap KH Fuad.
Selain melalui jalur komunikasi tersebut, KH Ali Ridho juga mengantarkan Krisdiyanto beserta kedua sahabatnya untuk bertemu dengan Ketua Himasal Wilayah Jawa Tengah sekaligus pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, KH Nur Machin Chudlori. Pertemuan ini menjadi bagian dari ikhtiar mematangkan rencana pendirian pesantren.
Ikrar Wakaf di Hadapan Masyayikh Lirboyo
Proses pendirian pesantren semakin menemukan titik terang pada 2021. Saat itu, rombongan alumni, wakif, beserta sahabat dan keluarga berkunjung ke Pondok Lirboyo untuk melaksanakan ikrar tanah wakaf di hadapan masyayikh, KH M. Anwar Manshur dan KH Abdulloh Kafabihi Mahrus.
Ikrar wakaf tersebut dilaksanakan bersamaan dengan pengajuan sejumlah pondok cabang lainnya. Dalam dokumen wakaf, KH Anwar Manshur bertindak sebagai nadzir, sedangkan Krisdiyanto tercatat sebagai wakif. Melalui proses tersebut, usulan pendirian Pondok Lirboyo di Wonosobo mendapat persetujuan dari masyayikh.
Selain Krisdiyanto, terdapat seorang wakif lain bernama H. Slamet Raharjo yang turut mewakafkan tanah di sebelah barat lahan tersebut. Tanah yang diwakafkan itu diperuntukkan bagi pembangunan masjid pesantren. Meski pada awalnya belum disertifikasi, keluarga dan ahli waris H. Slamet telah menyetujui penggunaan tanah tersebut untuk dibangun masjid.
Menurut keterangan KH Fuad, wakaf H. Slamet tidak dibatasi secara khusus luas penggunaannya. Dalam ikrar yang disampaikan, tanah tersebut dipersilakan untuk digunakan secukupnya bagi kepentingan pembangunan. Adapun lahan yang telah digunakan untuk pembangunan masjid mencapai sekitar 800 meter persegi.
Baca juga: Sejarah Lengkap Berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo V Cabang Majalengka
Masjid Menjadi Bangunan Pertama
Setelah proses perizinan dengan Pondok Lirboyo pusat selesai, pembangunan pesantren mulai direncanakan. Namun, ada satu pesan penting dari KH Anwar Manshur yang kemudian menjadi pedoman dalam tahap awal pembangunan.
“Ada dawuh dari Mbah Yai Anwar, kalau ingin membangun pondok, bangunlah masjidnya dulu,” tutur KH Fuad.
Pesan tersebut menjadi landasan untuk mendahulukan pembangunan tempat ibadah sebelum fasilitas lainnya. Kebetulan, pada saat bersamaan Krisdiyanto menyampaikan kabar mengenai tambahan tanah wakaf dari H. Slamet Raharjo yang memang disyaratkan untuk pembangunan masjid.
Dengan adanya dua bidang tanah wakaf tersebut, pembangunan pesantren mulai diwujudkan. Pada 2022, pembangunan masjid beserta fasilitas pendukungnya, seperti kamar mandi dan WC, mulai dilaksanakan. Seluruh biaya pembangunan masjid tersebut ditanggung oleh Feri Atanta, seorang pengusaha asal Desa Mulyosari, Kecamatan Kertek, Wonosobo beserta para muhibbin Pondok Lirboyo.
Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan oleh Abuya KH Abdulloh Kafabihi Mahrus. Setelah melalui proses pembangunan, masjid tersebut akhirnya diresmikan penggunaannya pada 20 April 2024, bertepatan dengan 1 Syawal 1445 H.
Selesainya pembangunan masjid menjadi langkah awal bagi pesantren untuk melengkapi sarana pendidikan. Atas mandat KH Nur Machin Chudlori bersama para sesepuh Himasal Jawa Tengah, tanggung jawab pembangunan asrama dan ruang kelas dipercayakan kepada KH Ali Ridho dan KH Fuad.
