Hubbul wathan (cinta tanah air) dapat memiliki makna; sebagai wujud pengabdian pribadi seseorang kepada negara. Namun, cara mengartikulasikan cinta tanah air ini berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang dan latar belakang seseorang.
Baca Juga: Resensi; Hukum Musik dalam Islam
Dari sudut pandang santri, cinta tanah air dapat kita wujudkan melalui khidmah—pengabdian tulus tanpa pamrih—baik kepada masyarakat maupun kepada negara. Bentuknya bisa berupa:
- Mengadakan pengajian di masjid
- Melaksanakan tahlil dan sholawatan
- Melakukan ziarah kubur
- Ibadah-ibadah spiritual lainnya yang berdampak positif secara sosial dan batiniah
Baca Juga: Manfaat Ilmu Pengangkat Derajat Penyebab Kehancuran
Khidmah Kepada Tanah Air
Sebagaimana dalam kitab Tahliyah wa Targhib, khidmah terhadap negara adalah jalan menuju kesempurnaan:
“من خدمة الوطن العزيز على وجه الأكمل : فإنّ الجاهل تصرفه كلها رديئة لا يعرف مافيه المنفعة فلا سبيل إلى نفع الوطن إلابالتّعلم”
Artinya: Barang siapa berkhidmah kepada tanah air dengan sungguh-sungguh, maka ia akan menemukan jalan kesempurnaan. Sebaliknya, orang bodoh akan berperilaku tanpa manfaat karena tidak mengetahui apa yang berguna; maka tidak ada jalan memberi manfaat kepada tanah air kecuali dengan belajar.
Baca Juga: Makna Cinta dalam Al-Qur’an: Pelajaran dari Surat Quraisy
Belajar dan Mengajar
Santri menunjukkan cinta tanah air juga melalui proses belajar. Karena menurut KH. Ahmad Idris Marzuqi:
“aku luweh seneng santri seng gak patiyo ngalim tapi gelem khidmah, dibandingke seng ngalim tapi ora gelem Khidmah.”
(Aku lebih senang pada santri yang tidak terlalu pintar, tapi mau berkhidmah, daripada yang pintar tapi enggan berkhidmah.)
Bagi santri, ilmu saja belum cukup. Karena Ilmu itu harus bermanfaat, dan setelah itu akan hadir berkah. Karena keberkahan hadir ketika ilmu dia amalkan untuk kemaslahatan orang lain.
Baca Juga: Pemindahan Ibukota; Perspektif Qoaidul Fiqih
Dalam proses menuntut ilmu, santri juga harus memenuhi enam syarat sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Burhanuddin dalam kitab Ta’limul Muta’allim:
“ألا لا تنال العلم إلا بستة
سأنبيك عن مجموعها ببيان
ذكاء وحرص واصطبار وبلغة
وإرشاد أستاذ وطول الزمان”
Artinya: Ingatlah! ilmu tidak akan diraih kecuali dengan enam hal: kecerdasan, semangat, kesabaran, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.
Pada akhirnya, cinta tanah air bagi santri adalah dengan memperbaiki diri melalui ilmu, lalu memperbaiki masyarakat dengan ilmu yang ia amalkan. Seperti yang Sayyid Muhammad Al-Maliki jelaskan:
“والمعرفة فإنهما يرشدان الإنسان إلى الرغبة في محبة أهل الوطن”
Melalui pengetahuan, manusia akan diarahkan untuk mencintai penduduk dan tanah airnya.
“والسعي فيما ينفعهم ويرفعهم، وتعميم العلوم والمعارف بينهم”
Dan berusahalah memberi manfaat, mengangkat derajat bangsa, juga menyebarkan ilmu dan pengetahuan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Cara Melestarikan Alam dalam Agama Islam
Sama halnya dengan dawuh yang telah masyhur kita dengar, yakni dawuh dari Muasis Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim:
“Santri sing durung saget nulis lan maca kudu sekolah.”
(Santri yang belum bisa membaca dan menulis (maka) harus sekolah.)
* Penulis bernama; M Ihya Ulumuddin yang merupakan santri kelas 3 TSN pada tahun ajaran 2024-2025 M. kamar HMC 25
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
