Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Bagi Orang Awam

Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu

Pada dasarnya, banyak di antara kita yang sering kali merasa berkecil hati saat menghadiri majelis ilmu atau kajian keagamaan, hal itu dikarenakan kesulitan untuk memahami apalagi menghafal materi yang disampaikan oleh sang alim. Rasa pesimis ini terkadang membuat seseorang enggan untuk kembali melangkahkan kaki ke majelis-majelis keilmuan. Syariat memberikan penghargaan yang sangat tinggi bagi siapa saja yang berniat dan berjuang mendatangi ilmu, terlepas dari sejauh mana daya tangkap memorinya.

Bagi kita yang ingin tetap meraih keberkahan hidup melalui jalan ilmu, memahami keutamaan niat dan kehadiran ini sangatlah penting. Berdasarkan keterangan para ulama, terdapat setidaknya tujuh kemuliaan (karamah) khusus yang Allah berikan kepada seseorang yang hadir di majelis ilmu, bahkan ketika ia tidak mampu menghafal satu kata pun dari apa yang disampaikan oleh gurunya.

Baca juga: Keteladanan Para Ulama dalam Mengatur Waktu

Tujuh Keutamaan Hadir di Majelis Ilmu Bagi yang Tidak Mampu Menghafal atau Mengerti Isi Kajian

Pertama, Mendapatkan Pahala Para Penuntut Ilmu

Ketika kita melangkahkan kaki dan duduk di hadapan seorang ulama, kita secara otomatis dicatat mendapatkan keutamaan dan pahala sebagaimana orang-orang yang belajar (orang yang menuntut ilmu), meskipun kita tidak membawa pulang hafalan materi.

Kedua, Terjaga dari Perbuatan Dosa dan Kesalahan

Selama kita berada dan duduk diam di majelis tersebut, waktu kita terbentengi dari potensi melakukan perbuatan maksiat maupun dosa-dosa lainnya.

Ketiga, Dinaungi Rahmat Sejak Keluar dari Rumah

Sesaat setelah kita melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah menuju majelis ilmu, limpahan rahmat Allah Swt. langsung turun dan menyertai perjalanan kita.

Keempat, Mendapat Perolehan Berkah Rahmat yang Turun pada Sang Alim

Saat rahmat Allah Swt. turun melimpah kepada guru atau ulama yang sedang mengajar, kita yang duduk di dekatnya turut tertetesi dan merasakan limpahan keberkahan rahmat tersebut.

Kelima, Pahala Kebaikan Terus Mengalir Selama Mendengarkan

Setiap detik yang kita habiskan untuk duduk menyimak dan mendengarkan nasehat atau pengajaran agama, catat pahala kebaikan terus dituliskan untuk kita.

Keenam, Dikelilingi dan Dinaungi oleh Sayap Para Malaikat

Para malaikat bersikap tawadhu’ dan menghormati majelis ilmu dengan membentangkan sayap-sayap mereka. Kita yang berada di dalam majelis tersebut ikut berada dalam naungan suci para malaikat.

Ketujuh, Setiap Langkah Kaki Menjadi Pelebur Dosa dan Pengangkat Derajat

Setiap satu langkah kaki yang kita angkat dan kita letakkan menuju tempat kajian berfungsi sebagai pelebur dosa-dosa masa lalu, peninggi derajat di sisi Allah, serta pembuat bobot kebaikan kita semakin bertambah.

Selain dari tujuh keutamaan di atas, fasilitas kemuliaan ini baru diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu menghafal. Ada pun bagi kita yang diberi kelebihan untuk mampu memahami dan menghafal materi kajian, maka balasan pahala dan keutamaannya akan berlipat ganda jauh melebihi itu semua.

Kajian Kitab Syafiiyyah perihal Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu

Keterangan menyeluruh mengenai kesunahan dan keutamaan ini terekam secara jernih oleh ulama terkemuka, Syekh Sayyid Bakri Shatha Ad-Dimyati dalam kitabnya I‘ānatus Thālibīn:

ويقال: من ذهب إلى عالم وجلس عنده ولم يقدر على حفظ شئ مما قاله أعطاه الله سبع كرامات. أولها: ينال فضل المتعلمين. وثانيها: ما دام عنده جالسا كان محبوسا عن الذنوب والخطايا. وثالثها: إذا خرج من منزله نزلت عليه الرحمة. ورابعها: إذا جلس عنده نزلت الرحمة على العالم فتصيبه ببركته. وخامسها: تكتب له الحسنات ما دام مستمعا. وسادسها: تحفهم الملائكة بأجنحتهم وهو فيهم. وسابعها: كل قدم يرفعها ويضعها تكون كفارة للذنوب ورفعا للدرجات وزيادة في الحسنات. هذا لمن لم يحفظ شيئا، وأما الذي يحفظ فله أضعاف ذلك مضاعفة  

Artinya:

“Dan dikatakan: Barangsiapa pergi menuju seorang alim lalu duduk di sisinya, sedangkan ia tidak mampu menghafal satu pun dari apa yang diucapkannya, maka Allah akan mengaruniakannya tujuh kemuliaan. (1) Ia meraih keutamaan orang-orang yang belajar. (2) Selama ia duduk di sisi sang alim, ia terbentengi dari dosa dan kesalahan. (3) Ketika ia keluar dari rumahnya, rahmat turun kepadanya. (4) Ketika ia duduk di sisi sang alim, rahmat turun kepada alim tersebut lalu mengenai dirinya berkat keberkahannya. (5) Dicatat baginya kebaikan-kebaikan selama ia mendengarkan. (6) Para malaikat melingkupi mereka dengan sayap-sayapnya dan ia berada di antara mereka. Dan (7) Setiap langkah kaki yang diangkat dan diletakkannya menjadi pelebur dosa, peninggi derajat, serta penambah kebaikan. Ini semua bagi orang yang tidak mampu menghafal sesuatu pun. Ada pun orang yang mampu menghafal, maka baginya berlipat-lipat ganda dari hal tersebut.”

Baca juga: Arti Till Jannah dan Syarat Unggul Pasutri Bisa Bersama di Surga Menurut Ulama

Referensi:

I‘ānat ath-Thālibīn ‘alā Hilli Alfāzhi Fath al-Mu‘īn karya Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati Ash-Syafi’i (w. 1310 H).

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses