CERPEN: Elegi
Tubuh bergetar. Kegelapan menelan cahaya. Duka mencabik tawa. Kami harus kehilangan, lagi dan lagi. Tempat itu sangat mengerikan. Lebar dan dalam bagai gua, di bagian dalamnya terdapat jeruji-jeruji putih beraturan. Saat gua itu menutup, jeruji-jerujinya bergerak, mencabik-cabik tubuh teman kami tanpa kasih, hingga hancur tak berbentuk. “Kau lihat itu? Donat sudah dilumat habis!” seru Donat…