Pada tahun 2021, keduanya kemudian menggalang dana dari para alumni Lirboyo asal Karesidenan Kedu dan Banjarnegara, serta para muhibbin Pondok Lirboyo. Dalam proses tersebut, Krisdiyanto juga terus memberikan dukungan, baik berupa pemikiran maupun materi. Keterlibatannya yang konsisten menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan pembangunan pesantren.
Pembangunan asrama dan ruang kelas berlangsung secara bertahap hingga 2024. Karena keterbatasan dana, pembangunan fisik belum dapat dilanjutkan pada 2025. Pada tahun tersebut, perhatian lebih diarahkan untuk melengkapi fasilitas pondok dan madrasah. Sementara itu, pada 2026, penanggung jawab pembangunan pondok kembali merencanakan pembangunan kamar mandi di belakang asrama. Untuk sementara, kebutuhan MCK santri masih memanfaatkan fasilitas WC masjid.
Baca juga: Satu Pengurus Mengawasi 13 Santri, Begini Sistem Pendampingan di Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka
Dari 11 Santri TPQ Menjadi Pondok Zonasi
Setelah asrama dan ruang kelas selesai dibangun, kegiatan pendidikan mulai dibuka. Saat ini, tersedia tiga kamar santri dan empat ruang kelas. Pondok juga mendapatkan bantuan dua guru dari Pondok Lirboyo pusat untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Pada masa awal pembukaan, kegiatan pendidikan diikuti oleh 11 santri TPQ yang berasal dari anak-anak masyarakat sekitar. Kehadiran mereka menjadi awal berjalannya aktivitas pendidikan di lingkungan pesantren yang sebelumnya dibangun melalui semangat wakaf dan gotong royong.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan pendidikan terus berkembang. Setelah kurang lebih satu tahun berjalan, Pondok Pesantren Lirboyo XIX Cabang Wonosobo kemudian diarahkan menjadi pondok zonasi. Perubahan tersebut diresmikan langsung oleh KH Abdulloh Kafabihi Mahrus pada Senin, 4 Mei 2026. Acara peresmian dihadiri oleh keluarga besar Pondok Lirboyo serta para alumni yang tergabung dalam Himasal Karesidenan Kedu.
Dengan status sebagai pondok zonasi, Lirboyo XIX Cabang Wonosobo menjadi tempat pembinaan bagi santri dari wilayah yang telah ditentukan, khususnya mereka yang belum memenuhi kriteria untuk langsung menempuh pendidikan di pondok induk. Melalui sistem tersebut, santri mendapatkan kesempatan untuk memperkuat kemampuan dasar sebelum melanjutkan pendidikan sesuai ketentuan Pondok Lirboyo pusat.
Hingga 2026, Pondok Pesantren Lirboyo XIX Cabang Wonosobo telah menampung 98 santri mukim dengan dukungan 13 pengurus. Jenjang pendidikan yang tersedia meliputi kelas III dan IV Ibtidaiyyah serta I’dadiyyah 1 (SP 1).
Baca juga: Sejarah Lengkap Berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo VII Cabang Demak
Penutup
Perjalanan pesantren ini menunjukkan bahwa sebuah lembaga pendidikan tidak selalu bermula dari bangunan megah atau fasilitas yang lengkap. Terkadang, ia tumbuh dari pertemuan sederhana, kesan baik terhadap para penuntut ilmu, dan keinginan seseorang untuk mewakafkan sebagian hartanya demi kemanfaatan yang lebih panjang. Dari tiga santri yang bermukim selama Safari Ramadan, tumbuh sebuah ikhtiar yang kini menjadi tempat menimba ilmu bagi puluhan santri di Wonosobo.
Referensi
- Wawancara eksklusif bersama wakif, Krisdiyanto dan kedua sahabatnya.
- Wawancara eksklusif bersama penanggung jawab pembangunan pondok, KH Fuad (Beliau mengenyam Pendidikan di Lirboyo sampai kelas VI Ibtidaiyyah [sekarang III Tsanawiyyah, jika tamat, berarti tamatan 2015], dengan menjadi penanggung jawab pembangunan, beliau harap bisa tercatat sebagai pembelajaran dan khidmah kepada masyayikh Lirboyo yang sempat terhenti.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
